Banyak orang menilai air rebusan jahe sebagai minuman sederhana yang bisa membantu menjaga kesehatan harian. Namun, pengaruhnya terhadap tekanan darah dan kolesterol tidak bisa dipahami secara sepotong-sepotong karena manfaat yang sering dibicarakan muncul dari beberapa mekanisme sekaligus.
Dalam pembahasan kesehatan jantung, jahe cukup sering disebut karena mengandung senyawa aktif seperti gingerol. Senyawa ini dikaitkan dengan efek antioksidan dan potensi membantu relaksasi pembuluh darah, sehingga air rebusan jahe kerap masuk dalam daftar minuman yang dianggap mendukung kondisi tubuh secara umum.
Dikaitkan dengan tekanan darah
Jahe disebut memiliki efek hipotensi, yaitu membantu menurunkan tekanan darah. Gingerol diduga membantu melemaskan pembuluh darah dan menurunkan resistensi aliran darah, sehingga sirkulasi bisa menjadi lebih lancar.
Kaitan ini membuat air rebusan jahe sering dibahas sebagai pendamping dalam menjaga tekanan darah tetap terkendali. Meski begitu, minuman ini tidak bisa diperlakukan sebagai pengganti obat atau terapi medis bagi orang yang memang memiliki gangguan tekanan darah.
Hubungannya dengan kolesterol
Selain tekanan darah, air rebusan jahe juga sering dikaitkan dengan kadar kolesterol. Hal ini penting karena kolesterol tinggi berhubungan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung dan stroke.
Sejumlah penelitian yang dirangkum WebMD menyebut jahe berpotensi membantu menurunkan kolesterol dan trigliserida. Studi yang dikutip pada 2018 juga mencatat kemungkinan manfaat jahe dalam mengelola triasilgliserol atau TAG serta LDL-C, yaitu kolesterol lipoprotein densitas rendah yang kerap disebut kolesterol jahat.
Bukan cuma soal jantung
Minuman ini juga sering dipilih karena dianggap membantu rasa nyaman tubuh secara lebih luas. Salah satunya terkait pengelolaan berat badan, terutama karena ada penelitian kecil yang menunjukkan efek rasa kenyang setelah minum air rebusan jahe.
Studi yang dipublikasikan di PubMed Central pada 2013 melibatkan 10 pria yang dibagi ke dua kelompok. Kelompok yang minum air rebusan jahe setelah sarapan dilaporkan merasa lebih kenyang, meski temuan itu masih terbatas karena jumlah subjeknya kecil.
Gunanya pun lebih tepat dipahami sebagai pelengkap pola makan sehat. Air rebusan jahe bukan solusi tunggal untuk menurunkan berat badan, tetapi bisa menjadi bagian dari kebiasaan makan yang lebih terjaga.
Potensi meredakan keluhan nyeri
Jahe juga sering dipakai untuk membantu meredakan nyeri. Minuman ini dikaitkan dengan pengurangan nyeri otot setelah olahraga, kram menstruasi, dan keluhan migrain.
Penelitian yang dikutip dari PubMed Central pada 2018 melibatkan 60 orang dewasa dengan migrain. Hasilnya menunjukkan penggunaan jahe sebagai terapi tambahan memberi hasil lebih baik dibanding hanya mengonsumsi obat penghilang rasa sakit.
Mengandung antioksidan
Di luar manfaat yang paling sering dibicarakan, jahe juga memiliki kandungan antioksidan. Gingerol dikenal memiliki sifat antioksidan kuat yang membantu melawan radikal bebas dan mengurangi kerusakan oksidatif pada jaringan tubuh.
Peran ini penting karena stres oksidatif dapat memengaruhi kesehatan sel dalam jangka panjang, termasuk jaringan jantung. Karena itu, air rebusan jahe kerap dipandang sebagai pilihan minuman yang memberi nilai tambah bagi dukungan kesehatan tubuh.
Perlu tetap dibatasi
Meski terlihat bermanfaat, konsumsi jahe tetap perlu dijaga agar tidak berlebihan. FDA menyebut jahe segar aman dikonsumsi hingga 4 gram per hari, sementara beberapa penelitian menyarankan sekitar 1.000 miligram per hari.
Sebagian orang juga bisa mengalami efek samping ringan seperti mual, kembung, mulas, atau diare. Pada pengidap GERD, jahe dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, sehingga respons tubuh perlu diperhatikan sebelum menjadikannya kebiasaan harian.
Air rebusan jahe memang mudah dibuat dan praktis diminum, tetapi manfaatnya akan lebih tepat bila diposisikan sebagai dukungan tambahan. Untuk urusan tekanan darah, kolesterol, dan kondisi tubuh lainnya, respons tiap orang tetap bisa berbeda.
Source: www.beautynesia.id






