Kanker Usus pada Usia Muda Sering Terlambat Terdeteksi, Wasir Jadi Dugaan Awal

Pasien kanker kolorektal berusia di bawah 50 tahun dilaporkan membutuhkan waktu sekitar 40 persen lebih lama untuk memperoleh diagnosis dibandingkan pasien yang lebih tua. Keterlambatan tersebut berkontribusi pada kondisi hampir tiga dari empat pasien muda yang sudah berada pada stadium lanjut saat kanker ditemukan.

Masalahnya, sejumlah keluhan awal sering dianggap sekadar wasir, pengaruh pola makan, atau kecemasan. Padahal, perdarahan dari anus dan perubahan kebiasaan buang air besar perlu diperiksa, terutama bila tidak membaik dalam beberapa minggu.

Gejala yang tidak sebaiknya diabaikan

Kanker kolorektal dapat memunculkan gejala yang serupa pada pasien muda maupun kelompok usia lebih tua. Tanda-tandanya mencakup perdarahan dari anus, nyeri atau kram perut, mual, anemia, kelelahan, serta penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas.

Perubahan bentuk, warna, konsistensi, atau frekuensi feses juga perlu dicatat. Keluhan yang menetap atau muncul bersama gejala lain sebaiknya dibicarakan dengan dokter.

Wasir memang dapat menyebabkan perdarahan dari anus, tetapi keluhan tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai penyebab tunggal tanpa pemeriksaan. Kecenderungan mengaitkan gejala pada usia muda dengan masalah pencernaan ringan dapat membuat evaluasi medis tertunda.

Kelompok dengan pertimbangan skrining berbeda

Usia bukan satu-satunya dasar penilaian risiko kanker usus. Riwayat keluarga, penyakit tertentu, serta riwayat pengobatan sebelumnya dapat memengaruhi waktu dan frekuensi skrining yang perlu didiskusikan dengan dokter.

KelompokPertimbangan skrining
Risiko rata-rata tanpa gejalaSkrining umumnya dimulai pada usia 45 tahun.
Di bawah 45 tahun tanpa gejala dan tanpa riwayat keluargaSkrining rutin umumnya belum dianjurkan.
Memiliki orang tua atau saudara kandung dengan kanker kolorektalPerlu konsultasi; banyak pedoman menyarankan mulai sekitar 10 tahun sebelum usia diagnosis anggota keluarga.
Pengidap penyakit radang ususDapat memerlukan skrining lebih dini dan lebih sering.

Risiko lebih tinggi dapat dialami orang dengan riwayat polip adenomatosa atau kanker kolorektal sebelumnya. Risiko juga meningkat pada penderita penyakit radang usus, seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn, karena peradangan kronis dapat memicu perubahan sel abnormal.

Riwayat terapi radiasi pada area perut atau panggul, terutama ketika masih anak-anak, juga berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi. Sebaliknya, irritable bowel syndrome atau IBS tidak terbukti meningkatkan risiko kanker kolorektal.

Riwayat kanker kolorektal pada orang tua, saudara kandung, atau anak perlu disampaikan saat berkonsultasi. Perhatian menjadi lebih penting bila diagnosis pada anggota keluarga terjadi sebelum usia 50 tahun atau lebih dari satu anggota keluarga terdampak.

Kasus meningkat pada kelompok lebih muda

Kanker kolorektal kini tidak lagi semata-mata dikaitkan dengan usia lanjut. Kasus pada kelompok usia 30-an hingga 40-an dilaporkan terus meningkat, sementara kanker ini disebut sebagai penyebab utama kematian akibat kanker pada orang berusia di bawah 50 tahun.

Sekitar 45 persen kasus baru didiagnosis pada kelompok usia di bawah 65 tahun. Angka itu meningkat dibandingkan 27 persen pada 1995.

US Preventive Services Task Force pada 2021 menurunkan usia awal skrining rutin dari 50 tahun menjadi 45 tahun. Namun, peningkatan kasus telah terlihat sebelum rekomendasi tersebut diterapkan, termasuk pada kelompok berusia di bawah 45 tahun.

Ahli onkologi saluran cerna Stanford Medicine, dr Shruti Patel, menilai peningkatan itu bukan hanya akibat teknologi deteksi yang membaik atau makin banyak orang menjalani skrining. “Peningkatan kasus kanker kolorektal ini nyata dan menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan bagi kami yang bekerja di bidang ini,” ujarnya.

Penyebabnya belum dipastikan

Peneliti belum menemukan satu pemicu tunggal yang menjelaskan kenaikan kanker usus pada usia muda. Faktor genetik dinilai belum cukup menjawab perubahan yang terjadi dalam beberapa dekade karena perubahan gen berlangsung lambat.

Obesitas, aktivitas sedentari, dan pola makan tinggi makanan ultra-proses dikaitkan dengan risiko kanker kolorektal. Meski demikian, faktor-faktor tersebut belum dianggap mampu menjelaskan keseluruhan kenaikan kasus.

Mikrobioma usus turut menjadi perhatian penelitian untuk melihat kemungkinan perbedaan komposisi bakteri pada pasien muda, pasien lebih tua, serta orang tanpa kanker kolorektal. Faktor lingkungan yang sulit diukur, termasuk paparan sepanjang rantai makanan, juga masih dipelajari.

Pilihan skrining bagi orang berisiko rata-rata mencakup kolonoskopi, tes feses seperti FIT atau Cologuard, serta tes darah Shield yang mendeteksi DNA tumor dalam aliran darah. Jenis pemeriksaan yang sesuai perlu ditentukan bersama dokter berdasarkan usia, gejala, dan riwayat kesehatan keluarga.

Berita Terkait