IHSG Terkoreksi Ke 7.106, Saham Bongsor Tertekan Saat Rebalancing Mengguncang Pasar

Author: Redaksi Android62

Tekanan pada saham berkapitalisasi besar kembali menjadi penentu arah IHSG hingga indeks ditutup melemah di level 7.106,520. Meski lebih banyak saham bergerak naik, pergerakan bursa tetap terseret karena aksi jual pada emiten berbobot besar membuat pasar kehilangan tenaga di penghujung perdagangan.

Situasi itu membuat IHSG turun 22,969 poin atau 0,32 persen. Sepanjang sesi, indeks sempat berada di zona hijau, lalu bergerak naik hingga menyentuh 7.230,032 sebelum berbalik arah dan turun ke titik terendah harian menjelang penutupan.

Rebalancing jadi pemicu utama

Pelemahan indeks terutama dikaitkan dengan proses rebalancing di bursa. Investment Specialist PT Korea Investment dan Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, menilai penyesuaian komposisi indeks membuat pasar bergerak lebih liar karena pelaku pasar lebih dulu merapikan posisi mereka.

Menurut Faris, dinamika itu berkaitan dengan rebalancing pada IDX30, LQ45, dan IDX80 setelah penerapan metode terbaru. Perubahan metode pemilihan konstituen yang kini ditambah kriteria high shareholding concentration atau HSC membuat perhatian investor tertuju pada saham-saham yang berpeluang masuk atau keluar dari daftar indeks tersebut.

Bagi pelaku pasar, proses seperti ini bukan sekadar penyesuaian administratif. Dana kelolaan dan investor institusi yang memakai indeks sebagai acuan harus mengatur ulang portofolio sebelum perubahan berlaku efektif, sehingga volatilitas meningkat lebih dulu di saham-saham yang terdampak.

BREN dan DSSA ikut memberi tekanan

Dampak rebalancing paling terasa pada saham berkapitalisasi besar. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi dua nama yang ikut tertekan karena pasar memperkirakan keduanya berpotensi keluar dari LQ45.

Faris menyebut betapa besar bobot kedua emiten tersebut membuat pergerakan pasar menjadi lebih sensitif. Ia mengatakan, “Hal tersebut membuat market volatil hingga hari efektif karena akan mendepak BREN dan DSSA dari LQ45 dengan kondisi market cap kedua emiten tersebut yang sangat besar.”

Tekanan pada dua saham itu ikut menarik IHSG ke zona merah. Kondisi ini menunjukkan bahwa arah indeks bisa berubah meski tidak seluruh saham bergerak lemah, selama saham-saham berbobot besar mengalami tekanan jual yang cukup kuat.

Mayoritas saham justru menguat

Di lantai bursa, jumlah saham yang naik sebenarnya lebih banyak dibandingkan yang turun. Bursa mencatat 408 saham menguat, 264 saham melemah, dan 147 saham stagnan, sehingga pergerakan harian tidak sepenuhnya mencerminkan pelemahan yang dialami indeks.

Data perdagangan juga menunjukkan aktivitas pasar tetap ramai. Volume transaksi tercatat 33,17 miliar saham, nilai transaksi mencapai Rp 16,57 triliun, dan kapitalisasi pasar berada di level Rp 12.715 triliun.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa IHSG tetap rentan tergelincir ketika tekanan terkonsentrasi pada kelompok saham tertentu. Selama saham-saham dengan kapitalisasi besar masih berada di tengah penyesuaian posisi, arah indeks berpeluang bergerak lebih sensitif dibandingkan gagasan umum tentang mayoritas saham yang sedang menguat.

Reshuffle kabinet tidak dinilai sebagai pemicu utama

Pada saat yang sama, Presiden Prabowo Subianto juga melakukan perombakan Kabinet Merah Putih. Namun, pasar dinilai tidak menjadikan langkah itu sebagai alasan utama pelemahan IHSG pada perdagangan tersebut.

Faris menilai respons pasar relatif tenang karena reshuffle itu tidak menyentuh sektor otoritas keuangan yang biasanya lebih sensitif terhadap sentimen pasar. Ia menambahkan bahwa reaksi pasar cenderung lebih kuat bila perombakan menyangkut Menteri Keuangan.

“Namun dari pejabat yang dilantik tidak ada pejabat yang memiliki sangkut paut dengan sektor keuangan, pelemahan tipis ini kami nilai murni karena masa rebalancing,” kata Faris.

Sejumlah pejabat dilantik pada pukul 15.00 WIB, antara lain Mohammad Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq sebagai Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Muhammad Qodari sebagai Kepala Bakom, Dudung Abdurachman sebagai Kepala Staf Kepresidenan, Abdul Kadir Karding sebagai Kepala Badan Karantina Indonesia, serta Hasan Nasbi sebagai Penasihat Khusus Presiden.

Dengan tekanan yang masih terkonsentrasi pada saham bongsor dan penyesuaian indeks yang belum selesai, pergerakan IHSG pada masa rebalancing ini masih sangat ditentukan oleh saham-saham berkapitalisasi besar di bursa.

Berita Terbaru