Instalasi Karantina Terpadu pertama di Indonesia kini mulai beroperasi di kawasan Puspa Agro Jemundo, Sidoarjo, dengan target utama memangkas biaya logistik dan mempercepat arus barang keluar masuk Jawa Timur. Fasilitas ini diposisikan sebagai bagian penting dari JATIM HUB, kawasan perdagangan dan karantina terpadu yang dirancang untuk membuat layanan lebih ringkas dan efisien.
Kehadiran instalasi tersebut menjadi sinyal bahwa Jawa Timur ingin memperkuat perannya sebagai simpul perdagangan nasional. Di provinsi ini, arus komoditas hewan, ikan, dan tumbuhan berlangsung sangat besar, sehingga layanan yang lambat dan berlapis dinilai tidak lagi memadai.
Khofifah Indar Parawansa meresmikan fasilitas itu bersama Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding. Dalam peresmian tersebut, Jawa Timur kembali diposisikan sebagai daerah yang vital, bukan hanya sebagai lumbung pangan, tetapi juga sebagai pusat distribusi untuk Indonesia Timur.
Konsep JATIM HUB menggabungkan layanan karantina, logistik, dan perdagangan dalam satu kawasan. Pola ini dirancang untuk memotong waktu distribusi sekaligus menekan biaya yang selama ini membebani pelaku usaha.
Khofifah menilai pengawasan lalu lintas komoditas tidak bisa lagi berjalan terpisah. Barang yang masuk maupun keluar tetap harus dijaga kualitas, keamanan, dan legalitasnya, tetapi prosesnya perlu dibuat lebih cepat dan lebih modern.
Tekanan efisiensi menjadi semakin penting karena volume pergerakan barang di Jawa Timur sangat besar. Data Pemprov Jatim menunjukkan lebih dari 350 ribu frekuensi media pembawa hewan, ikan, dan tumbuhan bergerak setiap tahun di wilayah ini.
Selain itu, potensi kontainer ekspor-impor yang masuk ke instalasi karantina diperkirakan mencapai 911.360 TEUs per tahun. Dari jumlah itu, 811.728 TEUs berasal dari impor dan 99.632 TEUs berasal dari ekspor.
Arus sebesar itu ikut memengaruhi dwelling time dan pada akhirnya berdampak pada harga barang di tingkat konsumen. Karena itu, efisiensi logistik tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan dunia usaha, tetapi juga berkaitan langsung dengan stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Posisi Jawa Timur sebagai simpul logistik nasional ditopang infrastruktur yang cukup kuat. Provinsi ini memiliki tujuh bandara, 37 pelabuhan, dan 12 ruas jalan tol, serta didukung dua kawasan ekonomi khusus, 13 kawasan industri, dan satu kawasan industri halal.
Pelabuhan Tanjung Perak juga menjadi titik penting dalam jaringan distribusi nasional. Saat ini, pelabuhan tersebut melayani 24 dari 41 rute Tol Laut nasional, sementara hampir 80 persen pasokan logistik ke Indonesia Timur berasal dari Jawa Timur.
Karena dukungan itu, Khofifah menyebut Jatim semakin kuat sebagai pusat gravitasi logistik nasional dan gerbang baru Nusantara. Dalam kerangka tersebut, keberadaan karantina terpadu dianggap sebagai pelengkap yang membuat alur layanan lebih terkonsolidasi.
Fasilitas baru ini juga diarahkan untuk membuka peluang yang lebih luas bagi koperasi, UMKM, dan IKM. Selama ini, banyak pelaku usaha kecil menghadapi kendala distribusi yang lambat dan biaya logistik yang tinggi ketika mencoba masuk ke pasar ekspor.
Khofifah menilai produk koperasi, UKM, dan IKM perlu mendapat ruang lebih besar untuk menembus pasar global dengan standar yang jelas. Dalam persaingan internasional, kecepatan layanan menjadi bagian dari daya saing, karena keterlambatan distribusi bisa membuat produk lokal tertinggal.
Instalasi Karantina Terpadu itu dilengkapi pemeriksaan, pengasingan, tindakan karantina, laboratorium, cold storage, pergudangan, dan tempat penimbunan sementara dalam satu kawasan. Sistem pemeriksaan bersama dengan Bea Cukai juga diterapkan agar proses bisa berlangsung lebih cepat.
Abdul Kadir Karding menyebut fasilitas tersebut penting untuk menjaga ketahanan hayati nasional. Ia menegaskan bahwa tugas karantina bukan hanya mencegah penyakit hewan, ikan, dan tumbuhan, tetapi juga menjaga keamanan pangan nasional.
Pada momen peresmian, dilakukan pula pelepasan ekspor sejumlah komoditas. Barang yang dilepas meliputi tuna beku tujuan United States, pakan ternak ke Timor-Leste, dan benih timun ke Lombok Barat.
Langkah itu menunjukkan fasilitas baru ini langsung diarahkan untuk mendukung perdagangan yang nyata, bukan sekadar menjadi proyek infrastruktur. Di tengah tekanan ekonomi global, Karantina Terpadu Jatim kini dipasang sebagai salah satu tumpuan untuk mempercepat arus barang dan menjaga stabilitas harga kebutuhan masyarakat.
Source: radarbangsa.co.id