Harga Energi Anjlok, Inflasi AS Terseret Turun Lebih Cepat dari Perkiraan

Author: Redaksi Android62

Inflasi Amerika Serikat melambat lebih tajam dari perkiraan pada Juni 2026 setelah harga energi jatuh. Data ini memberi jeda sementara dari tekanan harga yang sebelumnya masih terasa sepanjang tahun ini.

Berdasarkan laporan Bureau of Labor Statistics yang dirilis Selasa (14/7/2026), indeks harga konsumen turun 0,4 persen secara bulanan setelah disesuaikan secara musiman. Itu menjadi penurunan bulanan terbesar sejak April 2020.

Tekanan utama datang dari energi

Indeks energi merosot 5,7 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Secara tahunan, komponennya masih naik 15,7 persen, tetapi penurunan bulanan itu cukup besar untuk menekan laju inflasi keseluruhan.

Harga bensin dan minyak bahan bakar masing-masing turun lebih dari 9 persen selama Juni. Di sisi lain, biaya jasa di luar energi tercatat stagnan, menandakan tekanan di sektor tersebut ikut mereda.

Indikator Juni 2026 Mei 2026
Inflasi tahunan 3,5 persen 4,2 persen
Perubahan bulanan CPI -0,4 persen Tidak disebutkan
Inflasi inti tahunan 2,6 persen 2,9 persen
Inflasi inti bulanan Stagnan 0,2 persen

Secara tahunan, inflasi AS turun menjadi 3,5 persen, lebih rendah dari ekspektasi ekonom dalam survei Dow Jones yang memperkirakan 3,8 persen. Pada Mei 2026, inflasi masih berada di level 4,2 persen.

Inflasi inti atau core inflation, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, juga menunjukkan pelemahan. Secara bulanan, inflasi inti tercatat stagnan, sementara secara tahunan berada di level 2,6 persen, di bawah perkiraan pasar yang memproyeksikan kenaikan bulanan 0,2 persen dan inflasi inti tahunan 2,9 persen.

Komponen lain ikut melambat

Di luar energi, beberapa komponen penting juga menunjukkan pelemahan. Biaya tempat tinggal atau shelter hanya naik 0,1 persen, sedangkan biaya jasa transportasi turun 0,3 persen.

Harga pangan naik 0,2 persen, sementara harga kendaraan baru tidak berubah. Harga mobil dan truk bekas justru turun 0,2 persen, dan harga pakaian melemah 0,6 persen.

Komponen Perubahan Juni 2026
Indeks energi -5,7 persen bulanan, +15,7 persen tahunan
Bensin Turun lebih dari 9 persen
Minyak bahan bakar Turun lebih dari 9 persen
Shelter +0,1 persen
Jasa transportasi -0,3 persen
Pangan +0,2 persen
Kendaraan baru Tidak berubah
Mobil dan truk bekas -0,2 persen
Pakaian -0,6 persen

Data yang lebih rendah dari perkiraan itu langsung disambut pasar keuangan. Kontrak berjangka saham AS mayoritas menguat setelah laporan dirilis, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS turun tajam.

Meski begitu, pelemahan inflasi belum dianggap cukup kuat untuk mengubah arah kebijakan Federal Reserve dalam waktu dekat. Pasar masih memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 28-29 Juli 2026.

Setelah itu, pasar juga memproyeksikan The Fed kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September. Saat ini, suku bunga acuan Fed Funds Rate berada di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.

Gubernur The Fed Christopher Waller sebelumnya menyatakan dibutuhkan beberapa bulan data inflasi yang positif untuk meyakinkannya bahwa inflasi benar-benar bergerak menuju target 2 persen. Sikap itu sejalan dengan pernyataan Federal Open Market Committee pada rapat kebijakan Juni, yang menegaskan fokus pada stabilitas harga.

Ketua The Fed Kevin Warsh juga menempatkan pengendalian inflasi sebagai prioritas utama sejak mulai menjabat pada Mei lalu. Dalam pidato yang disiapkan untuk disampaikan di Kongres pada Selasa, Warsh mengatakan, “Tujuan utama The Fed adalah untuk menerapkan kebijakan moneter yang tepat, atau sedekat mungkin dengan tepat. Itulah tujuan kami yang jelas dan konstan, pedoman yang kami pegang. Dan jika kami menerapkan kebijakan yang tepat, dan kami akan melakukannya, lonjakan inflasi dalam lima tahun terakhir akan menjadi masa lalu.”

Warsh sebelumnya sempat menyampaikan keyakinannya bahwa suku bunga dapat diturunkan pada masa mendatang. Namun sejak menjabat sebagai Ketua The Fed, ia menempatkan pengendalian inflasi sebagai fokus utama kebijakan moneter.

Source: money.kompas.com
Berita Terbaru