Kanker Reproduksi Bisa Dicegah Sejak Awal, Vaksin HPV Dan Skrining Rutin Jadi Kuncinya

Pencegahan kanker akibat HPV paling efektif dimulai dari langkah yang sederhana namun konsisten, yaitu vaksinasi sejak dini dan skrining rutin. Virus Human Papillomavirus ini dapat memicu perubahan sel bila infeksinya menetap, sehingga perlindungan tidak cukup hanya mengandalkan daya tahan tubuh.

Di sisi lain, banyak orang tidak menyadari bahwa paparan HPV bisa terjadi dalam aktivitas seksual sehari-hari. Karena itu, pemahaman soal cara penularan, risiko infeksi persisten, dan pentingnya pemeriksaan berkala menjadi kunci untuk menahan dampak HPV pada kesehatan reproduksi.

Risiko yang kerap tidak terasa sejak awal

Dokter kandungan sub spesialis fertilitas endokrinologi reproduksi, dr. Darrell Fernando, menegaskan bahwa HPV masih menjadi ancaman serius bagi perempuan maupun laki-laki. Pernyataan itu ia sampaikan dalam acara Pekan Imunisasi Dunia 2026: Forum IVAXCON Dorong Perlindungan Kesehatan Lintas Generasi di Jakarta.

Menurut dr. Darrell, bahaya HPV sering kali tidak langsung terasa karena virus ini dapat menetap tanpa menimbulkan gejala pada fase awal. Masalah muncul ketika infeksi tidak hilang dan berubah menjadi persisten, lalu memicu perubahan pada sel yang dapat berkembang menjadi kanker.

Penularan bisa terjadi lewat kontak seksual yang tampak biasa

HPV dapat masuk melalui aktivitas seksual, termasuk kontak genital lewat vagina, mulut, dan anus. Virus ini juga bisa menempel di permukaan kulit, sehingga paparan dapat terjadi tanpa disadari saat aktivitas seksual yang tampak umum.

Dr. Darrell menjelaskan bahwa perempuan memiliki risiko lebih tinggi karena kondisi anatomi organ reproduksi dapat membuat virus bertahan lebih lama di area genital. Namun, pria dan wanita sama-sama bisa terinfeksi, terutama mereka yang aktif secara seksual.

Sebagian besar orang diperkirakan pernah terpapar HPV dalam hidupnya. Meski begitu, tidak semua paparan berujung penyakit karena pada banyak kasus virus dapat hilang sendiri ketika daya tahan tubuh bekerja baik.

Saat infeksi bertahan, ancamannya menjadi lebih besar

Situasi yang perlu diwaspadai adalah ketika HPV tidak menghilang dalam waktu lama. Dalam kondisi seperti ini, virus dapat mengubah cara kerja sel dan perlahan memicu kanker.

Dr. Darrell menggambarkan HPV seperti agen yang mengambil alih sistem tubuh dan mengubah pola pertumbuhan sel. Ia menegaskan, “HPV yang nempel belum tentu bikin penyakit. Tapi kalau persistent infection atau tidak hilang-hilang, itu bisa memicu perubahan sel dan berujung kanker.”

HPV sendiri dibagi ke dalam dua kelompok besar, yakni low risk dan high risk. Tipe risiko tinggi, terutama HPV 16 dan 18, disebut paling berbahaya karena erat dikaitkan dengan perkembangan kanker.

Dampak yang bisa muncul pada organ reproduksi

Infeksi HPV yang bertahan lama dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan secara bertahap. Dampaknya mencakup kanker serviks, kanker vagina, kanker vulva, kanker anus, kutil kelamin, dan kanker penis.

Dari seluruh dampak tersebut, kanker serviks menjadi kasus yang paling sering terjadi pada perempuan. Penyakit ini juga dikenal berkembang perlahan, sehingga gejala sering belum terlihat pada tahap awal.

Dr. Darrell menyebut perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker dapat berlangsung sekitar 10 hingga 20 tahun. Rentang waktu itu sebenarnya memberi peluang besar untuk menemukan masalah lebih cepat sebelum penyakit berkembang lebih jauh.

Mengapa vaksinasi dan skrining tidak boleh ditunda

Karena HPV bisa menetap tanpa gejala, perlindungan perlu dilakukan sebelum infeksi berubah menjadi masalah berat. Dr. Darrell menekankan vaksinasi HPV, skrining rutin seperti Pap smear, dan edukasi kesehatan reproduksi sebagai bagian dari perlindungan dasar.

Langkah pencegahan yang disarankan meliputi vaksinasi HPV sejak usia 9 tahun hingga dewasa. Pemeriksaan Pap smear atau IVA secara rutin juga dianjurkan, disertai HPV DNA test atau co-testing di fasilitas kesehatan sesuai kebutuhan medis.

Pemeriksaan setelah aktif secara seksual serta konsultasi medis saat muncul gejala atau kelainan juga termasuk langkah penting. Dengan cara ini, infeksi HPV dapat terdeteksi lebih cepat sebelum menimbulkan dampak yang lebih berat pada kesehatan reproduksi.

Source: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait