IMF Turunkan Ramalan Ekonomi Dunia 2026, Harga Energi Mengancam Pemulihan Global

IMF kembali memberi sinyal bahwa ekonomi dunia menghadapi jalan yang makin berat. Lembaga itu memangkas proyeksi pertumbuhan global untuk 2026 menjadi 3,1 persen, turun dari 3,3 persen yang dipatok pada Januari.

Revisi ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama akibat konflik di Timur Tengah. Dampaknya mulai terasa bukan hanya pada sentimen pasar, tetapi juga pada arah harga energi, biaya produksi, dan laju pemulihan ekonomi di banyak negara.

Harga energi menjadi pusat perhatian

IMF menilai lonjakan harga minyak kini menjadi salah satu penghambat utama pertumbuhan. Ketika harga energi naik, efeknya tidak berhenti di sektor minyak saja karena biaya distribusi dan produksi ikut terdorong lebih tinggi.

Kondisi itu kemudian merembet ke harga barang kebutuhan sehari-hari. Dalam laporan Prospek Ekonomi Dunia, IMF juga menaikkan perkiraan inflasi global seiring naiknya harga energi dan pangan.

Bagi rumah tangga, situasi ini berarti daya beli berpotensi semakin tertekan. Sementara bagi dunia usaha, beban operasional bisa naik dalam waktu yang tidak singkat karena biaya logistik dan bahan baku ikut bergerak naik.

Risiko dari konflik Timur Tengah makin luas

Ketegangan yang melibatkan Iran turut menambah kekhawatiran pasar terhadap keamanan infrastruktur energi di kawasan tersebut. IMF memperingatkan bahwa risiko resesi dapat semakin nyata jika perang di Timur Tengah berlangsung lebih lama dan mengganggu suplai energi dunia.

Kondisi ini membuat ekonomi global menjadi lebih sensitif terhadap setiap gangguan pasokan. Saat pasar tetap waspada, fluktuasi harga minyak bisa memengaruhi keputusan investasi, arah inflasi, dan kecepatan pemulihan di banyak negara.

Amerika Serikat merasakan tekanan harga grosir

Di Amerika Serikat, tekanan harga mulai terlihat pada level produsen. Indeks harga produsen naik 0,5 persen pada Maret, menandakan adanya kenaikan harga grosir di tengah kondisi pasar yang bergerak cepat.

Meski begitu, indikator inti yang tidak memasukkan pangan dan energi hanya naik 0,1 persen. Angka itu menunjukkan bahwa tekanan harga belum menyebar merata ke seluruh sektor ekonomi.

Perubahan di pasar energi juga tercermin dari aktivitas ekspor minyak Amerika Serikat. Pengiriman minyak mentah melonjak di atas 5 juta barel per hari dan mencetak level tertinggi sejak September 2025, karena pembeli mencari pasokan alternatif di luar Timur Tengah.

Eropa dan Inggris masih berupaya menjaga daya tahan

Ekonomi Inggris masih memperlihatkan ketahanan dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto sebesar 0,5 persen pada Februari. Sektor jasa menjadi penopang utama, sehingga aktivitas ekonomi mampu bertahan selama empat bulan berturut-turut meski tekanan eksternal belum mereda.

Di kawasan Eropa, Bank Sentral Eropa atau ECB diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 0,25 poin persentase pada Juni. Kebijakan itu diarahkan untuk meredam inflasi yang ikut terdorong ketegangan geopolitik di Iran sekaligus menjaga stabilitas ekonomi kawasan.

Asia dan kawasan lain menunjukkan pemulihan yang belum seragam

Dari Asia, ekonomi China pada kuartal pertama tercatat pulih lebih baik dari perkiraan. Penguatan itu ditopang sektor manufaktur dan ekspor, tetapi belanja konsumen domestik masih lemah sehingga pemulihan belum bisa disebut seimbang.

Perubahan peta ekonomi global juga tampak dari pergerakan pasar saham dan ukuran ekonomi di sejumlah kawasan. Nilai pasar saham Taiwan bahkan melampaui Inggris, dengan kapitalisasi pasar mencapai US$4,14 triliun dan menempatkannya sebagai pasar saham terbesar ketujuh di dunia.

Di Afrika sub-Sahara, Republik Demokratik Kongo diprediksi menyalip Ethiopia sebagai ekonomi terbesar kelima tahun ini. IMF menyebut pertumbuhan Kongo ditopang sektor pertambangan, sementara posisi teratas kawasan masih ditempati Afrika Selatan, disusul Nigeria, Angola, dan Kenya.

Sejumlah data itu menunjukkan bahwa ekonomi dunia tengah bergerak dalam situasi yang jauh lebih rapuh. Dengan inflasi yang kembali menguat dan pasokan minyak yang tetap menjadi perhatian utama, banyak negara harus menghadapi prospek pertumbuhan yang lebih lambat di tengah ketidakpastian pasar yang belum mereda.

Berita Terkait