Matahari dan Bayangan, Saat Lukisan Imes Paskalia Membuka Luka yang Disembunyikan

Author: Redaksi Android62

Pameran tunggal Imes Paskalia bertajuk Matahari dan Bayangan menampilkan sekitar 50 karya di Paviliun Raden Saleh, ARTOTEL Curated, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran ini berlangsung hingga 16 Juli 2026 dan memusatkan perhatian pada pengalaman personal, kejujuran, luka, serta proses memahami diri lewat bahasa visual abstrak.

Salah satu karya yang paling mencolok di ruang pamer adalah Senja Biru (2025). Lukisan cat minyak itu menghadirkan sapuan jingga, merah muda, hitam, dan putih yang berputar di atas kanvas, dengan bidang biru di sudut kanan sebagai penyeimbang yang lebih tenang.

Bayangan yang justru dipakai untuk mengenali diri

Judul pameran ini lahir dari refleksi Imes tentang kedekatannya dengan bulan dan pencariannya terhadap matahari. Ia mengaku selama ini merasa lebih dekat dengan bulan, tetapi kemudian menyadari bahwa yang sebenarnya dicari adalah matahari.

“Selama ini aku merasa selalu belong to the moon. Tapi semakin ke sini aku sadar bahwa yang selama ini aku cari adalah matahari. Tapi aku terlalu takut mendekat ke matahari karena matahari akan menunjukkan bayangan gelap,” katanya.

Dari gagasan itu, bayangan tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang harus disingkirkan. Dalam pameran ini, bayangan justru menjadi bagian penting untuk membaca sisi gelap yang muncul saat seseorang berusaha memahami dirinya secara utuh.

Kanvas sebagai ruang yang lebih jujur

Imes, lulusan LASALLE College of the Arts, Singapura, memandang berkarya sebagai cara untuk mengucapkan hal-hal yang sulit disampaikan lewat percakapan. Menurutnya, kanvas memberi ruang yang lebih bebas untuk mengekspresikan isi batin tanpa berhadapan langsung dengan penilaian orang lain.

“Kalau dengan orang, aku merasa tidak pernah bisa sejujur itu. Tapi dengan kanvas, dengan aku berkarya, dengan aku menulis, itu aku benar-benar bisa,” ujarnya usai pembukaan pameran.

Gagasan utama pameran juga berangkat dari catatan harian yang ia tulis. Catatan itu kemudian dikembangkan bersama kurator Afrizal Malna menjadi rangkaian karya yang menautkan pengalaman pribadi dengan pembacaan yang lebih luas tentang manusia.

Karya-karya yang memetakan pergulatan batin

Sejumlah karya lain memperkuat arah pembacaan tersebut. Dalam White Noise (2017), Imes menyusun lapisan warna yang saling bertumpuk hingga membentuk lanskap abstrak dengan kesan kebisingan visual.

Sementara itu, The Soul Fractures (2025) menggunakan medium arang dan pensil untuk menghadirkan pusaran garis hitam yang menjadi metafora atas jiwa yang berusaha membaca retakan di dalam dirinya. Pendekatan monokrom pada karya ini menekankan rapuhnya pengalaman sekaligus upaya memahami luka.

Karya Tahun Medium Gambaran Utama
Senja Biru 2025 Cat minyak Sapuan warna dinamis dengan bidang biru yang tenang
White Noise 2017 Tidak disebutkan Lapisan warna bertumpuk dengan kesan kebisingan visual
The Soul Fractures 2025 Arang dan pensil Pusaran garis hitam sebagai metafora retakan jiwa

Imes juga menyebut pengalaman traumatis yang pernah dialaminya saat SMA dan berlanjut hingga masa kuliah ikut membentuk cara ia berkarya. Ia memilih mengolahnya menjadi bahasa visual yang terbuka untuk beragam tafsir.

“Ketika aku berkarya, aku bisa jadi apa pun. Kesakitanku tidak ada yang mempertanyakan atau menghakimi,” katanya.

Pembacaan kurator atas hubungan manusia dan bayangan

Afrizal Malna menilai praktik artistik Imes tidak berhenti pada pengakuan personal. Menurutnya, pameran ini mengajak pengunjung membaca cara manusia mengenali diri melalui bayangan, pantulan, dan bentuk representasi yang terus berubah.

Afrizal juga mengaitkan No Voice Screaming dengan The Scream karya Edvard Munch. Namun, ia menilai karya Imes bergerak ke arah lain karena lebih menonjolkan rasa sakit, perubahan, dan proses penerimaan diri.

“Dalam karya-karyanya ini Imes tidak sedang mempertontonkan teknologi, tetapi membangun koneksi manusia dengan manusia,” ujar Afrizal.

Di ruang pamer, sekitar 50 karya itu membentuk rangkaian yang memperlihatkan bagaimana ingatan, kegelisahan, dan pencarian identitas diolah menjadi pengalaman visual yang terbuka. Pameran Matahari dan Bayangan hadir sebagai ruang pertemuan antara pengalaman pribadi, tafsir kuratorial, dan respons publik di Jakarta.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terbaru