Infinix Percepat Pasokan Dan Rilis Produk, Harga Tetap Dijaga Di Tengah Rupiah Melemah

Infinix tengah menaruh perhatian besar pada lini menengah dan premium untuk menjaga penjualan tetap stabil di Indonesia. Seri Note dan GT menjadi penopang utama pada kuartal I/2026, ketika pasar smartphone masih bergerak hati-hati dan konsumen makin selektif dalam membeli perangkat baru.

Perubahan itu tidak lepas dari kondisi industri yang sedang tertekan oleh pelemahan rupiah dan harga komponen yang bergerak cepat. Di saat biaya produksi ikut terdorong naik, perusahaan memilih menjaga rantai pasok agar produk tetap tersedia dan harga jualnya masih kompetitif di pasar Indonesia.

Head of Marketing Infinix Indonesia Sergio Ticoalu mengatakan tekanan biaya tidak hanya datang dari kurs rupiah, tetapi juga dari fluktuasi harga memori. Menurut dia, perubahan harga komponen seperti ini membuat produsen harus lebih sigap membaca situasi pasar agar tidak tertinggal.

Karena itu, Infinix menempatkan supply chain sebagai fokus utama. Perusahaan memperkuat alur distribusi dari pusat sampai jaringan regional supaya pasokan produk tetap stabil dan tidak tersendat di tengah gejolak industri smartphone global.

Sergio menilai keterlambatan peluncuran perangkat baru justru bisa membuat harga komponen makin tinggi. Itulah sebabnya Infinix berupaya mempercepat kehadiran produk pada kuartal I dan II/2026 agar ritme peluncuran tetap sejalan dengan pasar.

“Caranya itu adalah bagaimana kita bisa tetap keep up dengan market, supply chainnya kita jaga,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Jumat (15/5/2026).

Di sisi harga, Infinix mengakui penyesuaian tidak dapat dihindari di tengah lonjakan harga memori dan pelemahan rupiah. Meski begitu, efisiensi rantai pasok dinilai membantu perusahaan menjaga spesifikasi produk agar tetap menarik dan kompetitif bagi konsumen Indonesia.

Tekanan pasar juga terasa dari sisi permintaan. Sergio menyebut industri smartphone sempat mengalami penurunan tipis pada awal tahun karena daya beli masyarakat melemah, sehingga konsumen menjadi lebih berhati-hati sebelum membeli ponsel baru.

Meski kondisi pasar lebih ketat, penjualan Infinix disebut masih relatif stabil. Performa itu ikut ditopang distribusi yang luas serta respons yang kuat terhadap produk di segmen mid-range hingga high-end, yang bahkan mencatat pertumbuhan lebih baik dibanding lini entry-level.

Respons pasar terhadap produk premium Infinix juga disebut melampaui perkiraan perusahaan. Situasi itu membuat Infinix semakin serius membangun citra merek ke arah lifestyle dan memperluas sasaran ke konsumen muda yang tidak lagi bertumpu pada segmen bawah saja.

“Sekarang Infinix sudah mulai tap into mid to high-end market,” kata Sergio.

Selain smartphone, Infinix juga mulai memperluas ekosistem produk melalui perangkat Internet of Things atau IoT. Smartwatch dan true wireless stereo atau TWS dijadwalkan meluncur dalam waktu dekat sebagai bagian dari upaya memperluas sumber penjualan di luar ponsel.

Di tengah seluruh tekanan itu, target Infinix tetap tidak berubah. Untuk beberapa kuartal ke depan, perusahaan menargetkan tetap berada di tiga besar pasar smartphone Indonesia berdasarkan shipment.

Target itu penting karena Infinix merupakan salah satu tulang punggung penjualan grup Transsion di Indonesia. Sergio menegaskan perusahaan ingin mempertahankan posisi tersebut sambil tetap menjaga ketersediaan produk dan menghadapi biaya yang terus bergerak.

“Kita pengen push tahun ini bisa keep top 3 market Indonesia secara shipment,” ujarnya.

Infinix juga berharap pemerintah menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah agar daya beli masyarakat tidak semakin tertekan. Perusahaan menilai insentif untuk industri manufaktur masih dibutuhkan supaya vendor smartphone tetap bisa berinovasi dan bersaing di tengah tekanan global yang belum mereda.

Source: teknologi.bisnis.com
Berita Terkait