Keluhan Sederhana Yang Sering Diabaikan, Bisa Jadi Sinyal Distress Mental Mahasiswa

Keluhan “capek” pada mahasiswa tidak selalu berhenti sebagai ucapan ringan. Dalam kondisi tekanan yang menumpuk, kata sederhana itu bisa menjadi tanda distress mental yang perlu dibaca lebih serius.

Hal ini sejalan dengan penjelasan peneliti sekaligus founder Health Collaborative Center, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK., FRSPH, yang menyoroti bahwa rasa lelah, malas, dan hilangnya dorongan untuk bergerak tidak otomatis bisa dianggap sebagai hal wajar. Ia melihat banyak mahasiswa berada dalam posisi bertahan, bukan berkembang, karena tekanan akademik, ketidakpastian masa depan, tekanan media sosial, dan kebiasaan memikul beban sendiri.

Keluhan yang sering baru disadari saat aktivitas terganggu

Banyak mahasiswa terbiasa menyembunyikan kondisi emosional agar terlihat baik-baik saja. Akibatnya, rasa lelah mental sering baru terasa jelas ketika sudah mulai mengganggu kegiatan harian.

Dr. Ray menilai ekspresi yang terdengar sederhana seperti “capek” atau “malas” bisa mencerminkan beban psikologis yang lebih berat. Saat keluhan itu muncul terus-menerus, tubuh dan pikiran perlu dibaca sebagai sedang kewalahan.

Tekanan akademik bukan satu-satunya sumber beban

Di lingkungan kampus, tekanan akademik memang sering menjadi pemicu utama. Namun, beban mahasiswa tidak berhenti di ruang kelas atau tugas kuliah.

Mereka juga berhadapan dengan tuntutan sosial, dorongan untuk selalu produktif, serta kecemasan tentang masa depan. Dalam situasi seperti ini, banyak mahasiswa memilih menanggung semuanya sendiri, dan kebiasaan memendam masalah justru dapat memperburuk stres yang sudah menumpuk.

Coping mechanism dan healing punya makna berbeda

Saat tekanan mulai terasa berat, mahasiswa kerap disarankan melakukan coping mechanism. Menurut Dr. Ray, coping mechanism adalah cara menghadapi stres dalam keseharian, dan bentuknya bisa sangat sederhana.

Olahraga, jurnaling, atau berbicara dengan teman termasuk langkah yang bisa membantu meredakan tekanan pada saat tertentu. Cara ini juga dapat membuat seseorang lebih siap menjalani aktivitas berikutnya.

Healing berbeda dari coping karena menyangkut proses pemulihan yang lebih dalam. Dr. Ray menjelaskan bahwa healing berkaitan dengan pemulihan luka psikologis, membutuhkan waktu, dan pada beberapa kondisi perlu diagnostik agar penanganannya tepat.

Healing juga tidak selalu berarti pergi ke tempat tertentu. Tidur yang cukup atau berbicara dengan orang lain pun dapat menjadi bagian dari proses pemulihan jika tujuannya memang untuk merawat kondisi diri.

Tanda yang tidak cukup ditangani dengan istirahat

Ada keadaan yang memerlukan bantuan lebih dari sekadar istirahat atau dukungan teman. Dr. Ray menyebut bantuan profesional perlu dicari ketika rasa sedih tidak kunjung hilang, sulit mengikuti proses perkuliahan, tidur terganggu, menarik diri, panik berulang, atau muncul keinginan menyakiti diri sendiri.

Dalam situasi seperti itu, pertolongan dari tenaga profesional penting agar kondisi tidak makin memburuk. Dr. Ray menegaskan bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kesadaran untuk merawat diri secara serius.

Kampus didorong lebih peka terhadap kesehatan mental

Perhatian terhadap kesehatan mental mahasiswa juga mengemuka dalam kegiatan yang digelar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia bersama ILUNI FIB UI. Keduanya menyelenggarakan Seri Kuliah Umum Alumni FIB UI (KUALI #2) bertajuk “Membangun Kesadaran Kesehatan Mental Mahasiswa dalam Perspektif Humaniora di Era Modern”.

Dekan FIB UI, Dr Untung Yuwono, menekankan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya melahirkan lulusan cerdas. Kampus juga perlu membentuk manusia yang tangguh, berempati, dan sehat secara psikologis.

Ia menilai fakultas humaniora memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk membaca persoalan kesehatan mental secara lebih utuh. Karena itu, kampus didorong menjadi ruang belajar yang aman secara emosional, sehat secara mental, dan kuat secara intelektual.

Di tengah tekanan yang makin kompleks, keluhan “capek” pada mahasiswa layak dipandang lebih hati-hati. Jika muncul berulang, disertai perubahan perilaku, atau sampai mengganggu aktivitas harian, sinyal itu perlu diperhatikan agar dukungan yang tepat bisa diberikan lebih cepat.

Source: www.suara.com

Berita Terkait