Kelas Menengah Indonesia Makin Menyusut, Angka Ekonomi Tak Lagi Sejalan dengan Daya Beli

Author: Redaksi Android62

Penyusutan kelas menengah menjadi sinyal paling kuat dari kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Di atas kertas, pertumbuhan ekonomi masih terlihat kokoh, tetapi banyak rumah tangga justru bergerak ke kelompok yang lebih rentan.

Data dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report 2027 menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak otomatis diikuti oleh penguatan daya beli. Karena itu, peta sosial-ekonomi masyarakat menjadi semakin penting untuk dibaca bersama angka-angka makro.

Kelas menengah terus tergerus

Mandiri Institute mencatat jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia turun 1,2 juta dibanding tahun sebelumnya. Dalam periode 2019-2025, kelompok kelas menengah menyusut lebih dari 11 juta orang.

Pada saat yang sama, Upper Aspiring Middle Class cenderung stagnan dan masih berada di bawah ambang batas kelas menengah. Sementara itu, kelompok aspiring middle class justru membesar dari 137,5 juta orang menjadi 142 juta orang pada 2025.

Perubahan ini memperlihatkan semakin banyak warga berada di batas tipis antara aman dan rentan. Posisi tersebut membuat mereka belum sepenuhnya masuk kelas menengah, tetapi juga belum jatuh ke kelompok yang lebih lemah.

Zona rentan masih sangat besar

Komposisi penduduk memperlihatkan tekanan yang tidak kecil di lapisan bawah. Kelompok rentan miskin naik dari 67,7 juta pada 2024 menjadi 67,9 juta orang pada 2025.

Di sisi lain, kelompok miskin turun dari 25,2 juta menjadi 23,9 juta, sedangkan kelas atas hanya 0,4 persen dari total populasi atau sekitar 1,2 juta orang. Artinya, porsi terbesar penduduk masih berada di lapisan non-penggerak ekonomi utama.

Proporsi aspiring middle class dan vulnerable juga jauh lebih besar dibanding kelas menengah dan atas. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum tersebar merata ke seluruh kelompok pendapatan.

Risiko turun kelas tetap membayangi

Ombudsman menyoroti bahwa masyarakat di kelompok aspiring middle class berada dalam posisi yang rentan jatuh ke kategori poor. Risiko itu datang dari PHK, keterbatasan perlindungan hak-hak dasar pekerja, dan sempitnya peluang kerja di tengah pesatnya AI.

Tekanan lain datang dari akses pinjaman online yang makin mudah. Bagi masyarakat dengan literasi finansial yang rendah, kemudahan berutang dapat menyeret rumah tangga masuk ke siklus utang yang sulit diputus.

Angka makro masih positif

Di tengah penyusutan kelas menengah, pemerintah tetap menekankan penguatan fondasi domestik sebagai basis ekonomi. Dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menyebut laporan sejumlah kepala daerah menunjukkan kemiskinan dan pengangguran terbuka mulai menurun.

BPS mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Konsumsi rumah tangga juga menguat menjadi 5,52 persen year on year, naik dari 4,98 persen sepanjang 2025.

Daya beli bergeser ke kebutuhan yang tak bisa ditunda

Meski konsumsi per kapita naik 4,3 persen, pola belanja menunjukkan tekanan yang nyata. Uang masyarakat kini lebih banyak terserap untuk kebutuhan yang tidak bisa ditunda, seperti kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari.

Perubahan ini memperlihatkan bahwa kenaikan angka konsumsi belum tentu berarti ruang fiskal rumah tangga makin longgar. Banyak warga justru menjaga pengeluaran agar tidak turun satu lapis lagi dalam struktur ekonomi.

Karena itu, pertumbuhan ekonomi dan penyusutan kelas menengah perlu dibaca bersamaan. Angka makro menunjukkan ketahanan ekonomi secara umum, tetapi distribusi pendapatan dan pengeluaran memperlihatkan betapa rapuhnya posisi banyak rumah tangga saat ini.

Source: www.idntimes.com
Berita Terbaru