Iran Sebut Biaya Perang Tembus Rp1.733 Triliun, Pentagon Dituding Menyembunyikan Angka Sebenarnya

Author: Redaksi Android62
Add on Google

Biaya perang Iran yang dibebankan ke Amerika Serikat memicu perdebatan baru setelah Teheran menilai angka yang beredar di Washington terlalu kecil. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut Pentagon tidak jujur saat menyebut kerugian perang melawan Iran hanya sebesar USD25 miliar.

Menurut Teheran, beban sebenarnya jauh lebih besar dan sudah mencapai USD100 miliar atau sekitar Rp1.733 triliun. Araghchi bahkan menegaskan angka itu empat kali lipat dari klaim yang disampaikan pihak AS.

Sorotan terhadap biaya perang ini muncul ketika penilaian internal Pentagon kembali dibahas luas. Dalam laporan yang dikutip CNN, seorang pejabat senior Pentagon menyampaikan angka USD25 miliar kepada anggota parlemen, tetapi angka itu disebut belum menggambarkan seluruh beban keuangan konflik.

Biaya yang tidak berhenti di anggaran militer

Pihak yang mengetahui penilaian internal tersebut menyebut hitungan awal itu belum memasukkan kerusakan besar pada pangkalan militer AS di kawasan. Jika rekonstruksi dan penggantian aset yang hancur ikut dihitung, total biaya disebut bisa naik ke kisaran USD40 miliar hingga USD50 miliar atau sekitar Rp867 triliun.

Pandangan serupa juga datang dari kalangan akademisi. Profesor Linda Bilmes dari Harvard Kennedy School memperkirakan total biaya perang Iran pada akhirnya dapat menyentuh USD1 triliun atau sekitar Rp17.334 triliun bagi pembayar pajak AS.

Bilmes menjelaskan bahwa pembukuan Pentagon kerap memakai nilai inventaris historis, bukan biaya penggantian saat ini. Menurut dia, cara itu membuat pengeluaran nyata terlihat lebih kecil daripada beban yang akan muncul saat fasilitas yang rusak harus dibangun kembali dan persediaan militer diisi ulang.

Ia juga menyoroti beban jangka panjang lain yang ikut menyertai perang. Di antaranya adalah pembangunan kembali pangkalan di Teluk Persia dan potensi tunjangan cacat seumur hidup bagi sekitar 55.000 pasukan yang ditempatkan serta terdampak serangan balasan Iran.

Tagihan harian dan dampak ke warga AS

Dalam perhitungan Bilmes, perang ini bisa memakan sekitar USD2 miliar per hari selama 40 hari. Selain itu, Araghchi mengatakan dampaknya tidak berhenti pada anggaran militer, karena biaya tidak langsung bagi warga Amerika Serikat ikut membesar hingga tagihan bulanan per rumah tangga disebut mencapai USD500.

Di luar perdebatan resmi, sebuah pelacak daring yang memantau biaya perang bagi wajib pajak Amerika menunjukkan angka yang sudah mencapai USD67 miliar atau sekitar Rp1.161,378 triliun. Data itu memperkuat pandangan bahwa beban finansial konflik jauh melampaui klaim awal yang beredar.

Araghchi juga menyeret Israel ke dalam kritiknya terhadap Washington. Ia menulis, “Israel Pertama selalu berarti Amerika Terakhir,” sambil menuduh Israel menyeret AS ke dalam perang agresi terhadap Iran.

Latar serangan dan respons Iran

Konflik yang dipersoalkan itu dimulai ketika agresi AS-Israel terhadap Iran disebut berlangsung pada 28 Februari. Serangan udara itu menewaskan pejabat dan komandan senior Iran serta menyasar infrastruktur negara, termasuk fasilitas ekonomi.

Data terbaru yang dikutip menyebut lebih dari 3.300 warga Iran tewas dalam agresi tersebut. Iran kemudian membalas dengan operasi rudal dan drone harian yang menyasar lokasi di wilayah pendudukan Israel dan pangkalan militer AS di kawasan.

Teheran juga menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal milik AS dan sekutunya yang terlibat atau mendukung agresi itu. Langkah tersebut memicu kenaikan harga minyak secara signifikan dan menambah tekanan pada situasi regional.

Gencatan senjata belum meredakan ketegangan

Gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan mulai berlaku pada 8 April, empat puluh hari setelah perang dimulai. Namun, pembicaraan di Islamabad kemudian macet karena tuntutan Washington dinilai terlalu berlebihan dan tidak masuk akal oleh pihak Iran.

Teheran menegaskan blokade ilegal AS terhadap pelabuhan Iran harus dicabut sebelum tahap berikutnya dari pembicaraan damai dimulai. Iran juga menyatakan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama blokade itu masih diberlakukan.

Di sisi lain, blokade AS terhadap pelabuhan Iran disebut gagal mencapai sasaran utama, yakni memutus pendapatan minyak Iran. Dalam situasi yang masih tegang itu, perdebatan soal biaya perang kini tidak hanya menyangkut angka di anggaran militer, tetapi juga pajak, logistik, dan stabilitas ekonomi Amerika Serikat.

Source: www.viva.co.id
Disclaimer
Artikel ini disusun dengan bantuan sistem otomasi dan ditinjau oleh redaksi agar tetap sesuai dengan fakta dari sumber rujukan.
Berita Terbaru