Investasi US$ 21 Miliar Mulai Bergerak, Blok Masela Dibidik Produksi pada 2029

Proyek Abadi Masela yang bernilai sekitar US$ 21 miliar kini memasuki tahap pembangunan setelah tertunda selama hampir tiga dekade. Pemerintah menargetkan lapangan gas raksasa di Laut Arafura, Maluku, itu selesai dan mulai berproduksi pada 2029.

Ketika beroperasi, proyek tersebut diproyeksikan menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun. Lapangan Abadi juga ditargetkan memproduksi gas sebesar 150 MMSCFD dan kondensat sekitar 35 ribu barel per hari.

KomponenTarget atau NilaiKeterangan
Total investasiUS$ 21 miliarPengembangan proyek
Investasi CCSUS$ 1 miliarPenerapan teknologi Carbon Capture and Storage
Produksi LNG9,5 juta ton per tahunSetelah beroperasi
Produksi gas150 MMSCFDTarget produksi harian
Produksi kondensat35 ribu barel per hariTarget produksi harian

Nilai US$ 21 miliar itu setara sekitar Rp 376,75 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.940 per dolar AS. Angka tersebut sudah mencakup tambahan investasi US$ 1 miliar atau sekitar Rp 17,94 triliun untuk teknologi CCS.

Pengembangan proyek ini dikelola oleh Inpex Corporation bersama mitranya. Penerapan CCS menjadi bagian dari rancangan investasi yang disiapkan untuk proyek gas tersebut.

Target Produksi Menjadi Titik Penting

Produksi LNG, gas pipa, dan kondensat menjadi dasar harapan pemerintah terhadap manfaat ekonomi proyek ini. Penerimaan negara baru dapat diperoleh ketika fasilitas telah beroperasi dan menghasilkan produksi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menilai dimulainya konstruksi menandai perubahan penting bagi proyek yang telah dibahas sejak 1998. Selama 28 tahun, pengembangan Blok Masela melewati enam masa pemerintahan presiden tanpa kepastian realisasi.

Pemerintah telah menggelar groundbreaking sebagai penanda dimulainya tahap konstruksi proyek Abadi Masela. Bahlil menyatakan percepatan proyek itu dilakukan setelah adanya arahan dari Presiden Prabowo Subianto.

“Alhamdulillah, dalam satu tahun saya bisa meng-clear-kan, kemudian kemarin sudah groundbreaking,” ujar Bahlil usai membuka Musyawarah Daerah Partai Golkar Sulawesi Selatan di Makassar, Sabtu (18/7/2026). Pemerintah optimistis pembangunan yang sudah dimulai dapat mengarah pada target operasi pada 2029.

Perdebatan Fasilitas Pengolahan Berakhir

Salah satu persoalan yang lama menahan pengembangan Blok Masela ialah perdebatan mengenai lokasi fasilitas pengolahan gas. Pemerintah dan pihak terkait sebelumnya membahas pilihan fasilitas di laut atau offshore serta di darat atau onshore.

Perdebatan itu membuat proyek bernilai besar ini belum dapat segera direalisasikan. Bahlil menekankan bahwa perdebatan berkepanjangan akan menunda masuknya pendapatan negara dari proyek tersebut.

“Kalau ini terus menjadi perdebatan, kapan selesainya? Dampaknya, kita baru akan mendapatkan pendapatan negara ketika proyek ini berjalan,” kata Bahlil. Tahap pembangunan yang telah dimulai menjadi dasar optimisme pemerintah terhadap jadwal penyelesaian proyek.

Harga Gas Industri Masih Dinegosiasikan

Selain konstruksi, pemerintah masih membahas harga gas dari Lapangan Abadi untuk kebutuhan industri. Bahlil menargetkan harga gas bagi industri pupuk berada di kisaran US$ 6–7 per MMBtu agar tetap kompetitif dan mendukung hilirisasi.

Perhitungan harga dipengaruhi skema penyaluran gas, baik melalui jaringan pipa maupun fasilitas LNG. Salah satu komponen yang dipertimbangkan adalah rencana pembangunan pipa bawah laut sepanjang sekitar 180 kilometer.

“Harga gasnya lagi negosiasi, tergantung. Kalau kita pakai pipa, pipanya itu kan 180 kilometer,” kata Bahlil saat meninjau lokasi Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7/2026). Pemerintah juga menyiapkan distribusi melalui fasilitas LNG yang dipadukan dengan pasokan gas dari pipa.

Untuk industri pupuk, kisaran harga US$ 6–7 per MMBtu disebut telah diperoleh dalam pembahasan. Sementara formulasi penjualan LNG akan mengikuti pergerakan Indonesia Crude Price atau ICP.

Pemerintah menginginkan sebagian besar bahan baku gas dari proyek ini dapat diproses di dalam negeri. Langkah tersebut diharapkan menciptakan nilai tambah dan multiplier effect yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia.

Source: www.liputan6.com
Berita Terkait