Kantor Baru Ripple di Dubai, Sinyal Serius XRP Menguat di Timur Tengah dan Afrika

Ripple memperluas langkah bisnisnya di Timur Tengah dan Afrika dengan membuka kantor pusat regional baru di Dubai. Kehadiran kantor di Dubai International Financial Centre atau DIFC ini menempatkan perusahaan pembayaran berbasis blockchain itu lebih dekat ke pasar yang memang membutuhkan solusi transfer lintas negara.

Ekspansi tersebut juga dipandang sebagai sinyal bahwa minat terhadap infrastruktur pembayaran berbasis blockchain di kawasan itu bukan lagi sekadar wacana. Ripple bahkan disebut akan melipatgandakan tim lokalnya, setelah selama enam tahun membangun hubungan bisnis di dua kawasan tersebut.

Ekspansi yang bertumpu pada permintaan pasar

Ripple menegaskan bahwa pembukaan kantor baru ini bukan langkah simbolis. Perusahaan melihat adanya kebutuhan nyata dari pelaku usaha lokal terhadap layanan pembayaran yang teregulasi dan berbasis blockchain.

Reece Merrick, Managing Director Ripple untuk Timur Tengah dan Afrika, mengatakan perusahaan melihat “appetite” atau minat yang kuat dari bisnis lokal terhadap infrastruktur pembayaran seperti itu. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Dubai dipilih bukan hanya karena reputasinya sebagai pusat bisnis, tetapi juga karena pasar di sekitarnya memang berkembang.

Keputusan itu juga sejalan dengan basis klien Ripple yang sudah ada di wilayah tersebut. Perusahaan telah bekerja sama dengan Zand Bank di Uni Emirat Arab dan Absa Bank di Afrika Selatan.

Selain itu, daftar mitra Ripple mencakup Ctrl Alt, Garanti BBVA, dan Chipper Cash. Kehadiran para mitra ini menunjukkan bahwa aktivitas Ripple di Timur Tengah dan Afrika sudah berada pada tahap operasional, bukan lagi tahap penjajakan.

Mengapa kawasan ini relevan bagi XRP

Dari sisi penggunaan aset digital, Timur Tengah dan Afrika memiliki karakter transaksi yang sangat cocok dengan fungsi XRP sebagai aset jembatan dalam pembayaran lintas negara. Arus remitansi yang besar membuat efisiensi biaya dan kecepatan transfer menjadi faktor penting bagi pengguna dan lembaga keuangan.

Uni Emirat Arab dan Arab Saudi disebut mengirim total sekitar $79 miliar remitansi ke luar negeri setiap tahun. Dana tersebut terutama mengalir ke India, Pakistan, dan Filipina, sehingga kebutuhan atas jalur pembayaran yang lebih cepat dan efisien tetap tinggi.

Di Afrika, persoalan utamanya ada pada tingginya ongkos pengiriman uang lintas negara. Sub-Saharan Africa mencatat rata-rata biaya remitansi tertinggi di dunia, yaitu 8.78%.

Bahkan, enam dari delapan koridor global dengan biaya transfer di atas 20% berasal dari kawasan itu. Kondisi tersebut membuat solusi pembayaran yang lebih efisien menjadi semakin relevan bagi pelaku industri maupun pengguna akhir.

Dubai sudah memberi landasan regulasi

Langkah Ripple di Dubai juga tidak berdiri sendiri karena didukung perkembangan regulasi yang sudah lebih dulu terbentuk. Perusahaan memperoleh persetujuan prinsip dari Dubai Financial Services Authority atau DFSA pada Oktober 2024, lalu meraih lisensi penuh pada Maret 2025.

Ripple disebut menjadi perusahaan pembayaran blockchain pertama yang mendapatkan lisensi tersebut. Status ini memberi bobot lebih besar pada ekspansinya di kawasan yang memang dikenal memiliki kerangka regulasi keuangan yang jelas.

Pada Mei, Zand Bank dan fintech Mamo menjadi klien teregulasi pertama Ripple di Uni Emirat Arab. Kemudian pada Juni, DFSA juga menyetujui RLUSD sebagai token kripto yang diakui di bawah aturan DIFC.

Pengakuan itu membuka peluang bagi lebih dari 7.000 perusahaan di kawasan tersebut untuk menggunakan RLUSD dalam pembayaran dan kustodi. Bagi Ripple, hal ini memperkuat posisi Dubai sebagai basis operasional sekaligus pintu masuk ke pasar yang lebih luas.

XRP masih belum jadi pusat, tetapi ruangnya terbuka

Meski ekspansi ini terlihat besar, sebagian besar kesepakatan Ripple di Timur Tengah dan Afrika saat ini masih diselesaikan dalam fiat atau RLUSD. Artinya, dampak langsung terhadap permintaan XRP belum tampak besar pada tahap sekarang.

Ripple tetap menjalankan On-Demand Liquidity atau ODL, layanan yang memanfaatkan XRP untuk membantu konversi mata uang dalam pembayaran lintas negara. Namun, pemakaian XRP baru akan berkembang jika lebih banyak koridor pembayaran benar-benar mengadopsi ODL dalam skala lebih besar.

Karena itu, pembesaran tim di Dubai lebih tepat dibaca sebagai fondasi jangka menengah. Langkah ini membuka ruang untuk kemitraan baru, integrasi sistem, dan jalur pembayaran yang pada akhirnya bisa melibatkan XRP secara lebih aktif.

Salah satu sinyal yang patut dicermati datang dari Trident Digital, yang menyiapkan treasury XRP senilai $500 juta. Perusahaan itu menargetkan peluncuran bertahap untuk koridor Afrika mulai pertengahan 2026, dengan likuiditas yang ditujukan untuk mendukung layanan ODL Ripple di kawasan tersebut.

Berita Terkait