Jepang Masih Terjebak Di 16 Besar, Formasi Tiga Bek Disiapkan Untuk Mematahkan Pola Lama

Author: Redaksi Android62

Jepang datang ke Piala Dunia 2026 dengan bekal yang jarang mereka miliki di edisi-edisi sebelumnya: sistem yang lebih agresif, produktivitas tinggi di kualifikasi, dan kepercayaan diri untuk menantang batas lama mereka. Di saat banyak tim memikirkan cara bertahan, Samurai Blue justru membangun identitas baru yang berani mengambil inisiatif.

Dorongan terbesar itu terlihat dari perubahan cara bermain. Jepang kini lebih nyaman memakai sistem tiga bek, formasi yang memberi ruang untuk menekan lebih tinggi dan menempatkan lebih banyak pemain di area depan saat menyerang.

Perubahan gaya main yang mengubah wajah tim

Bagi Hajime Moriyasu, transformasi ini bukan sekadar pergantian skema. Ia ingin Jepang berhenti memandang hasil imbang atau kekalahan sebagai sesuatu yang otomatis diterima saat menghadapi lawan besar.

Sikap itu sejalan dengan performa mereka dalam beberapa tahun terakhir. Jepang pernah menaklukkan Brasil dan menjadi tim Asia pertama yang mengalahkan Inggris di Wembley dengan skor 1-0, dua hasil yang memperkuat keyakinan bahwa mereka bisa bersaing di level atas.

Wataru Endo juga menegaskan arah baru itu. Kapten Jepang tersebut menilai timnya ingin mengambil alih permainan, bukan hanya menunggu lawan datang.

Tiga bek yang memberi lebih banyak opsi

Formasi tiga bek membuat Jepang tampil lebih fleksibel. Dalam situasi menyerang, skema ini memungkinkan mereka mendorong hingga lima pemain ke lini depan dan menjaga tekanan tetap hidup di area lawan.

Pendekatan tersebut juga membuat Jepang lebih proaktif dalam menekan. Moriyasu melihat skuadnya kini punya mentalitas yang berbeda, terutama setelah pengalaman di Piala Dunia Qatar yang mendorong banyak pemain berpikir bahwa Jepang harus lebih berani menguasai laga.

Perubahan ini penting karena target mereka tidak kecil. Jepang ingin menembus perempat final untuk pertama kalinya dan sekaligus memutus kebiasaan lama yang selalu berhenti di babak 16 besar.

Ancaman dari bola udara

Selain lebih agresif, Jepang juga punya senjata yang tidak bisa diremehkan dari situasi bola mati dan umpan silang. Di kualifikasi, mereka mencetak 12 gol sundulan, angka yang menunjukkan ancaman nyata dari udara.

Koki Ogawa menjadi salah satu nama paling menonjol dalam aspek itu dengan lima gol lewat sundulan. Ayase Ueda juga menambah dimensi serangan Jepang karena penyerang Feyenoord tersebut mencatat sembilan gol sundulan sepanjang musim di Eropa.

Kombinasi itu membuat Jepang tidak hanya bergantung pada permainan kaki ke kaki. Mereka punya cara lain untuk membongkar pertahanan rapat, terutama ketika menghadapi tim yang memilih bertahan rendah.

Kualifikasi yang menegaskan kekuatan mereka

Jepang juga datang dengan catatan fase kualifikasi yang sangat meyakinkan. Mereka menjadi tim pertama yang memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 dan menutup perjalanan di zona Asia dengan 51 gol.

Jumlah itu menegaskan bahwa Samurai Blue bukan sekadar peserta, melainkan salah satu tim yang produktif dan stabil. Dalam turnamen besar, modal seperti ini sering menjadi pembeda ketika tekanan meningkat.

Takefusa Kubo dan Junya Ito diperkirakan akan memegang peran penting di lini serang. Keduanya diharapkan mampu menjaga aliran serangan tetap hidup, terutama di saat beberapa pemain utama tak bisa tampil optimal.

Masalah cedera yang menguji kedalaman skuad

Optimisme Jepang tetap memiliki sisi rawan. Kaoru Mitoma dipastikan absen karena cedera hamstring, sementara Takumi Minamino harus menepi lebih lama akibat cedera ligamen lutut atau ACL.

Wataru Endo dan Takehiro Tomiyasu juga masih menyisakan tanda tanya karena minim menit bermain kompetitif dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini membuat Jepang harus menguji kedalaman skuad yang selama ini menjadi salah satu kekuatan mereka.

Moriyasu tetap punya alasan untuk percaya diri karena distribusi kontribusi gol dan assist di timnya cukup merata. Artinya, beban serangan tidak sepenuhnya bertumpu pada satu atau dua pemain.

Target besar di grup yang tidak mudah

Di fase grup, Jepang akan bersaing dengan Belanda, Swedia, dan Tunisia. Komposisi ini menuntut konsistensi sejak awal karena setiap poin akan sangat berharga untuk membuka jalan ke fase gugur.

Simulasi superkomputer Opta memberi Jepang peluang 76,2 persen untuk lolos ke fase gugur. Namun angka itu belum menjawab target utama mereka, yaitu melewati babak 16 besar yang selama ini menjadi penghalang terbesar.

Rekor mereka di Piala Dunia menunjukkan pola yang berulang sejak debut pada 1998. Jepang mencapai 16 besar pada 2002, 2010, 2018, dan 2022, tetapi langkah berikutnya selalu tertahan di titik yang sama.

Moriyasu sendiri kini memikul tanggung jawab besar. Ia menjadi pelatih pertama yang memimpin Jepang dalam dua edisi Piala Dunia secara beruntun sejak era modern, sekaligus pelatih pertama yang mencapai 100 pertandingan bersama tim nasional.

Dengan rekor 25 pertandingan di Piala Dunia tanpa pernah mencapai perempat final, Jepang tahu betapa berat beban sejarah yang mereka bawa. Karena itu, sistem tiga bek, mentalitas yang lebih berani, dan kedalaman skuad akan diuji bersamaan saat mereka mencoba membuka pintu yang selama ini selalu tertutup.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru