Kemasan Cangkang Udang Ini Bikin Buah Dan Sayur Lebih Awet, Terurai Dalam Hitungan Minggu

Author: Redaksi Android62

Bahan kemasan baru berbasis hasil laut ini menarik perhatian karena mampu menjaga buah dan sayuran tetap segar lebih lama, lalu terurai dalam hitungan minggu. Dalam pengujian, produce yang dibungkus material itu disebut bertahan sekitar dua kali lebih lama dibandingkan produce yang hanya ditutup cling film plastik biasa.

Performa itu membuatnya dipandang sebagai calon pengganti serius untuk plastik sekali pakai di kemasan produk segar. Tim peneliti dari University of Maryland menyebut bahan biodegradable ini berpeluang mulai masuk kemasan komersial pada akhir tahun.

Yang membuatnya menonjol bukan hanya soal daya tahan produk. Material ini juga dirancang agar tetap kuat untuk kebutuhan penyimpanan dan pengiriman, tetapi tidak meninggalkan limbah yang bertahan sangat lama seperti plastik konvensional.

Dibangun dari bahan alami dan bantuan kecerdasan buatan

Pengembangan kemasan ini memadukan kecerdasan buatan, pembelajaran mesin, robotik, serta bahan alami seperti selulosa dan chitosan. Chitosan sendiri berasal dari cangkang udang dan kepiting, dan dipilih sebagai bagian dari upaya mencari formula pengganti plastik yang tetap fungsional.

Project lead Dr. Po-Yen Chen menjelaskan bahwa kecerdasan buatan membantu memangkas proses yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun menjadi sekitar tiga bulan. Sistem tersebut dipakai untuk menyaring banyak kombinasi material dengan cepat sampai tim menemukan formula yang dianggap cocok.

Biomolecular engineer Dr. Abhishek Sose mengatakan timnya telah menemukan material yang dicari dan berharap bisa segera melihatnya hadir di pasar. Chen juga menyebut tim sudah bekerja sama dengan mitra industri agar material itu dapat mulai terlihat di beberapa saluran distribusi, terutama untuk kemasan produk segar, pada akhir tahun.

Tahan tuntutan kemasan makanan sehari-hari

Kemasan makanan tidak hanya harus menjaga isi tetap aman, tetapi juga mesti tahan air, minyak, dan lemak. Di saat yang sama, bahan itu harus cukup kuat untuk menghadapi pengiriman dan penyimpanan.

Menurut tim peneliti, material baru ini mampu memenuhi kebutuhan tersebut dalam pengujian. Karena itu, bahan ini dianggap punya peluang lebih besar untuk dipakai pada kemasan produk segar dibanding banyak alternatif ramah lingkungan lain yang belum mampu menyamai kinerja plastik.

Manfaatnya juga terasa langsung di sisi konsumen. Jika buah dan sayuran bertahan lebih lama, risiko makanan terbuang di rumah maupun di toko bisa berkurang.

Alasan plastik terus dicari penggantinya

Sorotan terhadap bahan baru ini juga muncul karena masalah plastik konvensional yang sulit terurai. Plastik bisa bertahan selama ratusan tahun dan perlahan pecah menjadi mikroplastik.

Partikel kecil itu telah ditemukan di tanah, air, makanan, hingga tubuh manusia. Para ilmuwan masih terus mempelajari dampaknya terhadap kesehatan secara menyeluruh.

Di titik inilah kemasan makanan menjadi penting sebagai langkah awal pengurangan sampah plastik. Jika bahan baru ini diproduksi dalam skala luas, dampaknya bisa mencakup penurunan limbah plastik, berkurangnya paparan polusi plastik yang menetap, dan menekan limbah makanan.

Sose menyebut plastik sebagai “a design problem” karena sering dipakai hanya beberapa menit, tetapi bertahan selama berabad-abad. Ia juga mengatakan material baru ini berpotensi jauh lebih murah dibanding banyak pilihan ramah lingkungan yang sudah ada.

Potensi untuk pasar dan rumah tangga

Bagi rumah tangga, kombinasi antara masa simpan yang lebih panjang dan kemasan yang lebih ramah lingkungan bisa memberi keuntungan ganda. Belanja menjadi lebih efisien, sementara sayur dan buah tidak cepat rusak sebelum sempat dikonsumsi.

Meski begitu, tantangan untuk mengganti plastik tetap besar. Para peneliti selama ini mencari bahan yang murah, efektif, dan cepat terurai, tetapi sangat sedikit yang mampu menyamai plastik konvensional sekaligus memperpanjang kesegaran produk.

Dorongan pribadi di balik riset ini juga datang dari pengalaman Chen saat menyelam di Palau. Ia melihat seekor penyu laut mencoba memakan kantong plastik yang mengapung, dan pengalaman itu disebut sangat mengejutkannya.

Berita Terbaru