Kelangkaan RAM diperkirakan belum akan cepat reda, meski DDR4 mulai kembali diproduksi. Sejumlah sumber industri memperkirakan tekanan pasokan DRAM dan NAND masih akan terasa setidaknya sampai paling cepat 2028.
Kondisi itu membuat pasar konsumen tetap berada dalam posisi sulit. Saat kapasitas produksi lebih banyak tersedot untuk kebutuhan pusat data AI, komponen yang biasa dipakai perangkat harian ikut ikut terdorong mahal dan pasokannya tidak stabil.
DDR4 kembali masuk prioritas
Di ajang Computex 2026, beberapa perusahaan perangkat keras disebut mulai menata ulang lini produksinya agar bisa kembali membuat memori DDR4 dan motherboard yang kompatibel. Langkah ini muncul karena permintaan terhadap komponen yang lebih terjangkau kembali menguat.
Tom’s Hardware melaporkan bahwa salah satu produsen motherboard anonim menyebut produksi DDR4 akan dinaikkan setelah penjualan melonjak dua digit pada kuartal terakhir. Produsen lain bahkan mengatakan penjualan motherboard mengalami “collapse”, sehingga lini lama itu dinilai perlu dihidupkan kembali.
Produksi ada, tapi pasokan belum tentu longgar
Masalah utama bukan pada kemampuan industri untuk membuat DDR4. Banyak produsen sebenarnya masih bisa memproduksinya, tetapi kapasitas itu sudah lama dialihkan ke produk lain yang dianggap lebih menguntungkan.
Karena itu, pengalihan kembali ke DDR4 tidak bisa dilakukan dalam semalam. Salah satu perusahaan memperkirakan produksi baru bisa digenjot pada paruh kedua 2026, sedangkan stok yang benar-benar memadai di toko mungkin baru terlihat paling cepat pada 2027.
Bagi konsumen, artinya harga RAM belum otomatis turun hanya karena produksi ulang dimulai. Ketersediaan juga belum tentu membaik cepat, meski DDR4 kembali diprioritaskan oleh sebagian pabrikan.
Biaya lebih murah, tetapi rantai pasok tetap menekan
Dari sisi bisnis, DDR4 tetap menarik karena lebih mudah diproduksi dan dikemas dibanding DDR5. Kondisi itu memberi produsen ruang untuk menekan biaya, lalu berpotensi meneruskan penghematan tersebut ke pembeli.
Namun, ruang itu tetap dibatasi oleh rantai pasok. Hambatan terbesar ada pada wafer silikon yang juga dibutuhkan untuk DDR5 dan kebutuhan data center, sehingga lini DDR4 yang baru dihidupkan bisa kembali terganggu bila permintaan lain tetap tinggi.
Jika wafer terus terserap untuk DDR5 dan pusat data AI, chip DDR4 bisa tetap sulit didapat meski motherboard DDR4 mulai lebih mudah ditemukan. Artinya, perangkat pendukungnya mungkin hadir lebih dulu daripada memorinya.
DDR4 dan DDR5 bergerak ke arah yang berbeda
Peralihan industri dari DDR4 ke DDR5 juga punya alasan teknis yang jelas. DDR5 menawarkan bandwidth memori yang jauh lebih besar, konsumsi daya yang lebih efisien, dan kapasitas gigabyte yang lebih tinggi per modul.
DDR4 memang lebih murah, tetapi pengguna perlu lebih banyak chip untuk menandingi kemampuan satu chip DDR5. Itu membuat pilihan hemat tidak selalu menjadi opsi paling efisien untuk pemakaian jangka panjang.
Kelangkaan tidak berhenti di satu jenis RAM
Situasi ini memperlihatkan bahwa masalah pasar memori tidak hanya soal DDR4. Tom’s Hardware mencatat hampir semua sumber yang dihubungi sepakat bahwa kelangkaan DRAM dan NAND masih akan terasa sampai paling cepat 2028.
Karena itu, fokus industri kini bukan sekadar menghidupkan kembali DDR4 atau mempercepat DDR5. Yang lebih penting adalah apakah RAM apa pun masih bisa dipasok dengan stabil di tengah kebutuhan data center AI yang terus menyerap kapasitas produksi.
