PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) langsung menyiapkan langkah ekspansi setelah melantai di bursa. Emiten rumah sakit dan klinik mata itu berencana menggencarkan penambahan dua fasilitas tambahan mulai bulan depan, di tengah target bisnis yang tetap agresif untuk 2026.
Perseroan saat ini mengelola 5 rumah sakit mata dan 11 klinik mata di seluruh Indonesia. Melansir laman resminya, JECX juga merencanakan pembukaan dua cabang baru di Kediri, Jawa Timur, dan Tangerang, Banten, tahun ini.
Ekspansi layanan mata dan target bisnis JECX
Prof. dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, Sp.M(K), Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Group, mengatakan ekspansi dua fasilitas tambahan itu akan mulai digencarkan bulan depan. JEC Group juga menegaskan rencana pendirian rumah sakit JEC di KEK Sanur, Bali.
“Ini, dalam tanda kutip, ya, tugas dari pemerintah,” kata Tjahjono, seraya menyebut JEC sebagai satu-satunya rumah sakit berjenama Indonesia di KEK Sanur tanpa menggandeng perusahaan asing.
Untuk 2026, pengelola jaringan Jakarta Eye Center itu menargetkan pendapatan di kisaran Rp900 miliar hingga Rp1 triliun dengan laba bersih Rp320 miliar. Direktur Keuangan JEC Group Budi Djatmiko menyebut target tersebut masih bisa naik atau turun 10% tergantung tekanan biaya operasional dan upaya efisiensi.
Di sisi lain, saham JECX menguat tajam pada hari pertama perdagangan, naik 24,8% dari Rp1.250 menjadi Rp1.560 pada akhir sesi I. Dari penawaran 487,98 juta saham, perseroan meraup dana IPO sebesar Rp609,98 miliar.
Dana tersebut dialokasikan 22,95% untuk membayar utang bank, 30,32% untuk tiga anak usaha, yakni PT Nitra Sanata Bali di Bali, PT Orbita di Makassar, dan PT JEC Candi Sejahtera di Semarang, serta 46,72% sebagai modal kerja operasional termasuk gaji dan tunjangan karyawan.
JELI siapkan produk baru dan tambah kapasitas produksi
Berbeda dengan JECX, PT Niramas Utama Tbk (JELI) memusatkan penggunaan dana IPO pada penguatan lini produk dan distribusi. Harga saham produsen Inaco Jelly itu naik 25% ke level Rp1.125 pada akhir sesi I perdagangan Selasa (7/7), dari harga IPO Rp900 per lembar.
JELI melepas 226 juta saham dengan nilai penawaran umum mencapai Rp239,4 miliar. Sebesar 56,7% dana IPO dialokasikan untuk anak usaha PT Niramas Pandaan Sejahtera (NPS) guna meningkatkan kapasitas produksi gummy dan jelly.
Adhi Siswaya Lukman, Direktur JELI, mengatakan perseroan akan meluncurkan sejumlah produk baru pada akhir kuartal III dan IV 2026. “Kita konsisten memperbaiki mutu, terus menambah SKU, dan kita tahun ini ada launching beberapa produk baru. Nanti September ada, di November ada,” ujarnya, Selasa (7/7).
Sebesar 10,04% dana IPO lainnya dipakai sebagai modal kerja JELI untuk memperkuat logistik dan distribusi. Manajemen juga membidik pertumbuhan pendapatan hingga 26% pada 2026, dengan laba bersih yang diharapkan lebih tinggi dari tahun sebelumnya.
Target itu muncul setelah pendapatan JELI turun 4,5% secara tahunan menjadi Rp753,05 miliar hingga akhir 2025, meski laba bersih tahun berjalan melonjak lebih dari tiga kali lipat menjadi Rp39,02 miliar. Sementara itu, JECX pada periode yang sama membukukan pendapatan Rp926,76 miliar, tumbuh 4% secara tahunan, dengan laba bersih tahun berjalan naik 16,05% menjadi Rp72,5 miliar.
Perbandingan penggunaan dana IPO JELI dan JECX
| Emiten | Fokus Dana IPO | Rencana Lanjutan |
|---|---|---|
| JELI | Kapasitas produksi, logistik, dan distribusi | Peluncuran produk baru pada September dan November |
| JECX | Pelunasan utang, dukungan anak usaha, modal kerja | Ekspansi dua fasilitas tambahan dan dua cabang baru |
Kedua emiten sama-sama memulai perjalanan bursa dengan lonjakan harga yang langsung menyentuh auto-reject atas. Namun, fokus penggunaan dana IPO mereka memperlihatkan strategi yang berbeda, dengan JELI mendorong pertumbuhan produk dan JECX mempercepat ekspansi jaringan layanan mata.
