Selat Hormuz Ditutup Lagi, Iran Makin Menekan AS di Tengah Konflik Lebanon

Author: Redaksi Android62

Penutupan kembali Selat Hormuz membuat jalur diplomasi Iran dan Amerika Serikat kembali berada dalam posisi rawan. Iran memakai langkah itu sebagai kartu tekanan setelah menilai Washington gagal menahan eskalasi Israel di Lebanon.

Keputusan tersebut muncul saat perundingan damai yang dibahas di Swiss belum menghasilkan terobosan baru. Di tengah situasi itu, Teheran menolak membahas program nuklir lebih jauh sebelum serangan di Lebanon mereda dan kompensasi ekonomi yang dijanjikan diberikan.

Jalur strategis yang kembali diperebutkan

Selat Hormuz menjadi bagian penting dari pembahasan karena jalur ini merupakan rute vital bagi pelayaran dan pasokan energi global. Dalam kesepakatan damai yang dibicarakan kedua pihak, pembukaan kembali selat tersebut memang ditempatkan sebagai salah satu inti kesepakatan.

Namun, menurut informasi yang dikutip Reuters, Iran memilih menutup kembali jalur itu setelah tidak melihat tanda nyata berakhirnya pertempuran di Lebanon. Pemerintah AS sempat membantah adanya pemblokadean total dan menyebut masih ada 55 kapal dagang yang berhasil melintas pada hari Sabtu.

Di sisi lain, kantor berita Iran Fars mengutip sumber militer yang menyatakan otoritas Teheran menghentikan penerbitan izin pelayaran baru untuk kapal komersial tanpa batas waktu yang jelas. Data pelacakan kapal independen juga menunjukkan tidak ada lagi kapal yang membagikan koordinat posisi saat melewati selat itu, kecuali armada yang menuju pelabuhan internal Iran.

Swiss, mediator, dan perundingan yang tersendat

Pertemuan di Swiss merupakan langkah awal dari nota kesepahaman yang disepakati sepekan sebelumnya. Isi MoU itu mencakup penghentian konfrontasi bersenjata, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan penghentian invasi militer Israel ke Lebanon yang berlangsung sejak Maret lalu.

Sebelum pertemuan inti dimulai, delegasi Amerika Serikat dan Iran sempat berdiskusi terpisah dengan mediator dari Qatar dan Pakistan. JD Vance juga bertemu singkat dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Field Marshal Asim Munir, bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Israel disebut menjadi batu sandungan utama

Iran menilai kegagalan menghentikan konflik di Lebanon sebagai alasan utama untuk menunda pembahasan yang lebih substansial, termasuk masa depan program nuklir. Sikap itu membuat agenda diplomasi yang semestinya meluas justru tersandera oleh eskalasi di lapangan.

Dokumen kesepakatan damai yang digagas Donald Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sejak Februari lalu juga menuai penolakan di internal Israel. Kabinet Netanyahu memilih absen dari perundingan di Swiss dan menyatakan tidak akan menarik pasukan dari wilayah Lebanon selatan yang diduduki.

Sikap tersebut memperkuat pandangan Teheran bahwa Washington tidak memiliki kendali penuh atas Israel. Dalam konteks itu, Iran menilai kesepakatan damai sulit bergerak maju jika agresi militer Israel masih berlangsung dan tuntutan penarikan pasukan tidak dipenuhi.

Pada awal perang, Trump dan Netanyahu menyebut target operasi militer mereka adalah menghancurkan fasilitas nuklir Iran, melumpuhkan pasokan rudal kelompok proksi, dan memicu penggulingan pemerintahan di Teheran. Hingga pertengahan 2026, belum ada satu pun target strategis itu yang tercapai.

Pengumuman penutupan Selat Hormuz datang saat bursa komoditas global sedang libur, sehingga dampak langsungnya ke pasar belum terlihat sepenuhnya. Tetapi dengan ketegangan yang belum mereda, jalur diplomasi Iran dan Amerika Serikat kini kembali dibayangi konflik Israel di Lebanon dan tarik-menarik kepentingan di kawasan.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru