Kepercayaan pasien kini dinilai menjadi persoalan paling mendesak dalam layanan jantung Indonesia, melampaui isu kemampuan dokter semata. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia atau PERKI menempatkan pengawasan etik sebagai salah satu langkah untuk memperkuat kembali keyakinan masyarakat terhadap sistem kesehatan.
Kardiolog senior sekaligus Ketua Dewan Etik PERKI, Muhammad Munawar, Sp.JP(K), menegaskan bahwa persoalan utama saat ini adalah trust. “Yang paling penting adalah masalah trust, isu utamanya trust. Kita harus percaya sama dokter kita,” katanya.
Penekanan pada etika muncul di tengah masih banyaknya pasien Indonesia yang memilih menjalani pengobatan ke luar negeri. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa mutu layanan tidak hanya diukur dari kemampuan klinis, tetapi juga dari pengalaman pasien saat berinteraksi dengan sistem kesehatan.
PERKI mulai memperketat pengawasan etik terhadap anggotanya agar praktik pelayanan tetap berjalan sesuai standar profesi. Langkah ini berkaitan langsung dengan upaya menjaga hubungan dokter dan pasien yang terbuka, jelas, serta dapat dipertanggungjawabkan.
Pembiayaan dan Teknologi Harus Sejalan
Tantangan layanan jantung juga mencakup pembiayaan dan penerapan teknologi medis baru. Direktur Utama BPJS Kesehatan, dr. dr. Prihati Pujowaskito, Sp.JP(K), FIHA, MMRS, menyebut lembaganya membiayai sekitar dua juta layanan kesehatan setiap hari.
Nilai pembiayaan tersebut mencapai Rp500 miliar per hari. Karena itu, inovasi layanan perlu mempertimbangkan pemerataan akses sekaligus keberlanjutan sistem pembiayaan kesehatan.
Prihati mengingatkan teknologi baru tidak dapat langsung diterapkan dalam skema BPJS Kesehatan tanpa melalui ketentuan yang berlaku. “Teknologi baru itu harus mengikuti prosedur regulasi yang ada. Jadi tidak serta-merta langsung bisa diterapkan di BPJS,” ujarnya.
| Tokoh | Peran | Fokus Utama |
|---|---|---|
| Muhammad Munawar | Ketua Dewan Etik PERKI | Kepercayaan pasien dan pengawasan etik |
| Ade Meidian Ambari | Ketua PP PERKI | Pedoman klinis, edukasi, dan pemerataan |
| Prihati Pujowaskito | Direktur Utama BPJS Kesehatan | Pembiayaan dan regulasi teknologi |
| Renan Sukmawan | Ketua Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia | Kompetensi dan distribusi spesialis |
Kompetensi Dokter dan Akses Daerah
Ketua Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia Renan Sukmawan, Sp.JP(K), PhD, menyatakan kompetensi dokter jantung Indonesia telah disusun setara dengan standar di Eropa dan Amerika Serikat. Tantangan berikutnya adalah memperluas distribusi spesialis dan layanan jantung hingga seluruh kabupaten dan kota.
Pemerataan menjadi bagian penting dari upaya memperbaiki layanan jantung Indonesia. Ketersediaan dokter dan fasilitas di lebih banyak wilayah dapat menentukan seberapa mudah pasien memperoleh pertolongan tanpa harus mencari layanan jauh dari tempat tinggalnya.
Ketua PP PERKI Ade Meidian Ambari, Sp.JP(K), PhD, menyebut organisasi itu terus menyusun pedoman praktik klinis dan memperkuat edukasi masyarakat. Pencegahan penyakit kardiovaskular juga tetap ditempatkan sebagai prioritas dalam pengembangan layanan.
Menurut Ade, komunikasi yang baik antara dokter dan pasien ikut menentukan kuat atau lemahnya kepercayaan masyarakat. Teknologi dan alat medis tidak cukup jika pasien tidak memperoleh penjelasan yang terbuka mengenai kondisi serta pilihan penanganannya.
Forum Ilmiah untuk Pembaruan Layanan
Persoalan kepercayaan, pemerataan, dan pengembangan kompetensi dibahas dalam The 35th Annual Scientific Meeting of Indonesian Heart Association atau ASMIHA 2026 di Jakarta pada 16–19 Juli 2026. Forum ini mengusung tema Beyond Borders: Trust, Training, and the Future of Indonesian Cardiology.
Lebih dari 2.500 tenaga kesehatan dan pakar dari Amerika Serikat, Eropa, China, serta Asia Tenggara hadir dalam pertemuan tersebut. Ketua ASMIHA 2026 dr. Amir Aziz Alkatiri, Sp.JP(K), menyatakan kolaborasi dan pertukaran pengalaman diperlukan agar peningkatan layanan tidak berhenti pada pengembangan teori.
Amir menilai layanan jantung nasional perlu terus membaik dari tahun ke tahun melalui pengalaman dan kerja sama internasional. Bagi PERKI, penguatan kepercayaan pasien, kepatuhan etik, kompetensi dokter, dan pemerataan layanan menjadi pekerjaan yang saling berkaitan.
Source: lifestyle.bisnis.com






