Pakistan semakin menonjol sebagai tempat yang disorot dalam upaya menjaga gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran. Dorongan diplomatik itu muncul ketika pembicaraan di berbagai jalur masih berlangsung di tengah tekanan Washington yang belum mereda terhadap Teheran.
Salah satu sinyal paling jelas datang setelah Kepala Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Teheran. Di saat yang sama, Gedung Putih memberi tanda bahwa putaran lanjutan negosiasi AS-Iran berpeluang kembali digelar di Islamabad, meski belum ada pengumuman resmi mengenai keputusan tersebut.
Islamabad kian dipandang sebagai ruang netral
Peran Pakistan menguat karena negara itu sebelumnya sudah pernah menjadi tuan rumah pembicaraan langsung antara AS dan Iran. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak disebut berhasil mempersempit sejumlah perbedaan, terutama saat berupaya mempertahankan gencatan senjata yang masa berlakunya hampir habis.
Sejumlah pejabat regional menilai ada kemajuan dalam komunikasi tertutup. Bahkan, sumber yang dikutip Associated Press menyebut AS dan Iran telah mencapai kesepakatan prinsip untuk memperpanjang gencatan senjata, meski identitas sumber itu tidak diungkap karena sensitifnya proses negosiasi.
Tekanan Washington belum melemah
Meski jalur pembicaraan tetap terbuka, Amerika Serikat belum mengendurkan langkah tekanannya. Blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran masih berlaku, dan Gedung Putih juga mengancam akan memperketat sanksi terhadap negara serta perusahaan yang tetap berbisnis dengan Teheran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah telah memperingatkan negara-negara lain dan sektor swasta soal risiko sanksi itu. Sementara itu, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut Washington belum secara resmi meminta perpanjangan gencatan senjata, tetapi pembicaraan masih berjalan intensif.
Tiga isu yang belum menemukan titik temu
Negosiasi masih tersendat pada tiga perkara utama yang dinilai menentukan arah kesepakatan. Tiga isu tersebut menjadi penentu apakah gencatan senjata bisa kembali diperpanjang atau justru berakhir tanpa hasil baru.
- Program nuklir Iran
- Stabilitas Selat Hormuz
- Kompensasi atas kerusakan akibat perang
Iran menyatakan terbuka membahas tingkat pengayaan uranium, tetapi tetap menegaskan haknya untuk melanjutkan program tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan negaranya harus tetap bisa melakukan pengayaan uranium sesuai kebutuhan.
Di sisi AS, tim negosiasi yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance mengusulkan moratorium pengayaan uranium selama 20 tahun. Iran membalas dengan tawaran penghentian sementara selama lima tahun, namun Gedung Putih menolak tawaran itu karena dinilai belum memenuhi tuntutan utama Washington.
Selat Hormuz menjadi titik rawan
Di luar isu nuklir, Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama karena jalur itu dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Setiap gangguan di kawasan tersebut dapat langsung memicu risiko keamanan dan dampak ekonomi yang lebih luas.
Iran memperketat kontrol di kawasan itu setelah blokade laut AS diberlakukan. Centcom menyatakan tidak ada kapal yang berhasil menembus blokade, sementara 10 kapal dagang dilaporkan berbalik arah setelah menerima instruksi.
Dampak konflik terasa di kawasan dan pasar
Konflik yang telah berlangsung hampir tujuh minggu itu menimbulkan korban jiwa besar di berbagai wilayah. Sedikitnya 3.000 orang dilaporkan tewas di Iran, lebih dari 2.100 di Lebanon, serta puluhan korban di Israel dan negara-negara Teluk, sementara 13 personel militer AS juga dilaporkan meninggal.
Di pasar, gejolak sempat mendorong harga minyak dunia naik turun, tetapi peluang meredanya ketegangan memberi respons berbeda. Harga minyak kemudian turun dan saham AS pada Rabu menyentuh rekor baru, menandakan pelaku pasar masih membaca ruang diplomasi sebagai faktor penyeimbang di tengah situasi yang belum stabil.
Arah pembicaraan kini banyak bergantung pada Islamabad
Di saat nada keras masih terdengar dari Teheran melalui sejumlah pejabat militer dan politik, Pakistan menjadi pihak yang kian penting untuk menjaga percakapan tetap hidup. Hasil pembicaraan di Islamabad akan sangat ditentukan oleh kemampuan semua pihak menahan eskalasi sambil mencari formula yang masih dapat diterima kedua belah pihak.
Source: www.beritasatu.com






