Sorotan atas taksi listrik Green SM yang ikut terseret dalam insiden di Stasiun Bekasi Timur ternyata membuka perhatian ke sosok di belakangnya, Pham Nhat Vuong. Nama pengusaha asal Vietnam itu kembali mencuat karena Green SM bukan sekadar layanan transportasi, melainkan bagian dari jaringan bisnis besar yang nilainya disebut mencapai Rp 326 triliun.
Di dalam ekosistem usaha itu, Green SM berdiri bersama VinFast dan V-Green. Keterkaitan antarbisnis ini membuat satu insiden di perlintasan Ampera ikut menyeret pembicaraan ke konglomerasi yang lebih luas, bukan hanya ke sebuah kendaraan yang dilaporkan mogok sebelum tertabrak rangkaian KRL.
Pemilik di balik Green SM
Berdasarkan laporan Forbes, Pham Nhat Vuong merupakan orang terkaya di Vietnam sekaligus pimpinan tertinggi Vingroup. Kelompok usaha ini bergerak di berbagai bidang, mulai dari properti, ritel, hingga layanan kesehatan.
Dalam konteks Green SM, posisi Vuong penting karena layanan taksi listrik itu berada dalam jaringan bisnis yang ia kendalikan. Green SM juga dikenal sebagai Xanh SM di Vietnam, dan hadir sebagai salah satu wajah ekspansi usaha yang bertumpu pada kendaraan listrik.
Jaringan bisnis yang saling terhubung
Green SM tidak berjalan sendiri sebagai layanan taksi listrik. Perusahaan ini terhubung dengan VinFast Auto Ltd., produsen kendaraan listrik yang juga masuk dalam ekosistem bisnis Vuong.
VinFast telah memperluas langkah ke luar Vietnam dengan membangun pabrik di Indonesia dan India. Perusahaan itu juga resmi melantai di bursa saham Nasdaq melalui skema merger SPAC pada 2023.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa bisnis Vuong tidak berhenti pada jasa transportasi. Jejaknya juga masuk ke sektor produksi kendaraan listrik dan unsur pendukung yang dibutuhkan agar operasional terus berjalan.
Peran V-Green dalam ekosistem mobilitas listrik
Selain Green SM dan VinFast, jaringan bisnis Vuong juga mencakup V-Green. Perusahaan ini berperan sebagai operator pengisian daya dan dipisahkan dari VinFast pada 2024.
V-Green disebut mengalokasikan investasi sebesar USD 400 juta dalam dua tahun ke depan. Dana itu diarahkan untuk memperkuat jaringan pengisian daya, yang menjadi komponen penting bagi pertumbuhan kendaraan listrik.
Keberadaan V-Green menunjukkan bagaimana ekosistem bisnis tersebut dibangun secara terintegrasi. Produksi kendaraan, layanan transportasi, dan infrastruktur pengisian daya saling menopang dalam satu rangkaian usaha.
Mengapa insiden di Bekasi ikut menarik perhatian
Kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur membuat nama Green SM muncul di ruang publik Indonesia dengan cara yang tidak biasa. Dari situ, sorotan bergeser ke siapa pemilik merek taksi listrik tersebut dan seberapa besar jaringan bisnis yang berada di belakangnya.
Perhatian itu makin kuat karena Green SM bukan entitas tunggal. Layanan ini berada dalam kelompok usaha besar yang juga mencakup VinFast dan V-Green, sehingga insiden di perlintasan Ampera ikut memberi gambaran tentang skala bisnis yang lebih luas.
Valuasi dan arah perusahaan
Bloomberg melaporkan bahwa Pham Nhat Vuong baru-baru ini menunjuk istrinya, Pham Thu Huong, untuk memimpin Green SM. Penunjukan itu disebut terkait dengan rencana penawaran umum perdana atau IPO internasional.
Green SM disebut memiliki valuasi sekitar USD 20 miliar. Nilai tersebut menempatkan perusahaan jasa transportasi listrik itu sebagai aset penting dalam portofolio bisnis yang terus berkembang.
Meski kepemimpinan operasional kini berada di tangan Pham Thu Huong, laporan yang sama juga menyebut Vuong masih memegang posisi CEO di perusahaan Green SM. Hal itu menunjukkan pengaruhnya tetap kuat dalam arahan strategis perusahaan.
Pada akhirnya, kasus Green SM yang terseret dalam insiden di Bekasi Timur tidak hanya memperlihatkan satu kendaraan yang terlibat kecelakaan. Peristiwa itu juga menyingkap jejaring bisnis yang lebih luas, dari layanan taksi listrik, produsen kendaraan, sampai infrastruktur pengisian daya yang berada dalam kendali Pham Nhat Vuong.
