Kazakhstan datang ke Brussels dengan membawa tawaran yang jauh lebih besar bagi Uni Eropa. Negara di jantung Eurasia itu ingin dipandang bukan hanya sebagai pemasok energi, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam bahan baku kritis, teknologi, dan transisi ekonomi Eropa.
Pesan tersebut menguat di tengah kunjungan Presiden Kassym-Jomart Tokayev, saat Astana mendorong hubungan yang lebih dalam dengan Brussels. Duta Besar Kazakhstan untuk Uni Eropa, Roman Vassilenko, menegaskan bahwa kemitraan yang sudah berjalan baik masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar.
Energi masih menjadi penopang utama
Dalam hubungan kedua pihak, keamanan energi tetap menjadi isu inti. Kazakhstan kini menjadi pemasok minyak mentah terbesar ketiga bagi Uni Eropa dan mengirim sekitar 65 juta ton minyak mentah ke Eropa setiap tahun.
Vassilenko menyebut volume itu masih bisa meningkat hingga sekitar 100 juta ton dalam empat sampai lima tahun, meski jalan menuju target tersebut tetap bergantung pada produksi domestik dan infrastruktur transportasi. Di sisi lain, Kazakhstan juga ingin memastikan posisinya tetap penting bagi Eropa yang tengah mengurangi ketergantungan pada energi Rusia.
Bahan baku kritis menjadi kartu utama
Selain energi, Kazakhstan menempatkan mineral strategis sebagai salah satu tawaran paling kuat kepada Eropa. Negara itu sudah memproduksi 21 dari 34 bahan baku yang masuk daftar strategis di bawah Critical Raw Materials Act milik Uni Eropa.
Pemerintah Kazakhstan tidak ingin berhenti pada ekspor bahan mentah. Astana mendorong agar mitra Eropa ikut menanamkan investasi dalam pemrosesan lokal dan transfer teknologi, sehingga nilai tambah juga tumbuh di dalam negeri.
“Anda membawa investasi dan teknologi. Anda tidak hanya menambang tetapi juga memproses bahan baku kritis di Kazakhstan, dan kita sama-sama mendapat manfaat dari itu,” kata Vassilenko.
Satu proyek di sektor ini bahkan telah ditetapkan sebagai inisiatif strategis oleh Komisi Eropa. Menurut Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, proyek itu diperkirakan dapat menghasilkan cukup grafit untuk sekitar 100.000 baterai kendaraan listrik per tahun saat mulai beroperasi.
Astana membidik lebih dari sekadar ekspor
Kazakhstan juga berusaha memperluas citranya di luar peran tradisional sebagai pemasok energi dan bahan tambang. Pemerintah melihat peluang besar di transportasi dan logistik, kecerdasan buatan, hidrogen hijau, energi terbarukan, dan keuangan.
Astana International Financial Centre menjadi salah satu penanda ambisi itu. Saat ini, pusat keuangan tersebut menampung sekitar 5.800 perusahaan dari berbagai negara dan dipandang sebagai bukti bahwa Kazakhstan makin menarik bagi bisnis internasional.
Perusahaan-perusahaan Eropa sendiri disebut telah menanamkan sekitar 210 miliar dolar AS di Kazakhstan, terutama di sektor energi. Angka itu menunjukkan bahwa hubungan ekonomi kedua pihak sudah kuat, tetapi belum mencapai potensi penuhnya.
Hidrogen hijau dan posisi strategis di masa depan
Kazakhstan juga mulai menyiapkan peran dalam energi masa depan. Negara itu berencana memproduksi sekitar 2 juta ton hidrogen hijau per tahun mulai 2030 melalui kemitraan dengan perusahaan Jerman-Swedia.
Bagi Astana, langkah ini penting untuk menjaga relevansi di tengah perubahan besar pasar energi Eropa. Kazakhstan ingin tetap dilihat sebagai mitra strategis yang tidak mudah diabaikan, baik sebagai penghubung Eurasia maupun sebagai penopang bagi agenda energi dan industri Uni Eropa.
Dengan posisi geografis di antara Rusia dan China, Kazakhstan tetap memanfaatkan kedekatannya dengan dua kekuatan besar itu sambil memperdalam jalur kerja sama dengan Brussels. Pemerintah di Astana menilai arah ini dapat memperkuat hubungan yang saling menguntungkan dalam jangka panjang.







