Iran Sebut Aset AS di 3 Negara Diserang, Radar hingga Jet Tempur Jadi Sasaran

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan operasi militernya telah menjangkau aset Amerika Serikat di Oman, Suriah, dan Yordania. Sasaran yang disebut mencakup radar pemantau, helikopter operasi khusus, pesawat pengisi bahan bakar, hingga jet tempur.

Pernyataan itu menandai meluasnya ketegangan Iran dan AS ke tiga negara kawasan Timur Tengah dalam satu rangkaian operasi. IRGC menyebut aksi tersebut sebagai gelombang ke-13 Operasi Nasr-2.

Tiga Lokasi dan Sasaran yang Disebut IRGC

IRGC memaparkan sasaran yang berbeda di setiap lokasi, mulai dari perangkat pemantauan hingga aset penerbangan militer. Pernyataan mereka tidak merinci tingkat kerusakan, jumlah aset yang terdampak, maupun bukti independen atas klaim itu.

LokasiSasaran yang DisebutKeterangan
OmanRadar pemantau maritim dan radar ASDisebut berada di Salamah dan Pulau Ghanam
At Tanf, SuriahRadar, helikopter operasi khusus, dan personel militerMenargetkan pusat komando operasi khusus AS
YordaniaPesawat pengisi bahan bakar dan jet tempurDisebut diserang dengan rudal balistik dan drone

Di Yordania, Iran disebut menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak untuk menyerang aset AS yang disiagakan di negara itu. IRGC mengklaim beberapa pesawat pengisi bahan bakar serta jet tempur hancur dalam serangan tersebut.

Penggunaan dua jenis persenjataan itu menjadi bagian penting dari narasi operasi lintas kawasan yang disampaikan Iran. Namun, pernyataan IRGC tidak menyebut lokasi pangkalan, jumlah pesawat, atau jenis jet tempur yang menjadi sasaran.

At Tanf Disebut Menjadi Titik Serangan Balasan

Di Suriah, IRGC menyatakan telah melancarkan serangan balasan mendadak terhadap pusat komando operasi khusus AS di At Tanf, wilayah barat daya negara tersebut. Sistem radar AS, sejumlah helikopter operasi khusus, dan personel militer disebut terkena dampak.

At Tanf merupakan salah satu titik yang secara khusus disebut dalam pernyataan Iran mengenai operasi tersebut. IRGC tidak memberikan perincian mengenai jumlah personel maupun unit helikopter yang disebut hancur.

Sementara itu, angkatan laut IRGC menyatakan menargetkan radar pemantau maritim di wilayah Salamah, Oman. Mereka juga mengklaim menghancurkan radar pemantau milik AS di Pulau Ghanam.

Dalam pernyataannya pada Sabtu, 18 Juli 2026, IRGC mengatakan serangan itu dilakukan pada pagi hari. “Pagi ini, pasukan angkatan laut IRGC menargetkan dan menghancurkan sebuah radar pemantau maritim di wilayah Salamah, serta radar pemantau milik AS di Pulau Ghanam, Oman,” kata mereka.

Serangan Iranshahr Disebut Menjadi Pemicu

Menurut laporan VIVA, rangkaian operasi ini terjadi setelah serangan udara AS di dekat Kota Iranshahr, Iran tenggara. Sedikitnya tujuh personel Iran, terdiri atas prajurit karier dan anggota wajib militer, dilaporkan tewas dalam serangan itu.

IRGC menyebut serangan di dekat Iranshahr sebagai alasan langsung untuk melakukan aksi balasan. Sebelumnya, Iran dan AS disebut telah menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik militer pada pertengahan Juni.

Meski demikian, IRGC menyatakan pasukan AS kembali melakukan serangkaian serangan terhadap Iran sejak 8 Juli. Perkembangan itu memperlihatkan kesepahaman sebelumnya belum meredakan ketegangan antara kedua pihak.

CENTCOM menyatakan tindakan militer AS merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz. Setelah itu, Iran disebut membalas dengan sejumlah serangan terhadap pangkalan AS di kawasan Timur Tengah.

Klaim terbaru IRGC menempatkan Oman, Suriah, dan Yordania dalam pusaran konflik yang kembali memanas. Seluruh rincian mengenai kerusakan aset dan korban dalam operasi tersebut masih bersumber dari pernyataan pihak Iran.

Source: www.viva.co.id
Berita Terkait