Jawa Tengah Tetap Diburu Investor, Serapan Kerja Menguat di Tengah Gejolak Global

Jawa Tengah tetap mencatat daya tarik investasi yang kuat di tengah gejolak geopolitik dan tekanan fiskal global. Pada awal 2026, serapan tenaga kerjanya dari arus investasi sudah mencapai sekitar 92 ribu orang dari 24.957 proyek.

Realisasi investasi pada periode Januari-Maret 2026 juga mencapai Rp23,02 triliun, atau 23,23 persen dari target tahun ini yang ditetapkan sebesar Rp99,09 triliun. Dari total itu, penanaman modal asing menyumbang Rp12,98 triliun, sedangkan penanaman modal dalam negeri mencapai Rp10,04 triliun.

Pesan optimistis dari Pemprov Jawa Tengah

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan iklim investasi di provinsi tersebut tetap kondusif. Pemerintah daerah, kata dia, terus menyiapkan berbagai kemudahan dan dukungan agar minat investor tidak surut.

Penegasan itu mengemuka dalam acara jamuan bisnis bersama pelaku usaha dan pemangku kepentingan perekonomian se-Jawa Tengah di Hotel Padma Semarang, Selasa 30 Juni 2026 malam. Kegiatan tersebut dihadiri 105 investor dan pelaku usaha, mulai dari penanam modal asing, penanam modal dalam negeri, pengelola kawasan industri, hingga jajaran Bank Jateng.

Daya saing didorong lewat kemudahan dan tenaga kerja

Luthfi menyebut Jawa Tengah masih sangat menarik bagi pengembangan investasi, terutama sektor industri padat karya. Menurut dia, industri padat modal juga tetap terbuka untuk masuk ke daerah ini.

Untuk menjaga minat investor, pemerintah provinsi memperkuat daya saing melalui penyederhanaan perizinan, jaminan keamanan, dan penyediaan tenaga kerja siap pakai. Kesiapan tenaga kerja itu ditopang balai latihan kerja, pendidikan vokasi, dan perguruan tinggi.

Kinerja 2025 ikut menguatkan posisi Jateng

Kinerja investasi sepanjang 2025 turut mempertegas posisi Jawa Tengah sebagai magnet modal. Dalam periode tersebut, realisasi investasi mencapai Rp110,64 triliun dengan penyerapan 418.138 tenaga kerja.

Angka itu menunjukkan bahwa arus modal ke Jawa Tengah tidak hanya bertahan, tetapi juga berdampak langsung pada pembukaan lapangan kerja. Di tengah situasi global yang belum stabil, capaian itu menjadi modal penting bagi daerah untuk mempertahankan kepercayaan investor.

Ekosistem industri dan logistik terus dipersiapkan

Pemprov Jawa Tengah juga menyiapkan pengembangan 12 kawasan industri baru. Kawasan tersebut tersebar di Kabupaten Rembang, Demak, Kendal, Batang, Brebes, Cilacap, Banyumas, Kebumen, Semarang, Boyolali, Grobogan, dan Kota Semarang.

Di saat yang sama, pemerintah memperkuat infrastruktur logistik melalui pengembangan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang serta dry port di Kawasan Industri Batang dan Kendal. Langkah ini ditujukan untuk menunjang aktivitas industri dan memperlancar distribusi barang.

Bank Jateng diposisikan sebagai mitra investasi

Dalam kesempatan yang sama, Luthfi mendorong investor memanfaatkan layanan Bank Jateng sebagai bagian dari ekosistem investasi daerah. Ia menilai penggunaan bank daerah akan memperkuat perputaran ekonomi di Jawa Tengah karena mayoritas saham Bank Jateng dimiliki pemerintah kabupaten, kota, dan provinsi.

Menurut Luthfi, investasi yang memakai bank daerah akan memunculkan ekonomi baru dan sirkulasi keuangan baru di wilayah setempat. Direktur Utama Bank Jateng Bambang Widyatmoko menyatakan bank tersebut siap menjadi mitra strategis investor melalui pembiayaan investasi, modal kerja, dan transaksi perbankan.

Bank Jateng juga membuka peluang kerja sama lebih luas dengan pelaku usaha untuk mendukung pertumbuhan investasi di Jawa Tengah. Dengan dukungan layanan keuangan, infrastruktur industri, dan tenaga kerja siap pakai, provinsi ini terus menjaga posisinya sebagai tujuan investasi yang kompetitif.

Source: suarabaru.id

Berita Terkait