Jepang kini menempatkan tepung beras sebagai salah satu jalan utama untuk mengerek kembali permintaan beras yang terus melemah. Pemerintah bahkan menargetkan permintaan tepung beras naik dua kali lipat dari capaian 2025 menjadi 130.000 ton pada 2030.
Dorongan itu muncul di tengah konsumsi beras domestik yang terus turun. Berdasarkan data Organisasi Pendukung Pasokan Beras Stabil, konsumsi rata-rata per kapita per bulan merosot 6,1 persen dan hanya mencapai 4.435 gram dalam periode yang berakhir Maret 2026, level terendah dalam tujuh tahun terakhir.
Ragam Produk yang Diincar Pemerintah
Melalui Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, Jepang mendorong penggunaan tepung beras untuk beragam olahan, terutama kue dan makanan penutup. Di kantor kementerian pada awal Juli 2026, puluhan produsen dari berbagai daerah berkumpul dalam sebuah acara yang menampilkan produk berbahan dasar beras.
Sebanyak 22 produsen ikut memperkenalkan produk mereka dalam kegiatan itu. Variasinya menunjukkan bahwa tepung beras tidak hanya diposisikan untuk makanan tradisional, tetapi juga untuk olahan bergaya modern yang lebih dekat dengan selera pasar saat ini.
| Jenis Produk | Contoh | Komposisi Tepung Beras |
|---|---|---|
| Kue kering | Snack dan sajian ringan | 10% hingga 100% |
| Cake | Kue bergaya Barat | 10% hingga 100% |
| Baumkuchen | Kue lapis khas Eropa | 10% hingga 100% |
| Brownies | Dessert populer | 10% hingga 100% |
| Hidangan penutup lain | Beragam dessert berbahan tepung beras | 10% hingga 100% |
Rentang komposisi yang fleksibel, dari 10 persen hingga 100 persen tepung beras, membuat bahan ini bisa masuk ke banyak jenis makanan tanpa mengubah arah produk secara drastis. Karena itu, pemerintah melihat tepung beras sebagai bahan yang bisa diperluas pemakaiannya di luar konsumsi beras biasa.
Polvoron dengan Sentuhan Jepang
Salah satu contoh yang menarik datang dari Edelweiss Co. asal Amagasaki, Prefektur Hyogo. Perusahaan itu memperkenalkan polvoron, makanan penutup tradisional Spanyol, yang dibuat dengan tepung beras sebagai pengganti pendekatan umum yang memakai tepung terigu panggang.
Perusahaan tersebut menilai penggunaan tepung beras membuat proses produksi lebih sederhana karena tidak perlu memanggang tepung terlebih dahulu. Juru bicara perusahaan mengatakan, “Dengan menggunakan tepung beras, kita dapat melewati proses pemanggangan dan memberikan sentuhan Jepang pada kue-kue ini.”
Pasar Lebih Luas, Edukasi Jadi Kunci
Minat terhadap tepung beras juga datang dari luar Jepang. Produk ini dilirik karena bebas gluten dan menjadi pilihan bagi orang yang alergi gandum maupun yang menjalani pola makan bebas gluten.
Dalam acara tersebut, koki profesional dan pelaku industri penggilingan tepung ikut berdiskusi mengenai pentingnya edukasi publik. Mereka menyoroti manfaat kesehatan tepung beras serta perbedaannya dari tepung terigu agar masyarakat lebih paham cara memakainya.
Pemerintah Jepang menilai edukasi publik penting agar tepung beras tidak lagi dipahami hanya sebagai bahan alternatif. Harapannya, bahan ini bisa menjadi bagian dari konsumsi harian dan sekaligus membuka peluang baru bagi industri olahan beras di pasar domestik maupun internasional.
Tekanan Produksi dan Kebijakan Baru
Di saat permintaan beras melemah, pemerintah juga mengambil langkah untuk menahan risiko kelebihan produksi. Pada Juni 2026, DPR Jepang mengesahkan revisi undang-undang mengenai pasokan dan penetapan harga pangan pokok yang stabil.
Dalam kegiatan itu, Menteri Pertanian Jepang Norikazu Suzuki menegaskan arah kebijakan yang ingin dicapai pemerintah. Ia mendorong masyarakat melihat produk berbahan tepung beras sebagai pilihan yang tetap enak dan tidak kalah dari olahan tepung terigu.
Sejalan dengan itu, pemerintah terus mendorong diversifikasi pemanfaatan beras melalui produk berbasis tepung beras. Strategi ini dipakai untuk menjaga keberlanjutan sektor pangan nasional sekaligus memperluas pasar bagi industri olahan beras.
Source: www.viva.co.id






