Mutu 18 Ruang Kelas Dipertaruhkan, Kampus Awasi Revitalisasi Sekolah Setiap Hari

Author: Redaksi Android62

Hasil revitalisasi 18 ruang kelas di SD Inpres Naimata, Kupang, Nusa Tenggara Timur, dinilai memiliki kualitas yang baik. Penilaian itu muncul setelah pengawasan teknis dilakukan sejak rancangan bangunan hingga pekerjaan detail di lapangan.

Kualitas material menjadi perhatian utama dalam program ini, termasuk penggunaan kayu jati asal NTT dan pemasangan keramik. Pengawasan harian dari pendamping kampus diarahkan agar pekerjaan tidak berhenti pada penyelesaian fisik semata.

Pengawasan Teknis Menjangkau Detail Pekerjaan

Widyaprada Ahli Utama Kemendikdasmen, Khamim, menyatakan ahli teknik sipil dari kampus terlibat mendampingi revitalisasi sekolah. Mereka memantau perencanaan, pemilihan material, hingga pelaksanaan konstruksi di sejumlah daerah.

Menurut Khamim, pendampingan tersebut berlangsung setiap hari selama proyek berjalan. Tim kampus juga dapat mengawasi beberapa satuan pendidikan dalam waktu yang sama.

“Para konsultan dari kampus ini mendampingi setiap hari, memastikan mulai dari perencanaan sampai eksekusi pembangunannya. Mereka mengawasi secara ketat sehingga kualitas bangunan tetap terjaga,” kata Khamim saat berada di SD Inpres Naimata, Kupang, Nusa Tenggara Timur, Selasa (21/7/2026).

Pihak Peran Ruang Lingkup
Ahli dari kampus Pendamping dan pengawas Perencanaan hingga eksekusi
Mahasiswa Kepala tukang Mengatur kelompok pekerja
Warga setempat Tukang bangunan Pengerjaan revitalisasi

Swakelola Libatkan Warga dan Mahasiswa

Program Revitalisasi Sekolah ini dijalankan melalui sistem swakelola, bukan menggunakan jasa kontraktor besar. Warga di sekitar sekolah dilibatkan sebagai tukang untuk mengerjakan pembangunan.

Mahasiswa turut mengambil posisi penting dalam pengaturan pekerjaan konstruksi. Pola ini menempatkan pendamping akademik dan pekerja lokal dalam satu rangkaian pelaksanaan yang saling melengkapi.

Di SD Inpres Naimata, mahasiswa semester 8 Universitas Muhammadiyah Kupang, Efer Baun, bertugas sebagai kepala tukang. Ia memimpin satu kelompok yang terdiri atas lima pekerja lain, sehingga kelompok itu berjumlah enam orang.

Efer mulai terlibat setelah memperoleh informasi pekerjaan dari petugas keamanan sekolah ketika pembangunan akan dimulai pada 2020. Ia kemudian diarahkan kepada koordinator hingga mencapai kesepakatan untuk bekerja dalam proyek tersebut.

Pembagian Kelompok untuk Pengerjaan Ruang Kelas

Kelompok Efer mengerjakan dua ruangan dalam proyek revitalisasi di sekolah tersebut. Total terdapat 30 tukang yang dibagi ke dalam enam kelompok dengan bagian ruang kerja masing-masing.

Menurut Efer, proses pembangunan berjalan tanpa kendala berarti. Ketersediaan bahan bangunan dan pembayaran upah tukang disebut berlangsung lancar selama pengerjaan.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Kementerian Komunikasi dan Digital terus memantau pelaksanaan program revitalisasi itu. Pelibatan kampus diposisikan sebagai langkah untuk menjaga kesesuaian pembangunan dengan kebutuhan sekolah serta standar mutu material.

Model kolaborasi ini mempertemukan pengawasan teknis, keterlibatan mahasiswa, dan tenaga kerja setempat dalam satu proyek. Dengan skema tersebut, mutu bangunan sekolah menjadi tanggung jawab yang diawasi dari tahap awal hingga pekerjaan selesai.

Berita Terbaru