Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menegaskan bahwa negaranya perlu membangun jaringan persenjataan yang mandiri. Ia menyebut Israel harus mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat dan memproduksi senjata sendiri agar kebutuhan militernya bisa dipenuhi secara lebih independen.
Pernyataan itu langsung menarik perhatian karena menyentuh salah satu fondasi terpenting kekuatan pertahanan Israel selama puluhan tahun. Hubungan militer antara Israel dan Amerika Serikat dikenal sangat erat, sehingga seruan untuk memperkuat kemandirian strategis memunculkan pertanyaan baru tentang arah hubungan kedua negara.
Dukungan Washington yang selama ini menopang Israel
Sejak Israel berdiri pada 1948, Washington menjadi pendukung utama melalui bantuan ekonomi dan militer. Data Council on Foreign Relations menunjukkan total bantuan Amerika Serikat kepada Israel telah melampaui 300 miliar dolar AS.
Angka itu menjadikan Israel penerima bantuan terbesar dari Washington sejak 1946. Selain itu, perjanjian kerja sama pertahanan yang ditandatangani pada 2016 dan mulai berlaku pada 2019 juga memberi Israel bantuan pembelian persenjataan sekitar 3,8 miliar dolar AS setiap tahun.
Nilai bantuan tersebut setara dengan sekitar 15 persen anggaran pertahanan Israel dan berlaku hingga 2028. Besarnya dukungan itu membuat pernyataan Netanyahu soal kemandirian senjata menjadi sorotan dalam konteks hubungan keamanan yang selama ini saling bergantung.
Seruan yang muncul di tengah perubahan sikap kawasan
Netanyahu menyampaikan dorongan itu saat berbicara di hadapan para perwira cadangan dalam program pelatihan di Tepi Barat. Ia mengatakan Israel tetap menghargai dukungan Amerika, tetapi ketergantungan pada pasokan luar negeri harus dikurangi.
Ia juga menegaskan bahwa Israel perlu memiliki kemampuan industri pertahanan sendiri. Dalam pernyataannya yang dikutip dari AFP, Netanyahu menyebut, “…kami perlu melepaskan diri dari ketergantungan dan membangun jaringan persenjataan independen kami sendiri.”
Seruan itu muncul tidak lama setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Dalam situasi seperti itu, dorongan Netanyahu dipandang sebagai upaya memperkuat ruang gerak Israel di tengah kawasan yang masih sensitif.
Hubungan dengan Trump ikut menambah ketegangan
Pernyataan Netanyahu juga dibaca dalam konteks hubungan yang makin rumit dengan Presiden AS Donald Trump. Keduanya disebut memiliki pandangan berbeda mengenai cara menghadapi Iran dan mengelola keamanan di Timur Tengah.
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump secara terbuka mengkritik langkah Israel dalam konflik dengan kelompok Hizbullah di Lebanon. Trump menilai eskalasi itu bisa mengganggu proses diplomasi dan upaya perdamaian dengan Iran.
Trump juga pernah mengecam Israel dan Iran setelah kedua pihak dituduh melanggar kesepakatan gencatan senjata yang mengakhiri perang selama 12 hari pada tahun lalu. Perbedaan sikap itu memperlihatkan adanya jarak pandang antara Washington dan Tel Aviv dalam merespons konflik kawasan.
Bukan kali pertama gagasan ini muncul
Ketegangan semacam ini bukan hal baru dalam relasi Netanyahu dan Washington. Pada Mei 2025, saat perbedaan sikap soal Iran juga mengemuka, Netanyahu sempat melontarkan gagasan agar Israel mulai melepaskan diri dari ketergantungan pada bantuan Amerika Serikat.
Pernyataan terbaru itu kini muncul lagi dengan nada yang lebih tegas, disertai penekanan pada pembangunan industri pertahanan domestik. Di tengah dukungan besar yang telah lama mengalir dari Washington, sikap Netanyahu menunjukkan keinginan Israel untuk menambah ruang manuver strategisnya sendiri.
Source: www.viva.co.id






