Kontroversi langsung mengiringi kemenangan Argentina 3-0 atas Aljazair di Kansas City setelah Lionel Messi lolos dari kartu merah dalam sebuah insiden yang memantik perdebatan luas. Momen ketika kapten Argentina itu terlihat menginjak kaki bek Aljazair, Aïssa Mandi, menjadi sorotan utama meski laga berakhir dengan kemenangan meyakinkan.
Wasit asal Polandia, Szymon Marciniak, memilih tidak mengeluarkan kartu, dan VAR juga tidak merekomendasikan tinjauan ulang. Keputusan itu segera dipersoalkan karena sejumlah pengamat menilai insiden tersebut setidaknya layak diganjar kartu kuning, bahkan ada yang menilai kartu merah pantas diberikan.
Perdebatan soal batas pelanggaran
Dalam tayangan ulang, kontak Messi dengan kaki Mandi terjadi saat ia berupaya menguasai bola pada babak pertama. Momen itu memunculkan tafsir berbeda mengenai apakah tindakan tersebut hanya bagian dari duel biasa atau sudah masuk kategori pelanggaran serius.
Perbedaan pandangan muncul karena aturan sepak bola memberi ruang bagi wasit untuk menilai intensitas, arah gerakan, dan unsur niat di balik sebuah insiden. Sebagian pihak menilai posisi studs dan area yang terkena cukup berbahaya, sementara yang lain menganggap kontak itu tidak memenuhi ambang pelanggaran berat.
Kritik keras dari mantan wasit
Mark Halsey, mantan wasit Liga Primer Inggris, menjadi salah satu sosok yang paling keras mengkritik keputusan tersebut. Ia menilai tindakan Messi dapat dikategorikan sebagai violent conduct dan seharusnya masuk perhatian VAR.
Di sisi lain, Thierry Henry mengajukan pembacaan yang berbeda dengan menyoroti faktor niat. Menurut mantan striker Prancis itu, Messi sedang berusaha memainkan bola dan tidak menunjukkan maksud untuk mencederai lawan, sehingga insiden tersebut lebih dekat pada benturan yang tidak disengaja.
Mengapa VAR tidak turun tangan
VAR biasanya hanya masuk bila ada dugaan pelanggaran yang jelas dan serius. Dalam insiden ini, wasit di lapangan menilai tindakan Messi tidak mencapai ambang serious foul play, sehingga permainan dilanjutkan tanpa kartu.
Keputusan tersebut kemudian memicu debat lanjutan tentang konsistensi hukuman di lapangan. Di media sosial, perbincangan berkembang antara pihak yang menilai Messi beruntung dan pihak yang meyakini insiden itu belum cukup berat untuk kartu merah.
Messi tetap jadi pembeda
Di tengah polemik itu, Messi justru tampil menonjol dengan mencetak hattrick pertamanya di Piala Dunia. Tambahan tiga gol tersebut membuatnya menyamai rekor Miroslav Klose sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah turnamen dengan 16 gol.
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, memuji performa sang kapten dan mengakui bahwa insiden kartu merah menjadi salah satu topik yang paling ramai dibahas setelah pertandingan. Meski perdebatan soal aturan terus bergulir, Argentina tetap mengawali upaya mempertahankan gelar juara dunia dengan hasil yang sangat meyakinkan.
Source: bola.bisnis.com






