Kaaseeh Apparel yang dirintis Dewi Agustiati kini sudah mengirim sekitar 25 kilogram produk batik hingga dua kali dalam sebulan ke San Diego, Amerika Serikat. Perjalanan usaha yang dimulai dari modal Rp 600 ribu itu juga mencatat omzet kotor yang disebut bisa mencapai Rp 50 juta per bulan.
Keberhasilan tersebut tidak datang dalam waktu singkat. Dewi, yang kini berusia 59 tahun, membangun usaha dari rumah dengan bekal kebutuhan sederhana untuk memiliki penghasilan yang stabil sampai usia lanjut tanpa sepenuhnya bergantung pada usaha suaminya.
Menyesuaikan produk untuk pasar California
Langkah pertama Dewi berangkat dari jaringan keluarga dan teman di luar negeri. Ia sempat mencoba mengirim batik ke Amerika Serikat, tetapi lalu menemukan bahwa selera pasar internasional berbeda jauh dari pasar dalam negeri.
Ia kemudian melakukan riset panjang untuk membaca respons konsumen, termasuk memilah warna dan motif yang paling diminati. Dari proses itu, Dewi melihat ada warna tertentu yang tidak laku sehingga penyesuaian harus dilakukan terus-menerus.
Hasil riset tersebut mengarah pada batik garutan untuk pasar California. Selain motif, ia juga menyesuaikan bahan dengan iklim setempat melalui kain katun dan rayon yang lebih sejuk dan nyaman dipakai.
Persaingan Jakarta memaksa perubahan baru
Setelah produknya diterima di Amerika Serikat, Dewi tidak berhenti pada satu pasar saja. Ia kemudian melirik Jakarta sebagai pasar baru, tetapi langkah itu justru membuka tantangan yang berbeda dan lebih ketat.
Jakarta dipenuhi perajin dan pengusaha batik dari berbagai daerah, sehingga persaingannya menjadi jauh lebih sengit. Selera konsumen ibu kota juga berlawanan dengan pasar California karena mereka cenderung menyukai warna yang lebih berani dan motif yang lebih mencolok.
Kondisi tersebut membuat Dewi harus mencari modal baru untuk menyesuaikan produk dari awal lagi. Tahap ini menjadi salah satu titik penting dalam perkembangan Kaaseeh Apparel.
Pendampingan, kurasi, dan akses pembiayaan
Titik balik lain datang saat Dewi mengenal program Jakpreneur melalui lingkungan sekitarnya. Dari sana, ia memperoleh pendampingan dan mengikuti kurasi produk di Jakarta Creative Hub.
Hasil kurasi itu memberi dorongan besar bagi usahanya. Produk Kaaseeh Apparel dinilai rapi, terutama pada sisi jahitan dan kemasan, lalu meraih nilai A.
Pengakuan itu membuka jalan bagi Dewi untuk tampil di berbagai pameran, mulai dari area Balai Kota hingga Grand Indonesia. Jangkauan usahanya pun makin terlihat di pasar yang lebih luas.
Produksi naik, pekerja sekitar ikut terbantu
Ekspansi Kaaseeh Apparel ikut diperkuat lewat kemitraan dengan Rumah BUMN Jakarta. Dewi kemudian terpilih mengikuti program BRIncubator dan mendapatkan pelatihan manajemen bisnis secara daring selama tiga bulan.
Untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, ia mengajukan Kredit Usaha Rakyat dari Bank BRI dan memperoleh modal Rp 70 juta. Dukungan itu membantu kapasitas produksi naik untuk memenuhi pengiriman rutin ke Amerika Serikat.
Dewi juga memberdayakan tiga penjahit di sekitarnya dan bahkan membantu membelikan mesin jahit bagi salah satunya di kawasan Cijantung. Baginya, keberhasilan usaha harus ikut memberi manfaat bagi orang lain.
Langkah berikutnya menuju Las Vegas
Di tengah pencapaian itu, Dewi masih menatap panggung yang lebih besar. Ia kini bersiap membawa karya handmade buatannya ke pameran internasional di Las Vegas, Amerika Serikat, setelah melalui proses kurasi yang membuatnya diterima ikut tampil di sana.
Bank BRI menilai pencapaian seperti ini sejalan dengan upaya mendorong UMKM naik kelas. Arbi menyebut penyaluran pembiayaan seperti KUR diharapkan dapat menambah kemampuan usaha pelaku UMKM agar mampu memperluas jangkauan pasar.







