Bagi Slank, kaset, CD, dan piringan hitam belum kehilangan daya tarik meski kebiasaan mendengarkan musik sudah banyak berpindah ke platform digital. Benda-benda itu justru dinilai punya tempat tersendiri sebagai koleksi, dengan nilai emosional dan nilai ekonomi yang masih hidup.
Pandangan tersebut ikut terlihat dalam album studio ke-26 mereka, Republik Fufufafa, yang disiapkan dalam format CD, kaset, dan vinyl. Album berisi 10 lagu itu diperkenalkan saat peluncuran di Markas Slank, Jalan Potlot 14, Duren Tiga, Jakarta Selatan, pada Jumat (5/6).
Rilisan fisik bukan sekadar media putar
Bimo Setiawan Almachzumi atau Bimbim menilai format fisik kini lebih dekat dengan collectible item. Menurut dia, fungsi rilisan fisik tidak berhenti pada urusan memutar lagu, tetapi juga menjadi benda yang dicari untuk disimpan.
Ia juga melihat minat terhadap kaset, CD, dan vinyl tidak hanya datang dari pendengar lama. Generasi Z hingga Generasi Alpha disebut mulai menelusuri musik dari era sebelumnya dan berburu rilisan dari musisi yang mereka sukai.
Dibuat berbeda di tiap format
Untuk Republik Fufufafa, Slank memberi perlakuan yang tidak sama pada setiap bentuk rilisan fisiknya. CD, kaset, dan vinyl dibuat dengan desain sampul yang berbeda sehingga masing-masing memiliki karakter sendiri.
Perbedaan itu membuat setiap format terasa lebih personal bagi penggemar. Di saat yang sama, keberadaan beberapa versi juga memberi alasan tambahan untuk mengoleksi lebih dari satu bentuk album yang sama.
Nilai koleksi yang ikut naik
Bimbim menilai rilisan fisik juga penting sebagai penanda eksistensi karya. Di sisi lain, benda seperti kaset dan CD lawas bisa memiliki nilai ekonomi yang terus berubah mengikuti minat pasar dan kondisi barang.
Ia mencontohkan kaset yang dulu dibeli sekitar Rp6.000 kini bisa bernilai hingga ratusan ribu rupiah. Menurut dia, harga tersebut bahkan dapat mencapai sekitar Rp100.000 atau lebih, tergantung kondisi dan ketertarikan pasar.
Produksi dibuat terbatas
Slank tidak mencetak Republik Fufufafa dalam jumlah besar. Bimbim menyebut produksi rilisan fisik itu kemungkinan hanya mencapai ratusan keping dan belum menyentuh angka ribuan.
Pembatasan jumlah cetak itu membuat album terasa lebih eksklusif. Di tengah pasar musik yang semakin digital, Slank tetap menempatkan rilisan fisik sebagai bentuk apresiasi bagi penggemar yang masih ingin mendengar, menyimpan, dan mengoleksi karya secara langsung.
Source: lifestyle.bisnis.com