Kekhawatiran Konflik Timur Tengah Dorong Emas Menguat, Dolar AS Justru Tertekan

Author: Redaksi Android62

Harga emas dunia kembali mencatat penguatan pada perdagangan Kamis, didorong pelemahan dolar Amerika Serikat dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah. Kondisi itu membuat minat terhadap aset lindung nilai naik, sementara emas spot tercatat menguat 1,9 persen menjadi US$ 4.629,83 per ons.

Penguatan juga terlihat pada kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni yang naik 1,8 persen ke US$ 4.642,90 per ons. Meski bergerak naik, harga emas masih berada sekitar 0,9 persen di bawah posisi bulanan dan belum sepenuhnya pulih dari tekanan sebelumnya.

Dolar melemah, emas kembali menarik

Salah satu pemicu utama datang dari pelemahan dolar AS terhadap yen Jepang. Saat dolar turun, emas menjadi lebih terjangkau bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga minat terhadap logam mulia itu ikut terdorong.

Pergerakan ini juga memperbaiki sentimen pasar setelah emas sempat tertekan pada sesi sebelumnya. Arah dolar tetap menjadi faktor penting karena perubahan kecil pada mata uang tersebut bisa langsung memengaruhi daya tarik emas di pasar global.

Risiko Timur Tengah mendorong pembelian aset aman

Di saat yang sama, investor kembali mencermati risiko geopolitik yang belum mereda di Timur Tengah. Kekhawatiran atas potensi eskalasi konflik AS-Iran membuat pasar lebih berhati-hati dan mendorong arus dana ke aset aman, termasuk emas.

Analis independen Ross Norman menilai pasar mulai melihat peluang pemulihan harga emas di tengah ketidakpastian yang meningkat. Ia juga melihat ada tanda-tanda emas mulai menemukan titik dasar sementara ketika sentimen geopolitik memburuk.

Laporan sebelumnya menyebut Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menerima pengarahan terkait rencana serangan militer terhadap Iran. Informasi itu menambah kehati-hatian pasar karena dinilai dapat membuka ruang ketegangan yang lebih luas.

Tekanan bulanan belum hilang

Walau sempat menguat pada perdagangan Kamis, emas masih belum keluar dari tekanan yang lebih besar dalam beberapa waktu terakhir. Logam mulia itu disebut sempat turun sekitar 12 persen sejak konflik dimulai, seiring berubahnya ekspektasi pasar terhadap inflasi dan suku bunga.

Kenaikan harga energi ikut memunculkan kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi, sehingga pasar menilai suku bunga bisa bertahan lebih lama di level tinggi. Dalam situasi seperti itu, emas cenderung kurang diuntungkan karena tidak memberikan imbal hasil.

Analis komoditas WisdomTree, Nitesh Shah, menilai pergerakan emas saat ini mulai sejalan dengan pola umum ketika risiko geopolitik meningkat. Ia mengatakan emas biasanya menguat ketika pasar melihat kemungkinan eskalasi konflik yang lebih besar.

Logam mulia lain ikut terdorong

Penguatan tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak naik 2,9 persen menjadi US$ 73,57 per ons, platinum naik 4,1 persen ke US$ 1.955,70, dan paladium naik 2,2 persen menjadi US$ 1.490,36 per ons.

Namun, ketiganya masih berada dalam tren penurunan bulanan untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Pergerakan ini menunjukkan pasar logam mulia masih sangat sensitif terhadap arah dolar, prospek suku bunga, dan perkembangan konflik geopolitik yang terus dipantau investor.

Source: www.beritasatu.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru