Pernyataan Ahmad Basarah soal Iran menjadi titik paling menonjol dalam forum PDIP yang membahas relevansi semangat Asia Afrika di tengah krisis geopolitik. Di hadapan peserta seminar nasional di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, ia menantang pertanyaan yang diarahkan ke Indonesia sendiri: jika Iran bisa mempraktikkan ajaran Trisakti Bung Karno, bagaimana dengan pemerintah dan bangsa Indonesia saat ini?
Sikap itu menunjukkan bahwa PDIP tidak hanya melihat situasi global sebagai urusan luar negeri, tetapi juga sebagai ukuran sejauh mana ajaran Bung Karno masih dijalankan di dalam negeri. Dalam forum bertema “Relevansi Gerakan Asia Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini” itu, partai berlambang banteng menempatkan Trisakti dan Semangat Bandung sebagai bahan baca utama untuk menjawab tekanan dunia yang makin rumit.
Trisakti dipakai sebagai ukuran kemandirian
Basarah menegaskan bahwa Trisakti bukan sekadar semboyan politik yang berhenti di ruang pidato. Ia memosisikannya sebagai fondasi yang memuat tiga unsur penting, yaitu kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian dalam kebudayaan.
Dalam pandangan itu, bangsa yang benar-benar merdeka harus mampu berdiri di atas kaki sendiri. Karena itu, pesan Bung Karno tentang lahirnya “Asia Baru dan Afrika Baru” dianggap tetap hidup sebagai dorongan agar negara-negara berkembang tidak terus berada dalam bayang-bayang kekuatan luar.
Penekanan tersebut juga menjadi cara PDIP mengingatkan bahwa keringat sejarah Konferensi Asia Afrika belum selesai bekerja. Warisan Bandung, menurut Basarah, masih relevan karena kolonialisme tidak lenyap, melainkan berubah wajah menjadi neo-kolonialisme.
Kolonialisme lama berubah bentuk
Basarah menggambarkan bahwa dominasi ekonomi, ketergantungan teknologi, dan tekanan geopolitik global masih menempatkan banyak negara berkembang dalam posisi lemah. Ia menilai bentuk-bentuk penindasan itu tidak selalu muncul lewat penjajahan langsung, melainkan melalui pengaruh yang lebih halus namun tetap menekan.
Ia juga mengaitkan keadaan itu dengan rivalitas kekuatan besar, agresi militer, dan blokade ekonomi yang terus mewarnai hubungan antarnegara. Dari sudut pandang itu, kemerdekaan tidak bisa dipahami hanya sebagai lepas dari penjajahan fisik, karena tekanan modern masih bekerja lewat jalur lain.
Basarah bahkan mengulang pandangan Bung Karno bahwa imperialisme merupakan bentuk paling agresif dari kapitalisme. Kalimat itu dipakai untuk menegaskan bahwa perubahan zaman tidak otomatis menghapus pola penindasan, sebab instrumen yang dipakai bisa berganti mengikuti kepentingan politik dan ekonomi.
Iran dan pesan yang diarahkan ke Indonesia
Sorotan kepada Iran membuat forum itu mendapat perhatian lebih besar. Basarah menyebut ada pengaruh pemikiran Bung Karno yang terasa sampai ke Iran, lalu menjadikan fakta itu sebagai cermin untuk melihat posisi Indonesia sendiri.
Ia menyampaikan pertanyaan yang bernada menantang, bukan hanya untuk peserta forum, tetapi juga untuk pemerintah dan bangsa Indonesia. “Jika bangsa Iran saja mampu mempraktikkan ajaran Trisakti Bung Karno, bagaimana dengan pemerintah dan bangsa Indonesia saat ini?” ujar Basarah dalam forum tersebut.
Pernyataan itu membawa pesan bahwa kemandirian tidak cukup diletakkan sebagai slogan politik. Dalam pandangan PDIP, ajaran Trisakti harus hadir dalam sikap nyata negara ketika berhadapan dengan tekanan eksternal, baik dalam urusan politik, ekonomi, maupun kebudayaan.
Perdamaian dan konflik global ikut disorot
Forum itu juga menempatkan krisis Timur Tengah sebagai contoh bahwa perdamaian dunia belum menjadi kenyataan yang kokoh. Basarah menyoroti ketegangan antara Iran dan Israel sebagai salah satu gambaran bahwa konflik regional bisa memengaruhi stabilitas yang lebih luas.
Ia menekankan bahwa perdamaian adalah prasyarat bagi kemerdekaan. Artinya, negara tidak bisa benar-benar merasa merdeka bila masih hidup di bawah ancaman perang, intimidasi, atau ketidakstabilan yang terus berulang.
Dalam kerangka itu, PDIP membaca situasi geopolitik bukan sebagai peristiwa yang jauh dari politik Indonesia. Sebaliknya, kondisi dunia dipakai untuk menegaskan bahwa bangsa yang ingin berdaulat perlu memiliki posisi yang tegas terhadap kekerasan dan penindasan.
Megawati dan garis anti-imperialisme PDIP
Di forum yang sama, Megawati Soekarnoputri hadir sebagai keynote speech, sementara Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan jajaran partai turut mengikuti agenda. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa tema tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan masuk dalam garis ideologis partai.
Basarah menyebut Megawati konsisten menjaga napas anti-imperialisme di tubuh PDIP melalui diplomasi peradaban dan penolakan terhadap kekerasan antarnegara. Ia menilai pendekatan dialog dan hukum internasional menjadi jalan penting agar konflik tidak terus meluas.
Dari sana, Megawati diposisikan bukan hanya sebagai ketua umum partai, tetapi juga sebagai penerus garis pemikiran Bung Karno. Sentimen itu memperkuat pesan bahwa PDIP ingin menautkan politik luar negeri, solidaritas Asia-Afrika, dan prinsip kedaulatan dalam satu kerangka yang utuh.
Bandung masih dipakai untuk membaca zaman
Seluruh rangkaian penjelasan dalam seminar itu memperlihatkan cara PDIP membaca dunia dari kacamata sejarah perjuangan bangsa-bangsa Asia Afrika. Semangat Bandung dipakai bukan semata untuk mengenang masa lalu, tetapi untuk menilai apakah Indonesia masih konsisten menjaga kedaulatan yang dulu diperjuangkan.
Basarah menutup penekanan utamanya dengan ajakan agar seluruh elemen bangsa tidak membiarkan Trisakti berhenti sebagai wacana. Di tengah persaingan global yang terus berubah, PDIP mendorong agar warisan Bung Karno tetap menjadi pedoman politik yang hidup dalam praktik bernegara.
Source: www.suara.com






