Iran kembali menegaskan bahwa gencatan senjata dengan AS tidak boleh dibatasi pada satu wilayah saja. Tehran menilai kesepakatan itu harus berlaku di semua lini, termasuk Libanon, karena pelanggaran di satu tempat akan dianggap sebagai pelanggaran di seluruh kawasan.
Sikap tersebut membuat ketegangan di Timur Tengah makin terasa rapuh. Di tengah konflik yang terus bergerak lintas front, Iran menempatkan Libanon sebagai bagian dari persoalan yang lebih besar, bukan sebagai isu terpisah.
Peringatan langsung dari Tehran
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan posisi itu melalui akun X pada Senin (1/6). Ia menegaskan bahwa gencatan senjata antara Iran dan AS “secara tegas merupakan gencatan senjata di semua lini, termasuk di Libanon”.
Araghchi juga menambahkan bahwa AS dan Israel harus bertanggung jawab atas konsekuensi dari setiap pelanggaran. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa Tehran ingin memastikan setiap gangguan di kawasan dibaca sebagai bagian dari satu kesepakatan yang sama.
Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei sudah memberi sinyal serupa. Ia menyatakan Iran tidak akan ragu membantu Libanon menghadapi apa yang disebutnya sebagai “agresi ilegal” Israel terhadap negara itu.
Libanon kembali jadi titik rawan
Ketegangan di Libanon meningkat setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan tentara melakukan serangan udara di Beirut. Serangan itu memicu eskalasi baru, meski gencatan senjata yang dimediasi AS disebut telah berlaku sejak 17 April.
Kondisi tersebut membuat Libanon kembali menjadi titik sensitif di kawasan. Setiap ledakan baru di sana berpotensi memperluas tekanan terhadap stabilitas regional yang memang sudah rentan.
Konflik yang merembet ke banyak front
Situasi di Timur Tengah tidak berhenti pada satu jalur pertempuran. Sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari, rangkaian aksi balasan ikut meluas dan menyeret berbagai pihak di kawasan.
Iran kemudian membalas dengan serangan yang menargetkan Israel dan sekutu AS di Teluk. Tehran juga menutup Selat Hormuz, langkah yang menunjukkan bahwa konfrontasi telah bergerak melampaui satu medan konflik saja.
Dari rangkaian itu, Iran menekankan bahwa gencatan senjata harus dipahami sebagai kesepakatan lintas lini. Bagi Tehran, pelanggaran di Libanon tidak bisa dipisahkan dari dinamika yang sama di tempat lain.
Riwayat kesepakatan yang rapuh
Sebelumnya, gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, pembicaraan lanjutan di Islamabad tidak menghasilkan kesepakatan yang bertahan lama.
Riwayat tersebut membuat respons Iran terhadap eskalasi terbaru menjadi lebih keras. Tehran kini menuntut agar AS dan Israel memikul tanggung jawab atas setiap pelanggaran, terutama bila situasi di Libanon kembali melebar dan menyeret kawasan ke ketegangan yang lebih dalam.
Source: mediaindonesia.com






