Karies gigi menjadi masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan pada anak sekolah dan remaja dalam Program Cek Kesehatan Gratis. Kondisi ini dialami lebih dari 40% peserta, melampaui anemia yang tercatat pada 27% anak sekolah dan remaja yang diperiksa.
Temuan tersebut menunjukkan persoalan kesehatan anak tidak lagi hanya berkaitan dengan penyakit infeksi atau kekurangan gizi. Kesehatan gigi kini muncul sebagai risiko dominan yang perlu ditangani sejak usia sekolah.
Data Cek Kesehatan Gratis juga mencatat peningkatan tekanan darah pada 21% peserta. Sementara itu, penumpukan kotoran telinga serta gizi lebih dan obesitas masing-masing ditemukan pada 7% peserta.
Masalah Gigi Bertahan di Setiap Jenjang Sekolah
Karies gigi anak menjadi temuan utama pada kelompok usia sekolah dasar. Ketika peserta memasuki jenjang SMP dan SMA, persoalan kesehatan gigi tetap menjadi masalah yang paling banyak teridentifikasi.
| Kelompok Usia | Temuan Utama | Risiko Lain yang Ditemukan |
|---|---|---|
| Anak SD | Karies gigi | Tekanan darah meningkat, gangguan gizi, pendengaran, dan penglihatan |
| Anak SMP | Masalah kesehatan gigi | Kecemasan, depresi, risiko TB, tekanan darah, dan gizi |
| Anak SMA | Karies gigi | Tekanan darah, kesehatan mental, risiko TB, dan gizi |
Pada anak SD, masalah gigi diikuti oleh peningkatan tekanan darah, gangguan status gizi, serta gangguan pendengaran dan penglihatan. Pola ini memperlihatkan bahwa pemeriksaan kesehatan sekolah dapat menangkap lebih dari satu risiko dalam waktu bersamaan.
Di jenjang SMP, kecemasan dan depresi mulai masuk dalam daftar persoalan yang perlu diperhatikan. Risiko tuberkulosis, tekanan darah tinggi, dan masalah gizi juga ditemukan pada kelompok usia tersebut.
Kelompok SMA menghadapi pola serupa dengan karies sebagai masalah utama. Selain tekanan darah dan kesehatan mental, pemeriksaan menemukan risiko tuberkulosis serta kondisi gizi kurang hingga obesitas.
Gizi Lebih Mendekati Gizi Kurang
Hasil pemeriksaan menunjukkan persoalan gizi anak tidak lagi didominasi oleh kekurangan gizi. Proporsi gizi lebih dan obesitas kini makin mendekati angka gizi kurang.
Kondisi ini menggambarkan terjadinya dua beban malnutrisi dalam kelompok usia yang sama. Anak dapat menghadapi risiko kekurangan gizi dan kelebihan gizi secara bersamaan dalam populasi yang diperiksa.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan data berdasarkan kelompok umur membantu pemerintah membedakan kebutuhan anak SD, SMP, dan SMA. “Dengan data ini, intervensi pemerintah menjadi lebih tepat sasaran sehingga sumber daya kesehatan dapat digunakan secara lebih efektif,” ujarnya.
Jangkauan Pemeriksaan dan Tindak Lanjut
Hingga 5 Juli 2026, sebanyak 59,6 juta masyarakat telah mengikuti Cek Kesehatan Gratis. Capaian tersebut disebut telah melampaui target mingguan yang disiapkan pemerintah.
Program ini juga mencakup skrining bayi baru lahir melalui pemeriksaan pulse oximetry untuk mendeteksi indikasi penyakit jantung bawaan kritis. Sampai 28 Juni 2026, lebih dari 490 ribu bayi telah diperiksa dan sekitar 20.946 bayi atau 4,3% teridentifikasi membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
| Kondisi Kronis | Pasien Kembali Periksa | Kondisi Terkendali |
|---|---|---|
| Hipertensi | 35,4% | 46,9% |
| Diabetes melitus | 33,1% | 69,4% |
Sejak 2026, program mulai memasuki tahap tatalaksana bagi peserta yang didiagnosis penyakit kronis, terutama hipertensi dan diabetes. Pemerintah menargetkan sedikitnya 50% penderita yang ditemukan menjalani pengobatan rutin tahun ini.
Kementerian Kesehatan menargetkan 130 juta peserta pada akhir 2026 dan akan memperkuat tindak lanjut di fasilitas pelayanan kesehatan primer. Langkah ini diarahkan agar temuan awal, termasuk karies gigi anak, dapat diikuti pendampingan yang lebih tepat.
