Strategi pendanaan Strategy Inc untuk terus membeli Bitcoin kini berada di bawah tekanan. Kekhawatiran pasar terhadap model tersebut ikut menyeret harga Bitcoin, yang bergerak melemah berkepanjangan di bawah US$60.000.
Yang paling disorot bukan hanya pelemahan harga aset kripto itu sendiri, melainkan rapuhnya kepercayaan terhadap cara perusahaan mengumpulkan dana. Strategy selama ini mengandalkan penerbitan efek sekuritas secara berulang untuk menambah kepemilikan Bitcoin.
STRC menjadi titik rawan baru
Perhatian pasar banyak tertuju pada saham preferen berkode STRC yang sempat dipromosikan sebagai inovasi besar dengan imbal hasil bulanan tinggi. Produk itu dirancang untuk menarik investor ritel dan dibuat agar terasa lebih mudah diterima dibanding instrumen yang terlalu terpapar volatilitas ekstrem.
Masalah mulai muncul ketika harga saham preferen tersebut turun dari harga emisi US$100 menjadi sekitar US$75. Penurunan ini menciptakan kerugian besar di atas kertas bagi investor, sementara imbal hasil sekuritas justru naik karena minat pembeli menurun.
Dalam struktur seperti itu, kemampuan Strategy menghimpun dana baru ikut terganggu. Bila investor enggan membeli sekuritas yang diterbitkan, arus modal untuk membeli Bitcoin juga terhambat.
Risiko struktural makin terlihat
Berbeda dari obligasi tradisional, STRC tidak memiliki tanggal jatuh tempo dan tidak memberi hak kepemilikan aset. Pembayaran dividennya juga bisa ditangguhkan sewaktu-waktu oleh dewan direksi perusahaan.
Struktur tersebut dinilai belum sepenuhnya dipahami investor ritel saat peluncuran. Peringkat kredit B- yang dimiliki perusahaan semakin menegaskan sifat spekulatif dari instrumen itu.
Michael Saylor sebelumnya menggambarkan sekuritas tersebut mirip rekening tabungan berbunga tinggi jika investor memahami Bitcoin. Sekitar 80% dari instrumen ini dibeli oleh investor ritel, sehingga sentimen mereka menjadi faktor penting bagi keberlanjutan model pendanaan.
Pasar mulai menilai ulang kredibilitas Strategy
Bloombergtechnoz melaporkan bahwa kekhawatiran atas gangguan pada sistem pembelian Bitcoin Strategy kini meluas di pasar. Keraguan itu muncul ketika investor kembali menghitung daya tahan sumber pendanaan perusahaan.
Alex Blume, pendiri dan CEO Two Prime, menilai perilaku Strategy yang tidak stabil terus membuat pasar cemas dan mengingatkan pada peristiwa krisis besar lain di pasar. Ia juga mengatakan kenaikan biaya modal kini mengancam salah satu sumber permintaan Bitcoin paling konsisten di dunia.
Andreja Cobeljic, kepala perdagangan derivatif di Amina Bank, mengatakan aksi jual Bitcoin dipicu oleh kelemahan siklus, tetapi pemicunya adalah tergerusnya kredibilitas strategi Strategy. Penilaian itu sejalan dengan kekhawatiran bahwa pasar mulai melihat ulang fondasi pembiayaan perusahaan.
Efek domino ke pasar kripto
Sentimen negatif bertambah setelah Strategy mengumumkan penjualan 32 Bitcoin pada awal Juni. Itu menjadi penjualan pertama sejak 2022, dan meski jumlahnya kecil, langkah tersebut dinilai melanggar komitmen jangka panjang untuk tidak menjual aset.
Dampaknya tidak berhenti di Strategy. Partisipasi ritel menyusut, sementara ETF Bitcoin spot mencatat arus keluar bersih hingga US$3 miliar pada Juni.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan pada satu mesin pendanaan korporasi bisa merembet ke seluruh ekosistem keuangan digital. Selama kepercayaan terhadap model akumulasi Bitcoin berbasis sekuritas belum pulih, pasar masih tampak sensitif terhadap setiap sinyal gangguan dari Strategy.







