Jepang Pilih Adopsi Kerabat 600 Tahun Jauh Ketimbang Membuka Jalan bagi Aiko

Author: Redaksi Android62

Jepang memilih membuka jalur adopsi bagi kerabat laki-laki dari cabang keluarga yang terpisah hingga sekitar 600 tahun, alih-alih memberi hak suksesi kepada Putri Aiko. Keputusan ini diambil ketika jumlah calon pewaris takhta dari garis laki-laki terus menyusut.

Parlemen Jepang pada Jumat, 17 Juli 2026, mengesahkan revisi Undang-Undang Rumah Tangga Kekaisaran. Revisi tersebut mempertahankan prinsip bahwa takhta hanya dapat diwariskan melalui garis ayah kepada laki-laki.

Jalur Baru untuk Kerabat Cabang Jauh

Aturan baru memperbolehkan keturunan laki-laki yang belum menikah dan berusia setidaknya 15 tahun dari cabang jauh keluarga kekaisaran untuk diadopsi. Mereka harus tetap berasal dari garis keturunan ayah agar dapat masuk ke keluarga kekaisaran.

Adopsi itu juga membuka kemungkinan keturunan mereka masuk ke jalur suksesi. Pemerintah memandang langkah tersebut sebagai cara menjaga kesinambungan takhta tanpa mengubah sistem suksesi laki-laki.

Kebijakan ini terkait dengan 11 cabang keluarga kekaisaran yang kehilangan statusnya pada 1947. Sebanyak 51 anggotanya saat itu keluar dari lingkungan istana, terutama untuk mengurangi beban keuangan setelah Perang Dunia II.

Pejabat Badan Rumah Tangga Kekaisaran, Yoshimi Ogata, menyatakan hubungan cabang-cabang tersebut dengan Kaisar Naruhito sangat jauh. Leluhur laki-laki mereka disebut terpisah sekitar 600 tahun atau sedikitnya 36 generasi.

Daftar Pewaris yang Kian Pendek

Di bawah aturan yang berlaku, urutan pewaris takhta Jepang hanya menyisakan beberapa nama laki-laki. Pangeran Hisahito menjadi figur penting karena ia merupakan anak laki-laki pertama yang lahir di keluarga kekaisaran dalam empat dekade.

Urutan Calon Pewaris Keterangan
1 Putra Mahkota Akishino Adik laki-laki Kaisar Naruhito
2 Pangeran Hisahito Putra Akishino, berusia 19 tahun
3 Paman Kaisar Naruhito Berusia 90 tahun

Keluarga kekaisaran tidak memiliki anggota yang masih anak-anak. Dari 16 anggota dewasa, hanya lima orang yang laki-laki, sehingga isu keberlanjutan suksesi kembali mengemuka.

Perdana Menteri Sanae Takaichi menyambut pengesahan revisi itu dengan emosional. “Saya sangat terharu,” katanya kepada wartawan, seperti dilaporkan Associated Press.

Aiko Tetap Tidak Masuk Jalur Takhta

Putri Aiko, anak tunggal Kaisar Naruhito yang populer di publik, tetap tidak dapat menggantikan ayahnya. Revisi hanya mengizinkan para putri mempertahankan status kekaisaran setelah menikah dengan rakyat biasa dan melanjutkan tugas resmi.

Hak untuk mewarisi takhta tetap tidak diberikan kepada mereka. Undang-undang membolehkan seorang kaisar lahir dari ibu rakyat biasa, tetapi hak suksesi hanya berlaku bagi anak laki-laki dengan ayah berdarah kekaisaran.

Menurut Liputan6.com, ketentuan adopsi kerabat jauh menjadi bagian yang memicu kritik paling tajam. Kartunis Yoshinori Kobayashi, pendukung Aiko, mempertanyakan alasan pemerintah lebih memilih calon dari keluarga yang tidak dikenal publik.

“Siapa yang menginginkan anak dari seseorang yang diadopsi dan tidak dikenal siapa pun menjadi kaisar, bukannya Aiko?” ujar Kobayashi. Kritik itu mencerminkan perdebatan antara upaya mempertahankan tradisi dan tuntutan perubahan sistem suksesi.

Perdebatan tentang Tradisi dan Perempuan

Pakar monarki Universitas Nagoya, Hideya Kawanishi, menilai aturan baru menunjukkan penolakan tegas terhadap kemungkinan kaisar perempuan. “Mereka tidak bisa terang-terangan mengatakan bahwa laki-laki dianggap lebih unggul, jadi mereka membungkusnya dengan dalih tradisi,” katanya.

Jepang pernah memiliki delapan kaisar perempuan sepanjang sejarahnya. Kaisar perempuan terakhir, Go-Sakuramachi, bertakhta dari 1762 hingga 1770.

Pembatasan resmi atas suksesi laki-laki dari garis ayah baru dicantumkan dalam undang-undang pada 1890, saat Jepang memperkuat tatanan patriarkal. Sebagian besar ketentuan itu dipertahankan dalam undang-undang yang berlaku sejak 1947.

Di tengah pilihan adopsi kerabat jauh, sejumlah mantan anggota keluarga kekaisaran juga menyatakan belum tentu ada anggota cabang yang bersedia kembali ke kehidupan istana. Kehidupan tersebut dikenal memiliki berbagai pembatasan bagi anggota keluarga kekaisaran.

Source: www.liputan6.com
Berita Terbaru