Harga produk baru Apple di Indonesia masih dipertahankan di tengah tekanan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini membuat iPhone dan MacBook tetap berada di posisi yang sensitif, tetapi penyesuaian harga belum dilakukan untuk lini baru yang baru saja diluncurkan.
Di saat pasar elektronik premium mulai mencermati pergerakan kurs, Apple memilih menahan harga lebih lama. Meski begitu, ruang perubahan harga tetap terbuka, terutama pada produk lain yang ikut terkena dampak barang impor.
GM Marketing Apple Business Map Zona Adiperkasa, Farah Fausa Winarsih, mengatakan harga produk baru Apple belum berubah. Pernyataan itu ia sampaikan saat peluncuran MacBook Neo di Digimap Pacific Place.
Menurut Farah, barang impor pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar dolar. Karena itu, produk selain lini baru yang sudah ada dinilai lebih berpotensi mengalami penyesuaian harga.
Tekanan dari kurs membuat harga jual perangkat Apple di dalam negeri ikut menjadi sorotan. Meski demikian, perusahaan belum mengumumkan kenaikan menyeluruh untuk produk baru yang baru diluncurkan.
Permintaan masih stabil
Di tengah kekhawatiran soal harga, Farah menyebut pelemahan rupiah belum memberi dampak besar pada daya beli masyarakat. Ia menilai permintaan terhadap perangkat Apple, termasuk MacBook, masih berjalan stabil.
“Kami tidak melihat dampak besar pada daya beli,” kata Farah. Ia juga menyebut kondisi penjualan masih normal di pasar.
Situasi itu menunjukkan minat konsumen premium terhadap produk Apple belum goyah meski nilai tukar rupiah sedang tertekan. Bagi ritel teknologi, stabilnya permintaan menjadi penyangga penting di tengah risiko kenaikan biaya impor.
Impor berjalan normal, tetapi harga makin sensitif
Farah menjelaskan bahwa impor produk Apple ke Indonesia masih berlangsung normal tanpa gangguan pasokan. Total angka impor juga disebut tetap sama meski rupiah melemah.
Namun, perusahaan kini lebih waspada terhadap perubahan penjualan dan arah harga. Sikap hati-hati itu muncul karena pergerakan dolar berada di luar kendali mereka.
“Kenaikan dolar itu sesuatu yang di luar kendali kami. Sudah pasti ada efek terhadap harga produk,” ujarnya. Ia menambahkan, pihaknya ingin menjaga agar produk Apple tetap terjangkau bagi banyak orang.
iPhone dan MacBook paling rentan
Di antara lini produk Apple, iPhone dan MacBook menjadi yang paling sensitif terhadap perubahan kurs. Keduanya bergantung pada komponen impor dan berstatus barang asal Amerika Serikat, sehingga pelemahan rupiah lebih mudah menekan harga jualnya.
Dalam situasi seperti ini, produk premium cenderung lebih cepat terdorong naik dibanding barang yang tidak sepenuhnya bergantung pada komponen luar negeri. Karena itu, ritel teknologi harus menjaga keseimbangan antara biaya impor, minat beli konsumen, dan stabilitas pasokan.
Untuk sementara, harga produk baru masih bisa dipertahankan. Tetapi jika tekanan dolar terus berlanjut, penyesuaian pada lini lain tampak semakin mungkin terjadi.
Source: selular.id






