Jawa Tengah Siapkan Pelajaran Koperasi Dari SD Hingga SMA, Mulai Juli 2026

Jawa Tengah menyiapkan kurikulum perkoperasian untuk masuk ke sekolah mulai Juli 2026, dengan sasaran siswa SD, SMP, hingga SMA. Langkah ini ditempatkan sebagai upaya membentuk jiwa kewirausahaan berbasis ekonomi kerakyatan sejak dini melalui pendidikan formal.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan bahwa kebijakan ini tidak sekadar mengenalkan koperasi sebagai istilah umum. Arah utamanya adalah membangun pemahaman ekonomi yang lebih terstruktur sejak bangku sekolah, sekaligus menanamkan nilai gotong royong dan kebersamaan dalam proses belajar.

Kesiapan program itu menguat setelah Gubernur Jawa Tengah menerima laporan resmi dari Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah di Kantor Gubernur pada Rabu, 20 Mei 2026. Dalam laporan tersebut, perangkat ajar, materi pembelajaran, dan kesiapan regulasi lokal disebut sudah memasuki tahap finalisasi untuk menyambut tahun ajaran baru 2026/2027.

Pemprov Jawa Tengah juga menargetkan peluncuran resmi kurikulum perkoperasian pada awal Juni 2026. Jadwal itu disiapkan agar dinas pendidikan dan sekolah memiliki ruang waktu yang cukup untuk melakukan sosialisasi sebelum penerapan berjalan penuh di satuan pendidikan.

Materi disesuaikan per jenjang

Penyusunan materi ajar dibuat mengikuti perkembangan kognitif siswa di tiap jenjang. Dengan cara ini, pemahaman tentang koperasi diharapkan lebih mudah diterima karena disajikan sesuai usia dan kebutuhan belajar masing-masing kelompok pelajar.

Di tingkat SD, pembelajaran difokuskan pada pengenalan dasar menabung, prinsip kebersamaan, nilai gotong royong, simulasi unit simpan pinjam sederhana, dan pembentukan karakter jujur. Pendekatan ini dirancang agar siswa mengenal koperasi lewat praktik yang sederhana dan dekat dengan keseharian.

Untuk jenjang SMP, materi mulai masuk ke struktur organisasi ekonomi, fungsi rapat anggota, dasar pengelolaan keuangan kelompok, dan praktik yang berkaitan dengan koperasi sekolah. Tahap ini diposisikan sebagai jembatan dari pemahaman dasar menuju pengelolaan yang lebih sistematis.

Sementara itu, siswa SMA dan SMK akan diarahkan pada praktik digitalisasi unit usaha, penyusunan laporan keuangan, dan teknik ekspansi bisnis rintisan. Pemerintah provinsi menilai pembekalan tersebut penting agar pelajar mengenal kewirausahaan yang lebih aplikatif dan berbasis teknologi.

Target kompetensi sudah dipetakan

Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah memandang integrasi kurikulum ini sebagai pilar penting untuk mendukung program Koperasi Merah Putih yang sedang digalakkan secara nasional. Dari jalur pendidikan formal, pemerintah berharap lahir regenerasi pengurus ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan.

Target kompetensi siswa juga telah dipetakan per jenjang. Untuk SD, fokusnya ada pada pemahaman nilai kebersamaan dengan target usaha praktik tabungan siswa, sedangkan di SMP kompetensi utama yang dibidik adalah dasar manajemen organisasi dengan target usaha praktik koperasi sekolah.

Pada jenjang SMA, kompetensi yang dikejar adalah kewirausahaan digital dengan target usaha praktik unit usaha mandiri. Skema ini menunjukkan bahwa pendidikan koperasi di Jawa Tengah tidak diarahkan sebagai pelajaran teoritis semata, tetapi sebagai bekal yang bisa dipraktikkan secara bertahap.

Pengawasan lintas dinas disiapkan

Setelah peluncuran resmi awal Juni, tim gabungan lintas dinas akan melakukan pengawasan dan evaluasi berkala. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah juga masih merampungkan petunjuk teknis penempatan materi di sekolah.

Penempatan materi disiapkan dalam dua opsi, yakni sebagai mata pelajaran muatan lokal mandiri atau sebagai bagian dari mata pelajaran yang sudah ada. Melalui skema itu, pemerintah daerah ingin kurikulum perkoperasian bisa masuk ke ruang belajar secara fleksibel sekaligus tetap terukur.

Source: www.pdiperjuanganbali.id

Berita Terkait