Iran Kirim Araqchi Ke Islamabad, Pakistan Kembali Jadi Penghubung Menuju AS

Author: Redaksi Android62

Pakistan kembali menjadi titik penting dalam upaya Iran membuka jalur komunikasi tidak langsung dengan Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dijadwalkan bertolak ke Islamabad untuk membahas peluang dimulainya lagi perundingan damai, tanpa pertemuan langsung dengan negosiator AS.

Kunjungan itu menempatkan Pakistan sebagai penghubung yang kembali dipakai Teheran untuk menyampaikan gagasan kepada Washington. Dua sumber pemerintah Pakistan yang mengetahui pembahasan tersebut menyebut agenda Araqchi akan berlangsung singkat dan berfokus pada penyampaian pesan Iran melalui Islamabad sebagai mediator.

Peran Islamabad dalam jalur komunikasi

Langkah ini membuat Pakistan muncul lagi sebagai saluran yang penting di tengah kebuntuan diplomasi Iran dan Amerika Serikat. Islamabad sebelumnya juga pernah menjadi lokasi pembicaraan kedua pihak, sebelum putaran itu gagal berlanjut pada pekan ini.

Sumber Pakistan mengatakan rencana pembicaraan di Islamabad terkait langsung dengan proposal Iran untuk membuka kembali dialog dengan pihak Amerika. Dengan format seperti ini, pesan Teheran tidak disampaikan secara tatap muka kepada delegasi AS, melainkan melalui perantara yang dinilai masih memungkinkan untuk menjaga komunikasi tetap berjalan.

Araqchi sendiri menyampaikan lewat unggahan di X bahwa ia akan bertolak ke Pakistan, Oman, dan Rusia. Ia menyebut perjalanan itu bertujuan berkoordinasi dengan mitra-mitra Iran terkait urusan bilateral serta perkembangan kawasan.

Putaran sebelumnya belum berlanjut

Pembicaraan damai yang lebih dulu direncanakan semestinya berlangsung pada Selasa, tetapi agenda itu urung terlaksana. Iran belum memastikan akan ikut, sementara delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance tidak berangkat dari Washington.

Sampai saat ini, Amerika Serikat juga belum memberi tanggapan langsung atas rencana perjalanan Araqchi ke Islamabad. Namun, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan Iran masih memiliki kesempatan untuk membuat “kesepakatan yang baik” dengan Amerika Serikat.

Ia menambahkan bahwa Iran masih punya “jendela terbuka” untuk memilih jalur yang tepat di meja perundingan. Hegseth juga menegaskan syarat utamanya adalah meninggalkan senjata nuklir “dengan cara yang bermakna dan dapat diverifikasi”.

Format pembicaraan belum sepenuhnya pasti

Laporan media pemerintah Iran dan sumber-sumber Pakistan tidak menyebut keterlibatan Mohammad Baqer Qalibaf, ketua parlemen Iran, yang sebelumnya memimpin delegasi pada satu-satunya pembicaraan yang sudah berlangsung. Hal itu menandakan format diplomasi masih bisa berubah sesuai jalur yang dipilih Teheran.

Sebelumnya, sumber Pakistan juga menyebut tim logistik dan keamanan AS sudah berada di Islamabad untuk kemungkinan pembicaraan. Meski begitu, kehadiran tim tersebut tidak otomatis memastikan perundingan langsung akan dimulai.

Tekanan kawasan ikut mendorong diplomasi

Dorongan menuju perundingan muncul ketika situasi kawasan masih rapuh. Di Lebanon, perang yang berjalan paralel dengan konflik Iran masih menyisakan bentrokan, walau gencatan senjata yang berlaku sejak 16 April telah menurunkan intensitas kekerasan secara signifikan.

Pada Kamis, Israel dan Lebanon memperpanjang gencatan senjata terpisah selama tiga pekan dalam pertemuan di Gedung Putih yang dimediasi Donald Trump. Teheran menyatakan gencatan senjata di Lebanon menjadi syarat awal sebelum pembicaraan bisa bergerak lebih jauh.

Selat Hormuz tetap menambah tekanan

Di sisi lain, ketegangan juga masih terasa di Selat Hormuz, jalur pengiriman energi paling penting di dunia. Trump mengatakan pada Kamis bahwa ia tidak terburu-buru mencapai kesepakatan dengan Iran dan menginginkan hasil yang “abadi”.

Ia juga menegaskan AS berada pada posisi unggul dalam kebuntuan di selat tersebut. Iran masih membatasi hampir seluruh kapal sejak perang dimulai delapan pekan lalu, dan data pelayaran pada Jumat menunjukkan hanya lima kapal melewati selat itu dalam 24 jam terakhir, jauh di bawah sekitar 130 kapal per hari sebelum perang.

Dalam kondisi seperti itu, pembicaraan lewat Pakistan menjadi salah satu opsi paling penting untuk menjaga ruang komunikasi tetap terbuka. Selama belum ada kepastian soal format dan kelanjutan dialog, Islamabad terus dipandang sebagai jalur yang bisa dipakai Iran untuk menyampaikan pesan ke Washington.

Berita Terbaru