Kamper Barus Bernilai Tinggi, Saudagar Arab Rela Menyeberangi Laut dari Teluk Persia

Author: Redaksi Android62

Nilai tinggi kamper dari Barus membuat saudagar Arab bersedia menempuh pelayaran panjang dari Teluk Persia menuju pesisir barat Sumatra. Perjalanan itu dilakukan dengan kapal besar yang membawa kapur barus dalam jumlah banyak.

Komoditas hutan tersebut menjadi alasan Barus masuk ke jalur perdagangan internasional pada masanya. Kawasan ini terhubung dengan Nusantara, Asia Selatan, dunia Arab, hingga China melalui jaringan perdagangan laut.

Claude Guillot dalam Barus Seribu Tahun yang Lalu mencatat saudagar Arab berlayar langsung dari Teluk Persia. Mereka dapat menempuh rute melalui Ceylon atau Sri Lanka sebelum tiba di pantai barat Sumatra.

Perjalanan jauh itu tetap menarik secara ekonomi karena kamper memiliki harga dan reputasi tinggi. Kamper Barus juga dinilai lebih baik daripada kamper yang berasal dari Malaya maupun Kalimantan.

Komoditas langka dari hutan Sumatra

Kamper diyakini berasal dari tanaman Dryobalanops aromatica yang memiliki aroma khas. Hasil hutan ini telah lama digunakan sebagai bahan obat dan wewangian.

Tanaman penghasil kamper tidak tumbuh di Jazirah Arab. Kondisi tersebut membuat pedagang dari kawasan Arab perlu mendatangi langsung wilayah penghasilnya di Nusantara.

Dalam Al-Qur’an, kafur disebut pada Surat Al-Insan ayat ke-5. Ayat itu menyebut minuman bagi orang beriman yang bercampur air kafur, sementara sejumlah ulama menafsirkannya sebagai air dari tanaman kamper.

Kelangkaan sumber menjadi salah satu alasan utama tingginya nilai dagang komoditas itu. Aroma kamper bukan satu-satunya daya tarik bagi pasar yang membentang jauh dari Sumatra.

Fansur dalam catatan para penulis lama

Arkeolog Edward Mc. Kinnon dalam Ancient Fansur, Aceh’s Atlantis yang terbit pada 2013 menjelaskan bahwa masyarakat Arab telah mengetahui pusat kamper di Sumatra. Pusat itu disebut Fansur, nama yang kini dikaitkan dengan Barus di Sumatra Utara.

Catatan tentang kawasan ini muncul dalam beberapa periode berbeda. Keterangan tersebut memperlihatkan bahwa nama Barus dan hasil hutannya telah dikenal dalam rentang waktu panjang.

Tokoh atau catatan Periode Keterangan
Ptolemy Abad pertama Masehi Nama Barus dicatat oleh ahli geografi Romawi.
Ibn Al-Faqih 902 M Fansur disebut sebagai penghasil kapur barus, cengkih, pala, dan kayu cendana.
Ibn Sa’id al-Magribi Abad ke-13 Kamper terbaik disebut berasal dari Pulau Sumatra.

Menurut catatan yang dikutip CNBC Indonesia, Ibn Al-Faqih telah menyebut Fansur sebagai penghasil sejumlah komoditas penting pada 902 M. Selain kapur barus, daerah itu dikenal menghasilkan cengkih, pala, dan kayu cendana.

Ahli geografi Ibn Sa’id al-Magribi pada abad ke-13 secara khusus menempatkan Sumatra sebagai asal kamper terbaik. Penilaian tersebut memperkuat posisi Barus dalam perdagangan komoditas bernilai tinggi.

Perdagangan dan tumbuhnya komunitas Muslim

Ramainya perdagangan maritim tidak hanya menjadikan Barus sebagai pelabuhan penting. Saudagar Muslim yang singgah dalam perjalanan menuju China juga membuka ruang bagi pembentukan komunitas pesisir.

Sejumlah pedagang Arab memilih menetap, bukan hanya berhenti untuk mengisi bekal atau menukar barang. Proses ini kerap dikaitkan dengan Islamisasi Barus, serta kawasan Fansur, Lamri, dan Haru.

Kompleks makam kuno Mahligai di Barus sering dikaitkan dengan jejak awal komunitas Muslim di kawasan tersebut. Temuan ini melahirkan salah satu teori mengenai masuknya Islam ke Indonesia, meski pembahasannya masih diperdebatkan para sejarawan.

Perdebatan itu tidak mengurangi arti hubungan dagang antara Barus dan dunia Arab. Pencarian kamper menunjukkan bahwa wilayah Indonesia telah terhubung dengan jaringan laut internasional selama berabad-abad.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru