Kenya Siap Menangkap Peluang Tarif Nol Cina, Defisit Dagang Afrika Justru Makin Dalam

Peluang baru terbuka bagi produsen Afrika setelah Cina menghapus tarif impor untuk produk dari negara-negara berpendapatan menengah di benua itu. Kebijakan bebas bea ini berlaku selama dua tahun dan langsung menarik perhatian karena memberi ruang lebih besar bagi ekspor Afrika ke pasar Cina yang sangat besar.

Perubahan itu datang ketika neraca dagang kedua kawasan justru makin timpang. Total perdagangan barang Cina dan Afrika pada 2025 mencapai rekor 348 miliar dolar AS, tetapi defisit perdagangan Afrika melebar menjadi 102 miliar dolar AS dari 62 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya.

Bagi Kenya, kebijakan tersebut membawa sinyal yang sangat konkret. Pengiriman pertama alpukat asal Kenya menjadi salah satu penanda awal pembukaan akses pasar baru itu, sementara sejumlah pelaku usaha pertanian melihat kesempatan yang lebih luas untuk menembus konsumen Cina.

Olivé Gichuri, petani kopi asal Kenya, menilai akses pasar yang lebih terbuka bisa meningkatkan pendapatan petani karena produk mereka menjadi lebih kompetitif. Ia juga menilai petani tidak lagi harus bergantung pada pasar lokal Kenya semata untuk menjual hasil panen.

Sektor pertanian Kenya bergerak cepat

Kenya termasuk negara yang relatif siap memanfaatkan ruang baru ini. Sebanyak 98,2 persen akses pasar bebas bea sudah diperoleh melalui Early Harvest Agreement, sehingga Kenya punya landasan yang kuat untuk mendorong ekspor.

Dengan standar pertanian dan jaringan ekspor yang sudah terbentuk, Kenya dinilai berpeluang memperbesar pengiriman teh, kopi, dan buah segar. Frederik Gathuma, petani Kenya, melihat populasi dan tingkat konsumsi Cina sebagai pasar yang sangat besar untuk kopi.

Gathuma juga menilai manfaat kebijakan ini tidak berhenti pada eksportir. Menurut dia, pekerja di industri kopi ikut berpotensi merasakan dampaknya jika volume perdagangan meningkat.

Meski begitu, arus barang dari Cina ke Kenya masih jauh lebih besar. Data UN COMTRADE menunjukkan impor Kenya dari Cina mencapai 4,31 miliar dolar AS pada 2024.

Peluang besar, tetapi tidak merata

Secara keseluruhan, ekspor Afrika ke Cina pada 2025 bernilai 123 miliar dolar AS dan masih didominasi minyak serta mineral. Di sisi lain, impor Afrika dari Cina mencapai 225 miliar dolar AS, dengan dorongan besar dari kebutuhan teknologi hijau seperti kendaraan listrik dan panel surya.

Lauren Johnston, peneliti senior sekaligus ekonom internasional di AustCina Institute di Melbourne, menilai skema nol tarif ini lebih menguntungkan ekonomi Afrika yang lebih kuat. Menurut dia, negara berpendapatan menengah berada dalam posisi yang lebih baik untuk meningkatkan ekspor dibanding negara yang ekonominya lebih lemah.

Johnston juga melihat kebijakan ini bisa mendorong perdagangan intra-Afrika. Ia menilai negara seperti Afrika Selatan, Nigeria, Kenya, Etiopia, dan Mesir lebih siap memanfaatkan peluang tersebut dibanding negara berpenghasilan rendah.

Tantangan di luar pintu pasar

Tidak semua negara Afrika memiliki posisi yang sama untuk memanfaatkan kebijakan baru itu. Mali dan Niger, misalnya, menghadapi biaya logistik tinggi untuk mencapai pelabuhan dan juga tidak memiliki industri skala besar yang mampu memenuhi volume kebutuhan Cina.

Peringatan serupa datang dari Ghana. Adu Owusu Sarkodie, ekonom dan dosen senior Universitas Ghana, mengatakan harga ekspor Afrika masih rendah karena banyak negara belum menambah nilai pada komoditas mereka.

Ghana sendiri membukukan rekor perdagangan 14,1 miliar dolar AS dengan Cina pada 2025 melalui kakao. Sarkodie menilai nilai tambah sangat penting agar ekspor bisa menghasilkan harga lebih tinggi, pendapatan lebih tinggi, dan membantu menekan kemiskinan.

Logistik, standar, dan pembiayaan masih menentukan

Erick Rutto, presiden Kamar Dagang Nasional Kenya, menegaskan pentingnya pelatihan bagi eksportir agar produk Afrika bisa lolos standar bea cukai Cina. Pelatihan itu mencakup kepatuhan fitosanitasi, akses pasar, dan penentuan harga komoditas yang tepat.

Di sisi pengiriman, rute Afrika-Cina masih banyak bergantung pada pelabuhan Dubai atau Singapura. Karena itu, investasi Cina pada jalur pelayaran langsung dinilai penting agar biaya dan waktu pengiriman lebih efisien.

Cina juga tetap menjadi mitra pembiayaan yang menarik bagi banyak pelaku usaha Afrika. Pengusaha Afrika Aliko Dangote menyebut skema pembiayaan Cina lebih fleksibel untuk proyek besar, termasuk pembangkit listrik, karena menawarkan pembiayaan bertahap selama beberapa tahun.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer