Penemuan makam di Marina el-Alamein memberi petunjuk baru tentang ritual penguburan masyarakat kuno di pesisir Mesir. Di salah satu sarkofagus granit sepanjang sekitar 2,5 meter, arkeolog menemukan sisa kerangka manusia, sementara empat keping emas juga diletakkan di mulut beberapa jenazah.
Praktik itu dikenal sebagai “lidah emas” dan dipercaya sebagai tradisi pemakaman untuk membantu orang yang meninggal berbicara dengan para dewa di alam baka. Di area yang sama, tim juga menemukan kendi, amphora, lampu minyak, piring, altar, dan wadah batu kapur yang memperkaya gambaran tentang perlengkapan pemakaman kala itu.
Makam batu dan temuan di pesisir Alamein
Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir menyebut penggalian terbaru di situs dekat Kota Alamein itu menghasilkan 18 makam kuno. Sebanyak 11 makam dipahat di batu dengan kedalaman rata-rata delapan meter, sedangkan tujuh lainnya merupakan makam permukaan yang dibangun menggunakan batu kapur.
Total makam yang telah ditemukan di kawasan itu kini mencapai 48. Eman Abdel-Khaliq, kepala misi arkeologi, mengatakan satu sarkofagus granit yang ditemukan masih terus diteliti, termasuk sisa kerangka di dalamnya dan patung sphinx dari plester yang berada di dekat lokasi.
Marina el-Alamein pertama kali ditemukan pada 1986. Para arkeolog meyakini kawasan itu merupakan kota pelabuhan kuno Yunani-Romawi bernama Leukaspis, yang dibangun pada abad ke-2 Masehi dan berkembang pesat hingga abad ke-4.
Kota Bizantium yang memperlihatkan kehidupan harian
Temuan lain datang dari Oasis Dakhla, wilayah gurun barat Mesir yang kini masuk daftar tentatif UNESCO sebagai calon Situs Warisan Dunia. Di sana, arkeolog menemukan pemukiman dari abad ke-4 Masehi yang berasal dari era Kekaisaran Bizantium.
Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir menilai situs ini memberi gambaran rinci tentang kehidupan sehari-hari, perkembangan tata kota, dan aktivitas ekonomi ketika Mesir masih berada di bawah Bizantium. Jalan utama kota membujur dari utara ke selatan dan berpotongan dengan jalan timur ke barat, lalu membentuk alun-alun terbuka serta ruang publik.
Di pusat permukiman, para arkeolog menemukan gereja bergaya basilika dari pertengahan abad ke-4 yang menghadap langsung ke jalan-jalan utama kota. Mahmoud Massoud, ketua misi arkeologi, mengatakan tim juga menemukan sisa dua menara pengawas yang diduga dipakai untuk menjaga wilayah pinggiran kota.
Rumah, roti, dan catatan sehari-hari
Di situs yang sama, arkeolog menemukan bangunan dengan benteng pertahanan kuat, dinding tebal, dan banyak rumah yang memiliki ruang penerima tamu serta atap berbentuk lengkung. Salah satu bangunan paling menonjol adalah rumah milik Tisous, seorang diakon gereja, yang diperkirakan berasal dari paruh kedua abad ke-4.
Para arkeolog meyakini rumah itu pernah difungsikan sebagai gereja rumah sebelum basilika utama kota berdiri. Jejak kehidupan sehari-hari juga tampak dari tungku pembuat roti, dapur, alat penggiling, koin perunggu, prasasti berbahasa Latin, dan simbol-simbol Kristen yang ditemukan di permukiman itu.
Sekelompok koin emas juga ditemukan dan disebut berasal dari masa pemerintahan Kaisar Romawi Constantius II, yang memerintah antara 337 hingga 361 Masehi. Kepala Departemen Purbakala Islam, Koptik, dan Yahudi, Diaa Zahran, mengatakan timnya turut menemukan sekitar 200 pecahan tembikar atau ostraca yang dulu digunakan sebagai media tulis.
Isi ostraca itu mencakup catatan transaksi perdagangan, surat-menyurat, dan berbagai aspek kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Temuan-temuan itu memperlihatkan bahwa kawasan tersebut bukan hanya pusat permukiman, tetapi juga komunitas yang aktif secara sosial dan ekonomi.
| Lokasi | Temuan Utama | Periode |
|---|---|---|
| Oasis Dakhla | Pemukiman, gereja basilika, rumah Tisous, ostraca, koin emas | Abad ke-4 Masehi |
| Marina el-Alamein | 18 makam, sarkofagus granit, “lidah emas”, artefak pemakaman | Yunani-Romawi, berkembang hingga abad ke-4 |
Kedua temuan itu menambah lapisan baru dalam pemahaman tentang Mesir kuno, dari ruang hidup harian di gurun barat hingga tradisi penguburan di pesisir Mediterania. Detail yang tersisa membuat para arkeolog bisa membaca bukan hanya bangunan dan benda, tetapi juga cara masyarakatnya bekerja, beribadah, dan memaknai kehidupan setelah kematian.
