Keladi menyimpan kristal kalsium oksalat yang dapat memicu iritasi pada kulit, mulut, bibir, dan tenggorokan. Saat terkena atau tidak sengaja tertelan, bentuk kristal yang menyerupai jarum halus itu bisa menimbulkan rasa perih, gatal, hingga panas.
Pada hewan peliharaan, efeknya juga dapat memunculkan air liur berlebih, kesulitan menelan, serta iritasi pada mulut. Karena itu, keladi kerap disebut tanaman “beracun”, meski istilah yang lebih tepat adalah dapat menyebabkan iritasi, bukan racun mematikan.
Perawatan perlu lebih hati-hati
Keberadaan anak kecil dan hewan peliharaan di rumah membuat kehati-hatian saat merawat keladi menjadi penting. Kontak langsung dengan getah tanaman sebaiknya dihindari agar risiko iritasi bisa ditekan.
Di sisi lain, keladi tetap menarik perhatian karena tampilannya yang mencolok. Tanaman ini mudah dikenali lewat daun lebar dengan corak warna yang beragam, sehingga sering dipilih untuk mempercantik pekarangan, taman, dan koleksi tanaman di rumah.
Bisa tampak seperti sedang mati
Keladi memiliki siklus hidup yang unik karena dapat masuk ke fase dormansi atau “tidur”. Pada fase ini, pertumbuhan daun berhenti sementara dan tanaman bisa tampak layu, bahkan menghilang dari permukaan tanah.
Kondisi tersebut biasanya muncul ketika lingkungan tidak mendukung, seperti suhu yang berubah, cahaya yang kurang, atau keadaan yang terlalu kering. Meski terlihat seperti mati, bagian umbi keladi tetap hidup di dalam tanah dan menyimpan cadangan energi untuk tumbuh lagi ketika kondisi membaik.
Fase dormansi membuat keladi berbeda dari banyak tanaman hias lain yang tampak stabil sepanjang waktu. Tanaman ini justru menunjukkan bahwa berhenti tumbuh sementara adalah bagian normal dari siklus hidupnya.
Satu keluarga dengan talas
Keladi masih satu keluarga dengan talas karena keduanya sama-sama masuk kelompok tanaman Araceae. Kelompok ini memiliki ciri umum berupa daun lebar dan tumbuh dari umbi di dalam tanah.
Kemiripan itu membuat keladi dan talas kerap disamakan oleh sebagian orang. Namun, keduanya tetap punya perbedaan yang jelas karena talas lebih dikenal sebagai tanaman pangan, sedangkan keladi lebih banyak dibudidayakan sebagai tanaman hias.
Selain itu, tidak semua jenis keladi aman untuk dikonsumsi. Fakta ini penting karena tampilan yang mirip dengan talas tidak otomatis berarti keladi bisa diperlakukan sebagai tanaman pangan.
Tumbuh baik di iklim tropis
Keladi berasal dari daerah beriklim tropis dan secara alami tumbuh di lingkungan yang hangat serta lembap. Tanaman ini tidak menyukai kondisi yang terlalu kering atau dingin karena dapat menghambat pertumbuhannya.
Itulah sebabnya keladi mudah ditemukan dan tumbuh baik di wilayah tropis seperti Indonesia. Dalam kondisi ideal, tanaman ini menyukai tempat teduh dengan kelembapan udara yang cukup tinggi.
Sinar matahari tetap dibutuhkan, tetapi tidak secara langsung dan berlebihan karena dapat merusak daunnya. Kombinasi suhu hangat, tanah yang lembap, dan cahaya tidak langsung menjadi kunci agar keladi bisa tumbuh subur.
Punya banyak julukan di berbagai tempat
Keladi juga memiliki beberapa nama lain yang dipakai di berbagai belahan dunia. Salah satu julukan paling populer adalah angel wings atau sayap malaikat, yang merujuk pada bentuk daunnya yang lebar, anggun, dan menyerupai sayap.
Di beberapa daerah Asia, keladi juga dikenal dengan sebutan yang menekankan kesamaannya dengan talas, seperti colored taro atau nama lokal lain yang menggambarkan warna-warni tampilannya. Banyaknya julukan ini menunjukkan bahwa keladi bukan sekadar tanaman hias biasa, tetapi juga sudah dikenal luas dalam beragam konteks budaya dan pengetahuan tanaman.
Dengan tampilan mencolok, kemampuan dormansi, sifat getah yang perlu diwaspadai, serta kedekatannya dengan talas, keladi punya daya tarik yang datang dari banyak sisi. Tanaman ini menunjukkan bahwa keindahan tanaman hias sering kali juga disertai karakter biologis yang unik dan tidak kalah menarik untuk dipahami.
Source: www.idntimes.com






