Sisa Kebakaran Masih Menyimpan Racun, Warga Permukiman Tetap Terancam Setelah Api Padam

Api yang sudah padam tidak selalu berarti ancaman ikut selesai. Di kawasan permukiman, sisa asap, abu, dan material terbakar masih dapat menyisakan paparan kimia yang berbahaya bagi warga, terutama saat proses pembersihan berlangsung.

Risiko ini menjadi penting karena permukiman tercatat sebagai lokasi kebakaran paling dominan. Data Pusat Informasi Kriminal Nasional Polri per 22 Mei 2026 menunjukkan porsinya mencapai 20,64 persen, sehingga dampaknya bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga paparan polutan yang bisa bertahan setelah kejadian.

Komposisi asap yang lebih berbahaya dari sekadar terlihat tebal

Asap kebakaran di wilayah perkotaan ternyata membawa campuran zat kimia yang beragam. Studi yang dimuat dalam Journal of Hazardous Materials menunjukkan bahwa partikel udara dari kebakaran dapat mengandung logam beracun, volatile organic compounds atau VOC, serta PFAS yang dikenal sulit terurai di lingkungan.

José Guillermo Cedeño Laurent dari Rutgers School of Public Health menjelaskan bahwa kebakaran permukiman membakar lebih dari vegetasi. Kendaraan, plastik, baterai, kabel listrik, dan peralatan rumah tangga ikut terbakar lalu melepaskan senyawa berbahaya ke udara.

Kondisi itu membuat bahaya kebakaran kota tidak bisa dibaca hanya dari asap yang terlihat di udara. Jenis material yang terbakar ikut menentukan isi partikel yang kemudian terhirup warga.

Partikel ultrahalus dan jebakan penilaian kualitas udara

Ancaman lain datang dari partikel ultrahalus yang mampu masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Ukuran partikel ini membuat risiko kesehatan tetap ada, meski pengukuran polusi udara belum tentu menunjukkan angka yang melewati ambang batas standar.

José menekankan bahwa ukuran kualitas udara tidak selalu menangkap seluruh bahaya yang ada. Karena itu, penilaian risiko perlu melihat komposisi partikel, bukan hanya jumlah asap yang terukur.

Ia juga menilai bahwa satu jenis asap dapat membawa campuran senyawa yang berbeda. Perbedaan komposisi itulah yang membuat dampak pada tubuh tidak selalu sama.

Bahaya yang tertinggal setelah api dipadamkan

Ancaman dari kebakaran permukiman tidak otomatis hilang ketika kobaran api berhenti. Abu sisa kebakaran masih dapat menyimpan logam berat dan bahan kimia beracun, lalu kembali beterbangan ke udara saat area dibersihkan.

Situasi ini membuat lokasi bekas kebakaran tetap perlu ditangani dengan hati-hati. Material yang tampak sudah aman bisa menjadi sumber paparan baru jika pengelolaannya tidak tepat.

José menggambarkan kondisi tersebut sebagai warisan kimia yang tertinggal setelah kebakaran. Artinya, risiko kesehatan dapat terus muncul walaupun api sudah tidak terlihat lagi.

Penanganan yang tidak cukup berhenti di pemadaman

Para peneliti menilai respons terhadap kebakaran perlu melampaui pemadaman api. Pemantauan kualitas udara dan pengelolaan limbah pascakebakaran perlu masuk dalam langkah kesehatan publik agar risiko bagi warga bisa ditekan.

Mereka juga menilai strategi perlindungan masyarakat sebaiknya memperhitungkan jenis material yang terbakar. Pendekatan itu dianggap lebih tepat dibanding hanya mengandalkan tebal-tipisnya asap di udara.

Menurut José, perlindungan warga perlu didasarkan pada apa yang terbakar, bukan semata pada seberapa banyak asap yang terukur. Dengan begitu, respons kesehatan bisa lebih sesuai menghadapi campuran kimia, partikel ultrahalus, dan abu yang tersisa di lingkungan permukiman.

Source: www.suara.com

Berita Terkait