Kelas Lama Mulai Tergeser, Sekolah AI Ini Diburu Keluarga Kaya Amerika

Keluarga kaya di Amerika Serikat makin serius mencari sekolah yang tidak hanya mengajarkan pelajaran akademik, tetapi juga menyiapkan anak menghadapi dunia kerja yang berubah cepat akibat AI. Di tengah kekhawatiran itu, sekolah formal mulai kehilangan status sebagai satu-satunya pilihan utama.

Model pendidikan baru ini menawarkan perpaduan kecerdasan buatan, pembelajaran berbasis proyek, dan latihan keterampilan hidup seperti negosiasi, berbicara di depan umum, serta membangun bisnis. Bagi sebagian orang tua, pendekatan tersebut dinilai lebih relevan daripada pola sekolah tradisional yang dianggap kurang lincah membaca perubahan zaman.

Sekolah AI yang menjadi incaran

Salah satu yang paling banyak menarik perhatian adalah Alpha School di Austin, Texas. Sekolah yang berdiri sekitar 12 tahun lalu itu menggabungkan dua jam pembelajaran berbasis AI setiap hari dengan lokakarya proyek secara langsung.

Di sekolah ini, platform AI mencatat interaksi setiap siswa, termasuk tingkat fokus saat belajar. Data itu lalu dipakai untuk menyesuaikan kurikulum pada hari-hari berikutnya agar pembelajaran terasa lebih personal.

Biaya pendidikan di Alpha School juga mencerminkan segmen pasarnya. Di San Francisco, uang sekolahnya mencapai US$75.000 per tahun, atau sekitar Rp1,2 miliar dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS.

Alpha School ikut mendapat sorotan karena didukung sejumlah tokoh ternama, termasuk miliarder Bill Ackman. Dukungan nama besar itu ikut memperkuat posisi sekolah ini sebagai salah satu wajah paling menonjol dari model pendidikan berbasis AI.

Forge Prep membawa pendekatan serupa

Di New Jersey, Forge Prep juga ikut masuk peta pendidikan baru yang sedang naik daun. Sekolah ini menerima sekitar 600 pendaftar untuk tahun ajaran pertamanya, padahal kursi yang tersedia hanya 34 untuk siswa kelas 5 sampai kelas 8.

Pendiri Forge Prep, Anand Sanwal, menilai pendekatan tersebut akan menjadi masa depan pendidikan. Ia mengatakan sekolahnya akan berkembang hingga jenjang kelas 12 dengan sekitar 400 siswa, dan lulusan yang memilih membangun perusahaan bisa berpeluang memperoleh investasi awal hingga US$200.000 dari Forge.

Biaya sekolah angkatan pertama berada di kisaran US$24.000-36.000 per tahun. Sekitar 30% siswa menerima bantuan keuangan, sementara biaya sekolah akan naik menjadi US$60.000 per tahun pada tahun depan.

Sanwal juga menegaskan bahwa sekolahnya tetap membatasi penggunaan teknologi. Ponsel dilarang di lingkungan sekolah dan penggunaan Chromebook juga dibatasi, karena AI dipakai untuk membantu siswa menciptakan sesuatu, bukan sekadar mengonsumsi informasi.

Alasan para orang tua mengambil langkah ini

Ankur Jain, presiden hedge fund di New Jersey, termasuk orang tua yang memilih jalur tersebut. Anak laki-lakinya yang berusia 11 tahun sebenarnya berprestasi dan nyaman di sekolah negeri, tetapi Jain memindahkannya ke Forge Prep.

Jain menilai kemampuan seperti negosiasi, penjualan, dan public speaking sangat penting untuk masa depan. Ia bahkan menyebut dirinya baru mempelajari keterampilan itu saat berusia 20-an tahun, sehingga ingin anaknya lebih cepat mendapat bekal serupa.

Shaun Johnson, seorang investor modal ventura asal San Francisco, juga mengambil keputusan serupa setelah tidak puas dengan sekolah negeri yang didapat lewat sistem undian. Menurut dia, pendidikan perlu dirombak karena dunia kerja akan berubah akibat AI.

Johnson menekankan bahwa AI di sekolah itu bukan sekadar ikut tren. Ia melihat teknologi tersebut dipakai untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih personal dan lebih sesuai dengan kebutuhan tiap siswa.

Kritik tetap mengiringi popularitasnya

Meski menarik minat banyak keluarga kaya, model pendidikan ini tidak lepas dari kritik. Caroline Hoxby, profesor pendidikan dari Stanford University, menilai pembelajaran berbasis proyek sebenarnya bukan hal baru, sementara pembeda utamanya saat ini adalah integrasi AI ke dalam proses belajar.

Hoxby juga mengingatkan bahwa efektivitas model seperti ini belum memiliki bukti ilmiah yang kuat. Ia menolak mendukung model pendidikan apa pun yang belum didukung bukti empiris memadai.

Victor Lee, profesor pendidikan Stanford lainnya, menyoroti penggunaan istilah “guide” sebagai pengganti guru. Menurut dia, istilah tersebut berpotensi mengurangi penghargaan terhadap keahlian dan profesionalisme pendidik.

Di sisi lain, para pendukungnya meyakini dunia berubah terlalu cepat untuk tetap bertahan pada pola sekolah lama. Bagi mereka, sekolah AI bukan sekadar alternatif, melainkan jawaban atas kebutuhan baru di tengah perubahan besar pasar kerja.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terkait