Iran Kembali Andalkan Kurs Preferensial, Negeri Ini Mengejar Pangan Dan Obat Di Tengah Perang

Author: Redaksi Android62

Pemerintah Iran kembali menempatkan kebutuhan pokok di garis depan kebijakan ekonomi. Langkah ini muncul ketika perang, serangan terhadap infrastruktur, dan inflasi pangan menekan kehidupan sehari-hari warga, sementara akses terhadap pangan, obat, dan barang penting lain menjadi perhatian utama.

Di pasar dan pusat kota Teheran, aktivitas memang mulai bergerak lagi. Namun, tanda-tanda pulih itu belum cukup meredakan kekhawatiran, karena banyak keluarga tetap menjaga pengeluaran dan hanya membeli barang yang benar-benar dibutuhkan.

Belanja rumah tangga makin ketat

Perubahan paling terasa terlihat dari kebiasaan berbelanja warga. Seorang warga muda di Teheran barat menyebut banyak orang kini menahan diri dan tidak lagi membeli barang tambahan, melainkan fokus pada kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Kondisi itu menunjukkan bagaimana tekanan ekonomi telah mengubah pola rumah tangga dalam mengatur uang. Di tengah perang dan inflasi pangan, prioritas belanja bergeser ke kebutuhan dasar yang paling sulit diabaikan.

Kurs preferensial kembali dipakai

Untuk menjaga pasokan barang penting, kabinet Iran menambahkan klausul dalam pedoman pelaksanaan anggaran tahunan. Kebijakan itu membuka jalan bagi penggunaan lagi nilai tukar preferensial untuk impor gandum, obat-obatan, perlengkapan medis, dan susu formula bayi.

Pemerintah juga berencana menyalurkan hingga $3,5 miliar dari pendapatan minyak dan gas melalui jaringan wali amanat untuk mendatangkan barang kebutuhan pokok. Impor tersebut akan dibeli dengan kurs resmi 285.000 rial per dolar AS, yang lebih rendah dari kurs pasar terbuka 1,55 juta rial per dolar dan juga di bawah kurs anggaran 1,23 juta rial per dolar, menurut media pemerintah.

Langkah ini menjadi perubahan dari rancangan anggaran yang diajukan pada akhir Desember. Saat itu, pemerintah sempat ingin menghapus kurs valuta asing termurah karena sistem subsidi dinilai memunculkan ketidaktransparanan dan korupsi, meski tidak benar-benar menekan harga bagi masyarakat.

Harga pangan naik, bantuan masih terbatas

Di sisi lain, lonjakan harga pangan tetap menjadi beban besar. Pejabat Kementerian Koperasi, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Sosial menilai penghapusan kurs murah telah memberi dampak besar terhadap harga barang kebutuhan pokok.

Yaghoub Andayesh mengatakan kementerian sudah menyampaikan berbagai skenario untuk menjamin keamanan pangan bagi 11 kategori barang esensial yang mengalami kenaikan harga tajam dalam beberapa bulan terakhir. Pemerintah juga mempertimbangkan kenaikan bantuan bulanan dan kupon elektronik untuk warga.

Langkah tersebut diarahkan untuk meredam salah satu tingkat inflasi pangan tertinggi di dunia. Saat ini, setiap orang hanya menerima bantuan setara kurang dari $10 per bulan.

Cadangan strategis dan distribusi yang dipercepat

Di saat yang sama, otoritas mulai menarik dana dari National Development Fund of Iran untuk membeli kebutuhan pokok. Media pemerintah melaporkan hingga $1 miliar akan digunakan untuk gula, beras, jelai, jagung, bungkil kedelai, daging merah, dan daging ayam sebagai cadangan strategis.

Pemerintah juga memberi kewenangan lebih luas kepada para gubernur di provinsi perbatasan agar impor barang penting bisa bergerak lebih cepat dan dengan birokrasi yang lebih ringan. Presiden Pezeshkian menyampaikan bahwa perluasan kewenangan itu sudah resmi disampaikan, sambil menekankan pentingnya inisiatif para gubernur selama perang.

Di sektor kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan Iran mengatakan distribusi terpusat barang strategis akan dimulai dalam dua hari. Tujuannya agar fasilitas kesehatan memperoleh akses yang adil dan tepat waktu terhadap cadangan strategis.

Kekhawatiran warga belum hilang

Meski berbagai kebijakan sudah dijalankan, rasa cemas di masyarakat belum mereda. Sebagian warga disebut mulai menimbun makanan kaleng dan menyimpan air, sementara yang lain memangkas pengeluaran dengan membatalkan perjalanan, berhenti makan di restoran, dan mengurangi pesanan makanan daring.

Keluhan soal harga juga semakin sering muncul di media sosial, termasuk perbandingan antara biaya makan sekarang dan sebelumnya. Situasi ini memperlihatkan betapa cepat biaya hidup berubah ketika perang dan tekanan ekonomi berjalan bersamaan.

Tasnim News Agency, media yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi, mengakui adanya kekhawatiran soal keamanan pangan setelah perang yang diluncurkan AS dan Israel. Namun, media itu menilai Iran tidak akan mengalami kelaparan karena memiliki perbatasan luas dengan negara tetangga seperti Iraq, Turkiye, dan Pakistan yang dapat membantu jalur impor.

Di tengah pembatasan internet nasional yang hampir total, aktivitas ekonomi ikut tertekan. Jutaan pekerjaan tertahan, sementara banyak pekerja dilaporkan dirumahkan atau dipecat akibat terputusnya akses internet, dan pemboman terhadap infrastruktur sipil serta ekonomi memperberat situasi di lapangan.

Berita Terbaru