Israel menegaskan operasi militernya di Lebanon akan terus berjalan sampai Hizbullah dibubarkan sepenuhnya. Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich mengatakan target Tel Aviv tidak berhenti pada pelucutan senjata, melainkan mencakup pembubaran total kelompok itu.
Smotrich menyebut Israel tidak akan menarik diri dari zona keamanan yang saat ini dikuasai, termasuk wilayah Kastel Beaufort, selama Hizbullah masih ada. Ia menegaskan kelompok tersebut tidak boleh menjadi bagian dari pemerintahan Lebanon dan tidak boleh memiliki kekuatan militer yang mengancam Israel.
Tekanan di Perbatasan Lebanon Masih Tinggi
Israel masih menduduki sejumlah wilayah di Lebanon selatan, baik area yang telah dikuasai selama puluhan tahun maupun daerah yang direbut dalam konflik 2023-2024. Kondisi itu membuat isu penarikan pasukan tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam pembicaraan yang sedang berlangsung.
Pada saat yang sama, Israel dan Lebanon dijadwalkan menggelar putaran kelima perundingan langsung di Washington pada Selasa. Perundingan yang dimulai pada April itu menjadi salah satu jalur untuk mengakhiri konflik di Lebanon.
Israel Jarakkan Diri dari Negosiasi AS-Iran
Di tengah situasi tersebut, Smotrich juga menegaskan bahwa Israel tidak ikut dalam perundingan Amerika Serikat dan Iran. Dalam wawancara dengan Radio Angkatan Darat Israel, ia mengatakan keputusan itu diambil sendiri oleh Israel.
“Israel tidak menjadi bagian dari perundingan dengan Iran atas pilihan kami sendiri,” kata Smotrich. Ia menambahkan, “Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran sama sekali tidak menyangkut kami.”
Pernyataan itu menegaskan jarak politik Israel dari proses diplomatik antara Washington dan Teheran. Di Israel, langkah Amerika Serikat berunding dengan Iran disebut memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pejabat keamanan dan politik.
Perdebatan Internal dan Korban di Lebanon
Pernyataan Smotrich muncul saat perdebatan tentang nota kesepahaman perdamaian AS-Iran terus berkembang di Israel. Sejumlah pejabat, menurut i24News, khawatir kesepakatan itu justru memperkuat posisi Iran dan jaringan sekutunya di kawasan.
Kritik terhadap pendekatan Amerika Serikat dalam berunding dengan Iran dan Hizbullah juga menguat di dalam negeri Israel. Situasi ini membuat hubungan antara kepentingan keamanan Israel dan jalur diplomasi internasional kembali menjadi sorotan.
Data resmi Lebanon mencatat dampak serangan Israel sangat besar sejak 2 Maret. Lebih dari 4.100 orang tewas dan lebih dari 12.000 orang terluka akibat rangkaian serangan tersebut.
Dengan eskalasi yang masih berlangsung, sikap Israel menunjukkan bahwa operasi di Lebanon belum akan dihentikan dalam waktu dekat. Selama Hizbullah tetap ada dan wilayah perbatasan belum berubah, tekanan militer dan diplomatik di kawasan itu diperkirakan terus berlanjut.
