Teknik napuccino kembali menarik perhatian karena menawarkan cara sederhana untuk mengatasi rasa kantuk di siang hari. Polanya cukup unik: minum kopi, lalu tidur singkat, kemudian bangun saat dorongan kafein mulai bekerja.
Bagi sebagian orang, metode ini terasa lebih praktis daripada memilih salah satunya saja. Pola tersebut banyak dibicarakan di kalangan pekerja, pengemudi, dan mahasiswa yang membutuhkan tenaga tambahan ketika kondisi tubuh mulai turun.
Kunci dari napuccino ada pada waktu. Ahli tidur Cheri Mah menjelaskan bahwa kafein memerlukan sekitar 15 menit setelah diminum untuk mulai memberi efek, sehingga orang dianjurkan segera tidur setelah minum kopi, idealnya dalam 5 hingga 10 menit.
Saat tidur singkat selesai dan seseorang bangun dalam 20 hingga 30 menit, efek istirahat dan dorongan kafein datang berdekatan. Menurut Mah, perpaduan itu memberi keuntungan ganda karena tubuh sempat pulih dari tidur singkat, lalu mendapat tambahan energi dari kafein.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa gabungan tidur singkat dan kafein lebih ampuh meningkatkan kewaspadaan serta kinerja dibandingkan hanya minum kopi atau hanya tidur siang. Efek segar itu bahkan disebut dapat bertahan selama beberapa jam setelah bangun.
Psikolog klinis sekaligus direktur Laboratorium Kedokteran Tidur Universitas Utah, Kelly Baron, menilai teknik ini bukan sekadar mitos. Ia menyebut sedikit kafein yang diikuti tidur singkat bisa memberi hasil lebih baik daripada hanya melakukan salah satunya.
Baron juga menilai napuccino cocok untuk pekerja shift, orang yang sering mengantuk, dan pengemudi jarak jauh. Ia menambahkan bahwa tidur singkat, dengan atau tanpa kafein, memang terbukti membantu menjaga kewaspadaan.
Meski terdengar mudah, napuccino tetap perlu dilakukan dengan batas yang jelas. Durasi tidur menjadi hal penting karena tidur yang terlalu lama bisa membawa tubuh masuk ke fase tidur dalam.
Jika bangun saat fase itu, tubuh justru bisa terasa linglung, kepala berat, dan lebih lelah. Karena itu, tidur 20 hingga 30 menit dianggap sebagai batas yang aman untuk napuccino.
Jenis kopi juga tidak boleh diabaikan. Ahli gizi asal Los Angeles, Ilana Muhlstein, mengingatkan agar kopi tidak diberi gula berlebihan atau krim tinggi kalori karena hal itu dapat mengurangi manfaatnya.
Menurut Muhlstein, gula berlebih bisa memicu lonjakan energi yang kemudian turun tajam. Kondisi tersebut justru bertentangan dengan efek segar yang diharapkan dari kombinasi tidur singkat dan kafein.
Ia menyarankan kopi hitam murni atau tambahan sedikit susu biasa maupun susu nabati. Jika ingin rasa manis, Muhlstein merekomendasikan pemanis tanpa kalori seperti stevia atau buah biola.
Dari sisi konsumsi harian, Mayo Clinic menyebut asupan kafein hingga 400 miligram per hari masih tergolong aman bagi kebanyakan orang dewasa sehat. Karena itu, jumlah kopi tetap perlu dihitung agar tidak berlebihan.
Waktu terbaik melakukan napuccino juga perlu diperhatikan. Metode ini lebih cocok dilakukan pada siang hari, misalnya sekitar pukul 13.00 atau 14.00, bukan terlalu dekat dengan waktu tidur malam.
Kafein yang bertahan lama bisa mengganggu tidur utama di malam hari jika napuccino dilakukan terlalu larut. Meski begitu, para ahli tetap menempatkan tidur cukup sebagai standar kesehatan utama dengan durasi 7 hingga 9 jam per malam.
Source: www.cnbcindonesia.com






