Kedekatan Islam Sabah dengan Indonesia yang Mengejutkan Padre Marco di Kinabalu

Kunjungan Padre Marco ke Masjid Negeri Sabah meninggalkan kesan kuat karena ia menemukan suasana yang sangat akrab dengan pengalaman berislam di Indonesia. Ia menilai keramahan, keterbukaan, dan kesantunan masyarakat muslim di Sabah terasa sangat mirip dengan yang ia kenal di tanah air.

Kesan itu muncul saat Pater Markus Solo Kewuta SVD, yang dikenal sebagai Padre Marco, bersilaturahmi ke masjid tersebut di sela kehadirannya dalam KTT ke-3 Para Tokoh Agama Sedunia di Kuala Lumpur. Pertemuan itu digelar melalui kerja sama Liga Muslim Dunia yang berbasis di Riyadh, Arab Saudi, dan Pemerintah Malaysia.

Sambutan yang hangat dan percakapan yang cair

Di Masjid Negeri Sabah, ia disambut dengan sangat hangat oleh pihak masjid. Acara tidak berhenti pada dialog dan sesi tanya jawab, tetapi juga membahas peluang kerja sama dan diakhiri makan siang bersama yang difasilitasi tim masjid.

Padre Marco menilai suasana pertemuan berlangsung cair karena para tuan rumah membuka ruang percakapan yang akrab dan terbuka. Menurut dia, kesantunan dalam menyambut tamu tampak jelas dan memberi kesan bahwa relasi antarmasyarakat di kawasan itu masih dijaga dengan baik.

Bahasa Melayu Sabah terasa dekat dengan bahasa Indonesia

Salah satu hal yang paling membekas bagi Padre Marco adalah kedekatan bahasa masyarakat Sabah dengan bahasa Indonesia. Hal itu membuat percakapan berjalan mudah sejak awal dan terasa hangat.

Pertemuan semula dibuka dengan bahasa Inggris, lalu berlanjut ke bahasa Melayu setelah tuan rumah mengetahui bahwa ia berasal dari Indonesia. Bahkan, percakapan berkembang dalam bahasa Indonesia karena lawan bicara memahami dengan baik dan menunjukkan antusiasme.

Ia menilai bahasa Melayu di Sabah dan wilayah Borneo secara umum lebih dekat dengan bahasa Indonesia dibandingkan bahasa Melayu di Semenanjung Malaysia. Kedekatan bahasa itu, menurutnya, ikut memperlihatkan hubungan budaya dan sejarah yang lama terjalin antara Indonesia dan Malaysia.

Tradisi makan bersama yang mempererat persaudaraan

Selain bahasa, Padre Marco juga menyoroti tradisi makan bersama yang ia anggap penting dalam budaya masyarakat Indonesia dan Malaysia. Ia terkesan karena bisa duduk semeja dengan laki-laki dan perempuan tanpa sekat, sambil menikmati hidangan yang sama dalam suasana santai.

Baginya, kebiasaan itu memiliki makna sosial yang lebih besar daripada sekadar jamuan biasa. Ia menilai kebersamaan di meja makan dapat memperkuat ikatan kemanusiaan dan persaudaraan, bahkan di tengah perbedaan agama dan latar belakang.

Padre Marco menyebut kasih dan persahabatan kerap tumbuh melalui momen sederhana seperti makan dan minum bersama. Pengalaman itu membuat kunjungannya ke Sabah terasa sangat dekat dengan suasana yang ia kenal di Indonesia.

Sarung sebagai simbol kedekatan budaya

Kunjungan ke Masjid Negeri Sabah juga ditandai pemberian hadiah berupa sarung dari pihak masjid. Bagi Padre Marco, hadiah itu menjadi simbol kedekatan budaya dan persahabatan antara masyarakat dua negara.

Ia menyebut sarung tersebut berguna untuk iklim panas di Italia dan mengatakan akan mencobanya. Ia juga menyampaikan terima kasih atas kenangan baik selama berada di Kuala Lumpur dan Kota Kinabalu.

Pesan tentang generasi muda di forum agama dunia

Di luar kunjungan ke Sabah, Padre Marco juga tampil sebagai pembicara dalam KTT ke-3 Para Tokoh Agama Sedunia dengan tema pemberdayaan kaum muda. Dalam forum itu, para peserta sepakat bahwa generasi muda perlu diberi ruang lebih besar dalam pembangunan masyarakat dan bangsa.

Ia menekankan pentingnya pendidikan yang baik, pembinaan moral dan keagamaan, serta kesempatan bagi anak muda untuk belajar memikul tanggung jawab. Padre Marco juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau AI, perlu disikapi dengan bijak agar tidak disalahgunakan dan merusak tatanan sosial.

Menurut dia, pendampingan dan pendidikan bagi kaum muda menjadi kebutuhan mendesak, sementara para pemimpin agama didorong mengambil langkah nyata di komunitas masing-masing. KTT itu dihadiri sejumlah tokoh penting, termasuk sultan Perak, perdana menteri Malaysia, sekretaris jenderal Liga Muslim Dunia, serta pemimpin agama dari berbagai negara.

Delegasi Indonesia juga hadir melalui perwakilan MPR, Majelis Ulama Indonesia, dan Permabudhi. Kehadiran mereka melengkapi forum lintas agama yang mempertemukan berbagai tokoh untuk membahas peran generasi muda dan kerja sama antarumat.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait